<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • "....ada kisah yang belum usai...."

    Akhirnya langkah ini tiba pada sebuah sketsa. Dalam kecamuk, amuk dan peluk. Ada yang terkunci saat ingin membuka segala. Meski cuma lewat kata. Satu hal yang kuyakin; adalah jengahku pasti hadir dalam lembaran ini. Hanya, bacalah! Simaklah! Lalu silahkan saja sinismu terngiang dan kan ada rutuk yang melenggang. Atau paling tidak, pandanglah! Dan jauhkan ia pelan, kelak tak ada perihal yang membayang. Hingga entah kapan kan terhiba kata yang dikurung naifnya keangkuhan...

  • Kuwariskan semua ini hanya untukmu...

    Mahakarya inilah salah satu warisan yang akan kuberikan. Maka kutulis sabda ini untukmu, Anakku. Meski Ayah sendiri sebenarnya tak mengerti di mana bermula maksud ini. Tapi ayah tidak memiliki kemampuan menuliskan isyarat hati. Ayah juga berharap dirimu damai adanya. Sebab doaku telah kurangkumkan pada mega. Ia kan menaungimu dari durja dunia. Dan bagi ayah, beritamu adalah segalanya. Apa yang ayah jalani tidak lagi berarti bila kamu, anakku, tak lagi mengilhami! Kamu adalah anakku, dan anak dari ingatan yang kuwariskan padamu...

  • Merayakan Keberagaman Keberagamaan...

    Setidaknya ada tiga hal yang ingin disampaikan tafsir emansipatoris; Islam Emansipatoris ingin memberikan perspektif baru terhadap teks, Menempatkan manusia sebagai subyek penafsiran keagamaan, Memiliki konsern kepada persoalan kemanusiaan ketimbang pada persoalan teologis. Islam Emansipatoris ingin mengalihkan perhatian agama dari persoalan langit (teosentrisme) menuju persoalan riil yang dihadapi manusia (antroposentrisme). Penekanannya pada aspek praksis, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai ritualisme melainkan pembebasan masyarakat dari segala penindasan!

Twitter
Tampilkan postingan dengan label SHIMPONI HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SHIMPONI HATI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

BANDUNG, AKU UNDUR DIRI....


agustus 1998…

itulah awal jejak langkah kaki memapak kehidupan kota kembang. romantika hidup dan kehidupan telah membawaku pergi untuk menjalani hidup sebagai “anak rantau”. di kota ini kugantungkan harapan dan impian. di kota ini aku membangun konstruk pemikiran. di kota ini aku mulai bersentuhan dengan peradaban modern. di kota ini kutancapkan gelora cinta dan cita, dan di kota ini aku mulai berkarya.



inilah kota keduaku. bandung telah memberiku segalanya. romantika dan dinamisasi hidup, kerasnya pergesekan, dera luka nestapa, juga tawa canda berbalut bahagia. disinilah awal identitas diri kutemukan. disinilah awal perburuan dimulai. disini pula kehampaan dan kebebalan kutemukan.



13 tahun sudah berlalu…

kulalui hidup di kota kembang ini. bangunan pendidikan dan pengarahan pemikiran kutemukan. jati diri dan kebebasan berpikir jadi tauladan. lautan aksi dan demonstrasi telah kujalani. jalan, gang dan pelosok negeri telah kulalui. persaudaraan, pertemanan, dan kesetiakawanan telah kudalami. permusuhan, perbedaan dan perlawanan pernah membara di dada. perselingkuhan, pengkhianatan dan perdebatan pernah berintegrasi di hati.



agustus 2011.

kini semuanya kan jadi kenangan. semuanya bakal jadi bahan cerita di masa tua. aku seja kembali ke kampung halaman. menghabiskan tua bersama sanak keluarga. membangun peradaban dengan pikiran dan tenaga yang tersisa.

wahai kawan, saudara dan handai taulan, maafkan aku! hanya itu! itu saja… aku tak mampu lagi berkata-kata… bandung, aku undur diri… tapi pasti aku kembali lagi!



--------------------------------

cijagra, 01 agustus 2011 M

dalam perjalanan bandung-tasik, jelang pindah tempat kerjaan; menyambut munggahan 1432 H di kampung halaman.

KANGEN...


Isteriku, tanpa terasa tiga tahun sudah kita lalui bahtera rumah tangga. Sepanjang waktu itu, kau selalu setia mendampingiku, meski waktu kebersamaan kita bisa dihitung dengan jari. Kini saat usia pernikahan kita genap tiga tahun, aku kangen kamu! aku kangen semua kebersamaan kita, hari-hari yang penuh kalimat panjang, riuh canda, penuh tautan keinginan untuk selalu bersama, saling berbagi dan mempermainkan waktu sebagai tali yang memintali kekekalan percakapan kita.



aku kangen tawamu, jerit dan marah manjamu. kangen suaramu yang masih disisai kantuk, juga jeda di antara tawa kita yang acap pecah bersama. aku kangen kamu, kangen tawamu, yang begitu menggetarkanku, kangan semua kicaumu, yang meski hanya dua patah kata, tapi selalu mengubah hari-hariku setiap pagi. kangen dengan pertanyaan-pertanyaanmu, yang kadang tak sepenuhnya juga bisa kujawab.



isteriku, aku kangen kamu, kangen semuanya, semuanya.... semua-muanya! kapankah ulangan-ulangan kebersamaan itu bisa menjelma lagi? dan mungkinkah waktu masih memberikan kembali hari-hari terbaik dalam hidup kita itu? aku tahu, kamu akan menjawab, ya! dan jika tidak benar, itu akan menjadi kata terburuk dalam seumur hidupku. Isteriku, tunggu aku pulang, kit ulas kembali kebersamaan kita setelah dua tahun jeda…



------

Cijagra, 29 juli 2011

Jumat, 11 Februari 2011

Dekap Dan Belaiku Untukmu, Anakku…


Anakku… tanpa terasa 12 hari sudah kita lewati hidup bersama dalam satu bangunan keluarga utuh. Mungkin inilah waktu terlama yang sempat kita lalui sepanjang hidup yang kau alami. Esok kau kan kembali ke tanah lahirmu. Sementara ayah mesti melanjutkan perjuangan hidup dengan tenaga dan pikiran yang tersisa. Di tanah yang entah sampai kapan kan tetap berbaik budi padaku.

Kini kau dan Ibumu telah lelap. Sementara Ayah tak ingin melewatkan setiap momen hidupmu tanpa catatan. Itulah salah satunya warisan yang akan kuberikan. Maka kutulis surat ini untukmu, Anakku. Meski Ayah sendiri sebenarnya tak mengerti di mana bermula maksud ini. Tapi ayah tidak memiliki kemampuan menuliskan isyarat hati. Ayah juga berharap dirimu damai adanya. Sebab doaku telah kurangkumkan pada mega. Ia kan menaungimu dari durja dunia. Dan bagi ayah, beritamu adalah segalanya. Apa yang ayah jalani tidak lagi berarti bila kamu, anakku, tak lagi mengilhami. Jangan kuatirkan ayah karena kau tinggalkan, hidup ini singkat, dan sungguh, binar hati ayah menatap langkah. Itu sudah cukup menjelma alasan bagi ayah untuk meludahi kaum kapitalis dan fundamentalis, meski tak menolak jika ada komisi (kelak kau kan mengerti apa peran seorang Kyai!).

Anakku… saat esok kau pulang, ayah tak kurang suatu apa, kecuali seperca sesal tentang waktu yang tiba-tiba berlalu tak terasa. Ayah telah mengerti hitam, putih, abu, kuning, dan merahnya dunia. Tapi ayah terus tak jua mampu mengenalimu utuh seperti semula. Rupanya hidup telah menempamu menjadi tak biasa. Tapi itu pilihanmu, seperti ayah dulu juga memilih ibumu, yang menjadi muasal adamu. Jangan salahkan kota, atau tiap paras yang menghuninya. Kamu adalah anakku, dan anak dari ingatan yang kuwariskan padamu. Terutama ingatan tentang obrolan malam yang kita ucapkan lebih dengan diam. Tatapmu tegar, hatimu jarang bergetar. Dan Ayah tahu itu, sehingga ayah juga tak akan memaksamu kembali, atau sekadar mengirimkan salam yang menyiratkan kangen hati. Apalagi, tentu saja hidupmu kan semakin tumbuh meraja, dan itu membuat hidup tak lagi soal menang-kalah, atau sebatas usangnya cerita kasih saying orang tua. Berdirilah anakku. Matahari pun bersinar sendiri dan kamu lebih dari semua yang hanya purnama.

Kini Ayah sudah mulai tua untuk memulai sapa. Pandangan mulai bias, uban sudah satu dua. Sementara diri dan peristiwa tetaplah itu-itu saja, ketuaan ini telah mengajarkan semua. Pahammu tentang dunia masih terlampau pagi, anakku. Masih banyak yang harus kau tekuni. Masih luas padang yang mesti kau jelajahi. Karena kelak kamu akan mengerti, ikatan kita, jalinan kita, bukan sekadar pautan darah. Kita mungkin sama, sebab tekad mudaku menghuni kepribadianmu. Tekad yang kuwarisi dari kakekmu. Yang mengajarkan bagaimana hidup memang mesti bersyukur. Bukan semata tumbuh dan gugur. Dan ikatan kita lebih dari itu, tapi ayah tak bisa menjelaskan semua padamu, cukup teruslah berjalan, sebab jawaban yang dengan darah kau temukan kan lebih memberimu kepastian. Jika pertemuan kita pada akhirnya banyak dihiasi gugup sangka, sela canda dan keacuhan, itu pasti karena ayah tahu bahwa kini untukmu ayah tak perlu lagi menjelma dewa. Kakimu sudah tegap dan bersahaja, meski kepalmu terkadang buta. Tapi itu sudah mewakili apa yang diinginkan seorang ayah pada anaknya.

Anakku... hidup memang tak semata lelucon dan pantun tawa. Tapi tentu jauh dari sebatas prosa duka dan air mata. Sebab itu ayah mengerti kondisimu, harapanmu, kenakalanmu, dan juga kecengenganmu. Bahwa itu mengecewakanmu, bahkan mungkin menelikung tempuhanmu. Tapi anakku, jangan berpaling dari seperempat jalanmu, apalagi berpaling setelah kamu berhasil membuka separuh pintu. Kamu boleh merasa semu, jemu, dan sedikit ngilu, tapi tidak untuk terus menjadi ragu dan menjelma benalu. Sebab boleh jadi itu rahman Tuhan untukmu.

Kita hidup di dunia yang sinis, anakku. Riwayat hidup seringkali berwajah bengis. Pun bagi retakmu, tak ada dinding yang kan menangis. Begitu juga dengan langkah hidupmu! Bila pengorbanan dan ketegaran takdir mengalahkanmu, itu bukanlah petanda ketakberhargaan adamu. Bisa jadi ia adalah perigi untuk kamu menumpulkan amarah diri. Kamu lebih dari apa yang dipikirkan tentang kamu, anakku. Jangan sia-siakan perjalanmu terseok oleh terjal anggapan orang. Di luar tak ada perang, sebab di dalam kamu telah menang.

Anakku, tameng naluriku, perisai semangatku… Ayah berharap kamu mengerti, semuanya sudah kusampaikan berulangkali. Dan kini tak perlu lagi ada nasehatku yang menemani. Ayah sudah mulai berpikir untuk meminang kemboja, juga mengetuk nisan dan tanah 6 depa. Meski jawaban Dia entah kapan tiba. Tapi ubanku, samarku, kerutku, semua adalah petanda. Apa yang belum termaafkan dari tuturku, egoku, dan keangkuhanku, relakanlah! Abadikan nama ibumu meski kelak kau kan melupakanku. Inilah hidup anakku. Jangan menyesali hari, kelak riwayatmu dalam kukuhnya kan bernyanyi. Dan ayahmu saat itu lewat doa mampu berkata; "Saksikan Tuhan, bukankah semua telah aku sampaikan...".

---
Untukmu Syahda...
Cijagra, 06 Januari 2011 M

Bandung, begitu banyak berubah…


//1//

Aku terbujur lunglai merapatkan tubuh pada dingin. Hawa musim bulan Januari ini telah mengendapkan semua inginku. Tubuh yang beku, pun pikiran yang kelu. Segenap kesah berhamburan, menebari detik-detik diamku dengan pesona kesunyian. Adakah benar bahwa dalam ketidakjelasan, pudarnya segala arah, kita lebih memerlukan kesendirian? Entahlah . . .

Seringai kalut semakin merasuk. Meja-meja lapuk, buku-buku yang terserak, serta denting runut jam pada dinding seolah membawa isyarat yang jauh. Imajiku terus sumpek dengan jejalan kata, meski bibirku terkatup, rapat.

Ingatan masa kecil yang berkelindan dengan impian saat datang juga ikut menelikung perjalanan sunyi ini. Menggerai makna tertelan hampa dan... tersungkur.

Langkah ini selewat tempaan waktu, rupanya hanya menuai syak lesu takdir yang diperkeruh oleh pikirku sendiri. 30 tahun mengartikan jejak hanya berujung pada kenyataan: aku belum juga beranjak dari pulau ini. Aku tak pernah berlayar, melabuhkan derai, menuju rahim-rahim baru tualang keberadaanku. 30 tahun masih di raut yang sama…

Hei, di mana ayat-ayat ab aeterno yang dulu kuikrarkan? Apa yang menahan diri hingga sabda tak pernah mengusaikan?

Sesaat, angin tipis berhembus. Menulusuri lekuk jari yang terkepal. Mata yang kecut, desah yang ringsut; petanda kalut resapan usia yang melarut. Setiap detak disini adalah ziarah kerinduan akan batas.

//2//

Sore tadi gerimis tak henti-henti melahap kerontang bumi. Hawa ringan nan sejuk menyelinap santun diantara reranting delima yang lekah. Seakan restu atas doa-doa lembah, kemarau kembali berziarah. Menghilang di balik lantunan mimpi pagi dan daun melati. Segalanya kini adalah embun.

Mataku surut meski selewat kantuk. Rasanya aku ingin pergi, berjalan menuju ruang baru bagi gerakku. Mengusap rehat yang terlalu lama telah merangkum lelahku. Entah mesti kemana... mungkin ke sudut lain usangnya kota kecil ini. Yap, sebuah kota yang selalu memendarkan melankolia tembang-tembang kenangan.

12 tahun silam aku pernah berdiri disini. Bandung, begitu banyak berubah. Ganjil menikam ruang. Menghimpit desah meski tak perlu risau. Inilah lengking purba sejarah. Datang, bimbang dan menghilang. Merontokkan litani hati di tepian makna tak tersentuh kata.

Sungguh, helatan sejarah kadangkala memaksa serapah benak, walu ia juga sering menyadarkan diri akan begitu sungsangnya masa. Sebongkah keabadian yang terus bungkam, sebab kita selalu mengenalinya dalam keriput yang mengasing. Dalam gumam yang timpang.

Lagi, sebuah dongeng digelar; meta tragika mengurai apa yang terlupa. Manusia di beranda retak kehidupan adalah sketsa lupa yang tak kunjung usai. Rahasia takdir seakan menguap. Setelah larutan peristiwa yang merapuhkan keangkuhan ia menerka semua. Manusia pecah benak. Menuliskan detik dalam puisi-puisi yang kering. Melukis nasib dalam figura percaya yang sesak.

Manusia, untaian kata-kata berjarak. Kelana jejak terbungkam wafat. Menunggu, dan terus menunggu... menjemput arti pada rimba seraknya bahasa. Namun selalu saja terjerat…
***

Nana Suryana
Cijagra; Kamis, 27 Januari 2011 M.

Minggu, 13 Juni 2010

aku ingin disisimu, sayangku...



Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang.
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak 'kan pernah kehilangan apa-apa.

-- Soe Hok Gie --
Catatan Seorang Demonstran
Selasa, 11 November 1969

Sabtu, 12 Juni 2010

jawaban atas segala tanya


kucoba menelusuri siapa yang memulai, salah add teman, catatan yang muncul dipermukaan dan kukasih jempol, tag demi tag, rasa penasaran, mencoba saling menelusuri dan mengenal. akhirnya sapaan dan sms panjang menjadi awal sebuah kisah...

siapa pula yang memulai duluan... sepertinya berangkat dari kekaguman, aku tak akan menyalahkan siapa pun, tak juga dirimu, ini semua salahku yang tak pernah bisa mematuhi pegangan diri untuk tidak pernah memulai ventilasi atas nama apapun. dan harus segera mengakhiri diskusi instens sebelum semuanya terlanjur saling membutuhkan dan ada keterikatan bathin...

namun sayang… rasa itu tak kuduga bisa datang lebih cepat dari yang diperkirakan...., maafkan aku... tak bisa menjaga hati ini...

“kata-katamu menyihirku hingga aku tak mampu rasional lagi... tapi kupikir ini semua hanyalah cinta sesaat..”

duuh kenapa manusia senang dipuja? apakah karena manusia memiliki sifat asmaul husna, al khabir? maha besar? ya manusia suka kebesaran,dipuja dan disanjung asal jangan mendominasi... seperti ruhNya yang ditiupkan padaku.

aku selalu terhanyut oleh pujian dan pujaanmu kubiarkan kau tetap memujaku seperti bintang-bintang yang setia menemaniku dan senandung angin malam yang melelapkan ku dalam lelapku, kau adalah bulan yang cahayanya menerangi malam sepiku, kau adalah kunang-kunang yang menghiasi gelapnya malam, engkaulah pemujaku, pemuja terbaik diantara sekain banyak pemuja.

seperti yang pernah kaka katakan pada dinda..

“entah darimana semua ini berawal... tapi yang kutahu semua karena ketidak-sadaran"ataukah kesadaran ku tebar pesona dihatimu hingga akhirnya kau menuai cinta”.

aku telah tebar pesona sepertinya, hingga kau menuai cinta, aku terhanyut perasaan, hingga tak bisa kukemudikan perahu kita, tak bisa kudayung kearah yang semestinya. kepolosanku yang kau kagumi, sesunguhnya adalah kelemahanku, kemanjaanku yang kau sukai sungguhnya adalah godanku, dan kedewasaanku adalah kekaguman yang kau puja... yang mungkin malah membuatmu terluka...

bersamamu aku bisa hidup dan bergairah dalam musim kemarau panjang, bersamamu aku merasakan kehangatan walau diluar sana hujan mengguyur dengan angin berderu kencang. bersama mu inspirasiku menuai arah, bersamamu aku belajar banyak hal dalam hidup ini, bahkan arti sebuah persahabatan, perbedaan, keterbukaan dan kejujuran serta penerimaan. aku bahkan mendadak bisa menguntai puisi-puisi indan nan romantis, puisi cinta yang sebelumnya entah terkubur dimana. bersamamu aku juga bisa memaki diriku yang selama ini tak pernah kulakukan sungguh, aku ini sangat bodoh ! benar-benar bodoh!

kata-kata lebih membuai dan tak pernah gagal penetrasi, kata-katamu membuai anganku, menghipnotisku, membuat aku selalu meunggu dan merindukannya. seperti sabda suci yang mesti dipatuhi, seperti pembawa kabar yang selalu dirndukan. kata-kata memang lebih dahsyat dari pada kenyataan, merasuki benakakau dan menguasi jiwaku.

kaka, diakhir cerita kita, aku tetap putuskan aku akan selalu menerima kasih cintamu sebagai mensyukurinya adalah anugrah terindah yang pernah kumiliki. hanya saudara! aku tak pernah berharap kehilanganmu aku tak mau itu! apalagi sebelumnya dalam sesat kita, kau pernah meninggalkanku, dan aku kehilanganmu.

“aku gila” ka..! aku gila. aku sakit dan tersiksa! sekali lagi aku hanya sebagai saudara, namun aku tak pernah mau kehilanganmu, tak akan pernah!"

tiba-tiba aku merasa sungguh egois dan kataku berubah menjadi “setajam pisau untuk mu”. aku tahu kau pasti bisa menerimanya seperti ungkapmu.

"kaka... kita harus ingat, cinta sejati kita adalah keluarga kita, itulah yang terbaik, cinta ini hanya sesaat ka…"

kuyakin itu, walau kau mencoba merebut hatiku dan menggoyahkan keyakinanku, membuat aku merasa bersalah dengan ucapmu...

“walau hanya sesaat dinda, tapi dari ketersaatan itu ada yang begitu menggelora…”

kaka, dinda masih harus banyak belajar darimu untuk hidup ini dan belajar untuk bertahan hidup dalam emnghadapi pongahnya waktu dan zaman.

“jangan pernah tinggalkan dinda... aku memohon dengan segenap jiwaku semurni dan setulus hatiku... jangan pernah tinggalka dinda....”

dalam isak tangisku redam gairah dalam pedih ini. walau kutahu ini sangat paradoks, kisah kita sangat paradoks... seperti yang pernah kaka desahkan senyap kata itu padaku, entahlah bahkan aku tak megerti makna paradoks yang sebenarnya.

“arrggghhh.... ka, setiap saat aku memikirkanmu. aku tak bisa tidur walau kau hantarkan aku dengan ucapan terindah, do’a termulia dan lagu teromantis yang kau dendangkan untukakau… bahkan bisikan mesra yang menggetarkan seluruh aliran darahku, merontokan hatiku sebagai nina-bobo menjelangku beranjak keperaduan saat ku pamit meminta izin mu. dinda mohon pamit ka, salam takzim untuk mu, do’a dan puja dinda teruntuk kaka seorang….”

kuraih tangan mu dan kucium dengan takzim. engkau pun mengecup kening dan bola mataku sebagai tanda kasih abadi…

kenyataannya aku tak pernah bisa tidur ka, tidurku selalu dalam jaga, mata terpejam namun otaku masih bekerja, memikirkan mu, mengingat semua ucapmu.

“ka... inikah jua cinta yang kurasakan? walaupun tak segelora dirimu... siang malam aku tak bisa melupakanmu, waktu susah sunggu mengingatmu penuh seluruh, susah payah kucoba hadirkan bayangmu… tak pernah ada ka..."

atau mungkin karena kau sudah terbiasa dipuja, sehingga tak ada yang merasa istimewa, hanya rasa kesenanagan semata? bahkan aku kadang merasa, itu semua hanya rayuan gombal yang sama seperti yang mereka pujakan untuku...apakah yang beda...? sungguh aku tak bisa menghargai ketulusan mu, sungguh hatiku jahat!

“ka... aku drof, otaku hipertensi, memikirkan mu.. pikiranku over load, badanku low bath.. down ka. aku merasa kehabisan energi, terkuras oleh pikiranku, aku lelah ka...”

aku malas melakukan apapun, aku malas makan dan bergegas... seperti perawan yang baru jatuh cinta. kucoba hadirkan bayangmu tapi aku tak mampu! bahkan imajinasi tentang mu pun tak bisa ku ungkap.

ingatan tentang mu adalah selaksa tinta yang hadir diruang maya.... tanpa wajah tanpa suara hanya kata-kata yang hadir dari ruang hati kita, namun mewarnai semua dinding-dinding dan kamar rahaisa jiwa kita.

hanya sebatas rasa,,,
sepertinya tak lebih...


dia akhir malam aku selalu memohon maaf pada mu ka... untukmu ka... entah kapan kisah ini berakhir… dan entah bagaimana cerita ini berlanjut… aku akan tetap setia mengharapkan mu, agar esok aku bisa bangun menyambut hari dengan senyumanmu dengan sapaan dan kehangatan kasihmu dan hari-hari ku berlalu tanpa pernah meragu...

kucium lengan kekarmu yang menggenggam kehormatan namun lebut oleh sentuhan kasih sayang mu dengan takzim, kupinta do’a tertulus darimu,

“kaka, dinda pamit,do’akan selalu adikmu ini selalu agar menjadi wanita dan istri yang sholehah, serta menjdi adik yang baik buat kaka….”

kau pun mengecup kening dan kedua bola mata dinda, seraya berucap,

“selalu dinda… tanpa diminta, doa terbaik kaka akan selalu terkirim dan terpuja untuk mu seorang…”

basah mataku, enggan beranjak pergi,seperti juga dirimu yang selalu menahanku untuk pergi.

”sebentar lagi dinda., sebentar lagi… please…”

akupun mengabulkan pintamu walau hanya sekejap, kudengar lagi ucap terdalammu…

“terakhir... dinda, andai saja jarak tidak memisahkan kita, andai saja waktu dapat berjalan mundur, mungkin saat ini kaka akan mengulang kejadian yang menurutku telah kaka lewatkan dengan sia-sia. dan pasti kaka akan memilih untuk bisa dekat dengan dinda. namun itu semua tidak dapat kaka lalui, karena itu hanyalah harapan yang mustahil, dan karena semua adalah semu....”

itulah kata-kata mu dipenghujung pagi yang kau ucapkan padaku yang mungkin aku tak sempat membacanya karena telah beranjak keperaduan. lalu kau pun akhirnya mengirimkan melodi “selamat malam “ yang dinyanyikan oleh iwan fals... sebagai lagu nina-bobo untukku...

rumah ini mendadak suwung, kamar ini mendadak senyap seperti juga suwung dan senyap kamar hatiku...aku kehilangan “gairah”mu…

- - -

3.4.5. 02 juni 2010. pukul 13.11 wib
kupersemabahkan hanya untuk mu, siang dan malam kutulis ini untuk sebagai jawaban atas tanya dan sebagai tunai atas hak janjiku padamau...

terjebak dalam angin kembara


entah harus kumulai dari perjalanan kisah cerita ini, dari mana harus kurangkai kata-kata terindah yang ingin kuungkap dan kucurahkan sebagai jawaban atas segala tanyamu, sebagai penenang untuk semua resah dan gelisahmu, sebagai air tuk puaskan dahagamu, sebagai obat untuk kerinduanmu... semuanya membingungkan dan tak jelas... sebingung hatiku yang tak tentu arah tujuan, terseret terjatuh dalam angin kembara
terjebak dalam angin kembara.

mengurai makna,
melanglang buana keujung dimensi,
dehidrasi kalam...
air hanyalah fatamorgana...
hakikat diri itu ghoib.
batu, dan semuanya itu ghoib
semuanya hilang, nol.......


berawal dari sebuah pertanyaanmu, kau berharap aku menilai semua tentang dirimu menurut pandangan diriku..walau ku masih tak mengerti arah dan tujuan pertanyaan mu. “kaka pengen mendapat gambaran yang utuh tentang sosok diri kaka dalam persepektif dinda?“

aku tergagap sungguh, pertanyaan yang membuatku bungkam, aku hanya bisa membisu. seandainya dia tahu, aku merasa seperti berada dipersimpangan tanpa arah petunjuk, hanya berdiri kebingungan. aku tak tahu harus menjawab apa.

“dinda, andai dinda tahu, tidak mudah bagi kaka untuk mencintai seseorang yang tidak pernah ada di samping kaka, tidak pernah dapat melihat perkembangan hidup kaka, tidak pernah melihat saat kaka tertawa karena gembira, saat kaka menangis karena sedih, dan tidak pernah ada disisiku ketika kaka mendapat cobaan terberat dalam hidup”.

akhirnya kau pun berucap, pilu dan sayu, seperti remuk redam nya hatimu...
“namun kaka tidak dapat membunuh dan mengubur dalam-dalam rasa yang tumbuh subur dalam hatiku... rasa yang selalu bergelora untuk dinda, saat ini, detik ini, ntah esok hari atau lusa... mungkin dulu kaka sempat mencoba untuk melupakan dan membungkus rapi rasa itu tanpa pernah kaka membunuhnya... tapi pada akhirnya... rasa dalam hati kaka terus memberontak bahkan "dia" dapat menghancurkan bungkusan yang rapi itu.... dan sekarang rasa itu hidup dengan bebas dalam hati kaka. tahu kah dinda pada siapa rasa itu kaka curahkan?”

aku hanya diam mematung seperti arca tanpa nyawa, seperti lukisan hilang sukma... “aku tau ka.. aku tau jawabanya..kurasakan kepiluan hatimu dan aku pun meringkih menahan pedih”

“semua yang kaka lakukan bukan tanpa refleksi, dan bukan berangkat dari ruang yang kosong. tapi semuanya telah melalui pergulatan hati yang cukup lama.... itu saja dindaku! kalaupun sekarang dinda mau pamit, pergilah. selamat malam...”

kau mencium keningku dengan penuh kasih dan sayang...

duuh..kata-katamu, begitu menusuk relung jantungku, sedalam itukah “rasa“ yang kau miliki pada dinda? adakah... adakah rasa yang sama seperti yang kau miliki untuku?.
kucoba mencari dan memaknai “seberapa tajam geletar itu dan seberapa dahsyat rasa itu?”. seperti juga yang kaka katakan pada dinda. duuh aku tak menemukanya sebegitu besar rasa sayangmu sebegitu dalam cinta yang kau miliki, aku hanya bisa berguman dilubuk hati,

“maafkan dinda, maafkan dinda, ka...! sungguh aku tak bisa membalas kasih yang kau berikan dan cinta yang kau miliku untuk dinda seorang... walau inginku, inginku... sangat, membalasnya!”

dalam hati aku meratap. “ya, hanya bisa dalam hati ku berucap... terlalu pengecut aku untuk jujur, terlalu lemah ku untuk bicara..., aku takut ucap dan jawabku menjadi pedang yang menusuk jantungmu sementara bibirku tersungging senyum.... karena, terkadang jujur itu sangat menyakitkan ka..., maafkan aku.. karena aku tak mau kehilanganmu…”

aku kembali mengenang pertanyaanmu, “jujurlah dinda, apa dinda juga merasakan hal yang sama...rasa dari lima huruf yang selalu kaka cari dari matamu dan dari setiap desah suara dan nafasmu..?”

lagi-lagi aku terpaku, diam dan hanya membisu, jika diam adalah emas dan jika emas berati adalah isyarat seorang gadis, maka kupilih diam itu, walaupun akhirnya kau bertanya ”apakah ‘diam’nya dinda berarti ‘iya“?

aku cuma bisa menjawab dengan membisu, walau bisuku antara ‘iya dan tidak’ biarlah kusimpan rapat-rapat dan kukubur kuburan rahasia terdalam ku, agara kau tetap menyimpan rasa penasaran itu, dan aku tak merasa jengah jika harus menatap tajam mata sihirmu. akhirnya kau memaklumi walau harus menyimpan sejuta tanda tanya untuk ku dan menyimpan sejuta harap jawaban dariku. sungguh, aku merasa menjadi orang yang munafik kali ini.... aku hanya meyakinkan diri dan sebenarnya malu tuk mengakui...
biarlah kusimpan rapat-rapat dan kukubur kuburan rahasia terdalam ku, agara kau tetap menyimpan rasa penasaran itu, dan aku tak merasa jengah jika harus menatap tajam mata sihirmu...

cinta?
hmm.. terasa indah bila dirasa..
namun, kadang juga sakit menyapa
kenapa?
karena cinta itu meminta......
meminta apa?
timbal -balik..
jika tiada, maka sakit dirasa...



diawal kisah kita sudah berkomitmen untuk menjaga persahabatan ini, dan komitmen itu yang aku pegang sampai sekarang.

“bagi kaka komunikasi yang dijalin atas dasar silaturahmi begitu juga persahabatan yang didirikan atas dasar kejujuran adalah harga mati!”

begitu juga dinda ka... “mencintaimu karena allah. saling mencintai karena allah...”
itu yang selalu dinda pegang komitemn diawal, walau pada akhirnya kenyataan tak sesuai yang diharapkan dan ada hal yang tak wajar kita rasakan, dinda kan mengarahkannya kedalam rasa persaudaraan.. sebagai adik kaka.. selain itu kuniatkan dalam diri, jika pun melenceng maka kucoba luruskan kembali. “maafkan dinda ka..lagi-lagi aku memohon meminta maafmu...”

jadi jika kemudian ada sesuatu yang salah, dinda tak pernah berharap itu terjadi. dinda sudah meyakini diri bahwa ditengah rasa hausku yang mencapai titik kulminasi akan kasih sayang seorang kaka, maka kau adalah embun itu, kau adalah tetes mata air itu....oase yang memberi aku kehidupan...

jika hatimu terpaut padaku
dalam rasa yang begitu besar
dan sungguh aku tak sanggup membalasnya
aku hanya bisa menerima kasih mu dan menitipkan diri....
aku tau kau pasti kecewa,sedih dan terluka menganga..
aku merasa berdosa.........
ingin kupenuhi harapmu jika aku mampu...


aku ingin berbagi dipundak mu agar lelahku kulepaskan, dan aku bersedia memberikan bahuku untuk menjadi sandaran mu agar beban mu terhilangkan. maka, kupaksa aku tuk merasakannya. kucoba maknai seberapa dahsyat rasa itu,

cinta , hanyalah permainan hati
hormon-hormon kimia tubuh yang aktif
mungkin suatu hari kelak
jika saatnya tiba.......
saat tubuh mulai mengkerut
dan kecantikan tlah pudar....
dunia hanyalah godaan
wanita cantik juga kan menjadi tua
kulit nan indah bercahaya.
pudar suram makna
berkerut dalam kikisan usia
dipenghujung waktu penghabisan
cinta pun hilang lenyap dalam kekang zaman


seberapa besar hormon itu bergolak dalam diriku, seberapa pengaruh body chemistry saling menyesuaikan, seberapa sama frekwensi itu. frekwensi kita ternyata memang sama, saling menerima, namun aku drop, tak ada supply energy dari mu...tak ada aura yang saling bertukar, yang ada hanya gelombang alfa dan beta ,energy pikiran kita saling mempengaruhi... menembus kedalaman ruang dan waktu didunia maya...hilang sekat diantara kita.

duuh....
inikah cinta terlarang?
inikah rindu yang tak semestinya
rinduku terlarang....
rinduku bukan haknya...
rinduku salah tempat dan berpijak


* * *

by: 3.4.5.
02 Juni 2010, jam 15:34

Jumat, 28 Mei 2010

kegelisahan yang tak terjawab...



dinda, andai dinda tahu, tidak mudah bagi kaka untuk mencintai seseorang yang tidak pernah ada di samping kaka, tidak pernah dapat melihat perkembangan hidup kaka, tidak pernah melihat saat kaka tertawa karena gembira, saat kaka menangis karena sedih, dan tidak pernah ada disisiku ketika kaka mendapat cobaan terberat dalam hidup.

namun kaka tidak dapat membunuh dan mengubur dalam-dalam rasa yang tumbuh subur dalam hatiku... rasa yang selalu bergelora untukmu, dinda, saat ini, detik ini, entah esok hari atau lusa...

mungkin dulu kaka sempat mencoba untuk melupakan dan membungkus rapi rasa itu tanpa pernah kaka membunuhnya... tapi pada akhirnya, rasa dalam hati kaka terus memberontak bahkan rasa itu dapat menghancurkan bungkusan yang rapi. dan sekarang rasa itu hidup dengan bebas dalam hati kaka. tahu kah dinda pada siapa rasa itu kaka curahkan?

Dinda, semua yg kaka lakukan bukan tanpa refleksi, dan bukan berangkat dari ruang yang kosong. tapi semuanya telah melalui pergulatan hati yang cukup lama. itu saja dindaku, kalaupun sekarang dinda mau pamit, pergilah...

jika dinda memang tidak siap dengan semuanya itu sangat wajar dan manusiawi, dan itu adalah pilihan yang harus di pilih.... bagi kaka, ketika berani mencintai seseorang dengan tulus maka harus berani dan ikhlas untuk merasa kehilangan...

dinda, terima kasih telah memberikan banyak arti dalam hidup kaka, walaupun dinda tidak bisa menemani kaka dalam sisa waktu perjalanan hidupku. terima kasih dinda telah banyak memberikan warna dalam hidup kaka sehingga kaka mampu berdiri ditengah kerasnya perjuangan hidup ini...

dinda, kaka sudah menerima dengan ikhlas semua keputusanmu, dan yang terpenting jangan pernah mencoba memutuskan tali silaturahmi yang telah kita bangun. jika itu terjadi maka kaka akan kehilangan satu adik dan saudara. juga orang yang sekarang ini kaka sayangi & cintai...

terakhir... dinda, andai saja jarak tidak memisahkan kita, andai saja waktu dapat berjalan mundur, mungkin saat ini kaka akan mengulang kejadian yang menurutku telah kaka lewatkan dengan sia-sia. dan pasti kaka akan memilih untuk bisa dekat dengan dinda. namun itu semua tidak dapat kaka lalui, karena itu hanyalah harapan yang mustahil, dan karena semua adalah "semu"....

pesan kaka disela menjelang tidur dinda, "ingat tetap semangat... dan kejarlah terus cita-citamu tanpa pernah lupa menyembah-Nya...

* * *

Bandung, 29 Mei 2010, Pukul 04.00 WIB

Kamis, 27 Mei 2010

komposisi kau dan aku


kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap


[nokturno - sapardi djoko damono]

[1]

malam yang berbeda. kutulis sabda hati ini dari air mata dan kata. adalah sajak tentang kita yang tertambat di dinding sejarah. kita adalah kisah yang tidak akan bisa terhapuskan. kita adalah “tinta tuhan” yang tumpah sebelum saatnya, yang tidak tercucikan walau dengan air raksa. karena kita sebelumnya telah melahirkannya dengan kasih cinta. tapi, entah seberapa tajam geletar itu. seberapa runcing jejak yang melepuh di kesunyian hati. seberapa lama kisah ini kan abadi. sebab sebelum pagi, kita tak mampu menggenggam mimpi. kicau burung begitu cepat menjamah nyenyak kita di perapian kasih.

[2]

kukenang percakapan kita. di riuh-rendah ruang maya, sms panjang, jauh tengah malam. ada yang tiba-tiba tanggal, ingatanku tentang peta yang kita pegang. tentang komitment yang kita bentuk di awal kisah. maklum, kau datang ke pikiranku lewat puisi dan catatan yang indah.

“dinda, ku ingin dengar suara mesramu yang kau dendangkan sebagai pengantar tidurku!”

kau pun diam. entah seribu benak apa yang kau bayangkan atas pintaku. inilah percakapan yang menjadi awal air mata. dimana seluruh tubuhku menjadi lebur tak berdaya. dimana semua harapan menjadi hampa. terkadang kata berubah “pisau”. terkadang berubah rintih yang meringkih di kesunyian malam. namun aku tetap tidak bisa melupakannya. bahkan luka, perih dan nyeri menjadi satu amuk yang semakin menyemangat hendakku untuk tetap memujanya. mungkin karena perempuan itu -adikku, saudaraku, dan juga sahabatku - memang sempurna bagiku.

“jangan, ka...”. pada akhirnya kau pun bicara. cuma itu. satu kata yang tanpa dinyana telah menggetarkan ruang kalbuku.

“kenapa? apa karena kita bertemu di separuh jalan?”

“bukan. bukan karena itu, ka. dinda bingung karena tak tahu harus mengatakan apa. soalnya dinda terkadang berdebar kalau lagi bicara sama kaka. apalagi masalah serius seperti saat ini. sementara dalam hati, dinda tetap yakin bahwa dinda cuma sayang pada kaka sebagai kaka semata. tapi dinda juga tak mau kehilangan kaka. dinda sedih dan merasa kehilangan saat kaka tiada”


kau pun kembali diam. ada getar perih yang kurasa pada ucapmu itu, dindaku. namun ku coba tegarkan hati untuk terus mendampingimu. disela waktu kau jelang pamit ke peraduan. pada akhirnya kutemani kau melangkah, menembus mimpi-mimpi dalam tawa dan tangis, berharap ujung jalan ini tak ada. kita mencoba tak mengingatnya ada. tapi, sungguhkah pikiran bisa dibersihkan dari kenyataan? dan mata dari kepedihan? barangkali memang hidup harus dijalani. “…dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya”.

sementara diluar, kota bandung dirundung hujan. lagu “hujan bulan juni” –kenapa tidak gerimis saja– memberi aksentuasi nyeri pada ujung waktu di bulan mei ini, dengan “dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu“. akankah jejakku terhapuskan juga dari halaman hatimu, dindaku?

[3]

aku tak tahu selanjutnya harus mulai lagi dari serak atau luka yang mana. apalagi ini bukan hanya sekedar mimpi lagi. bukan tentang canda yang harus kita bumbui dengan tawa dan air mata. bukan tentang sajak yang lahir dari bercak cinta. bukan tentang tangisku dan dirimu. bukan pula tentang mata yang lain. tapi, ini bukan hanya tapi! bukan hanya...!

setidaknya, aku dan dirimu
memang tak punyasemacam alasan
untuk tanggalkan senyum!
mari bersama membuang murung!
mari melata menata desah
dalam amuk cinta!


dinda, kuyakin nasib kita berjalan dalam komposisi "broery - dewi yull". bukankah pernah kukatakan padamu tentang "rinduku terlarang? kau pun tersenyum waktu itu. kini ku tahu, memapasmu di separuh jalan, adalah menikmati kebersaatan yang menjadi abadi. ahh, jadi ingin kuberikan lagi pada telingamu lagu ini:

“sekian lama sudah kita telah berpisah/
kurasa kini engkau tak sendiri lagi/
akupun kini juga seperti dirimu/
satu hati telah mengisi hidupku//
tak perlu engkau tahu rasa rindu ini/
dan lagi mungkin kini kau telah bahagia/
namun andai kau dengar syair lagu ini/
jujur saja aku sangat merindukanmu//
memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu/
sebab kau tak lagi seperti yang dulu/
kendati berat rasa rinduku padamu/
biarkan kuhadang rinduku terlarang//
biar kusimpan saja/
biar kupendam sudah/
terlarang sudah rinduku padamu“.


ahh, itulah kisah kita, dinda. cintaku terindah, cintaku yang terlarang. tapi entahlah kalau menurut dinda, karena seberapa dahsyat bait kata ini menyentuhmu. aku tak tahu!

[4]

kalau saja bintang-bintang menyapa luka-luka yang terus merintih di dinding-dinding cinta, cita, pikiran dan rasa. jika langit hujan huruf-huruf yang tak usah kita eja lagi. di sini ada setumpuk do’a yang terus bergelayut mencari makna. menjadi kidung-kidung cinta yang terus menafsir semesta. adalah pertanyaan, tanyaku. “dinda, adakah "lima huruf" tanda cinta dalam hatimu?”

“ntahlah ka... dinda tak mau terjebak dan terjerembab dalam romantika ini. tapi mungkin juga iya, karena dinda pikir tidak ada persahabatan yang abadi antara laki-laki dan perempuan. tidak akan pernah ada, ka...! jadi tetap saja yang namanya ketertarikan antara lelaki dan perempuan itu pasti ada, termasuk kisah kita”.

dinda, kita sama-sama tahu, bahwa di balik selokan kerling yang kita suakan, ada luka sejarah yang menganga, membaluri perjalanan kita. begitu serut, getir dalam bayang, dan aku tak jua kunjung bisa membalutnya. bagiku keyakinan, dan bagimu ketabahan. aku sayang padamu di ‘teras nurani’ yang terbening. dinda, aku akan mencari "lima huruf" itu, dalam sesaat. setiap pagi, siang, senja dan malam, seperti yang telah kita lakukan selama ini. jadi, tolong buang saja ragumu itu…

“ka... dinda rasa ini salah. makanya dinda tak mau menikmatinya. tapi tak mau juga kehilangan. ntahlah, ka. dinda tak mau men’tuhan’kan cinta. bukankah kaka pernah berdendang akan hal itu?”

aku tergagap. mencoba menyelusuri bait perbait puisi “bilaku jatuh hati” yang pernah kulantunkan diujung waktu.

“allahu rabbi aku minta izin,
bila aku jatuh cinta pada seorang hambamu
jangan biarkan cinta untuk-mu berkurang
hingga membuat lalai akan adanya engkau

allahu rabbi..
izinkan bila sekarang aku jatuh hati
pilihkan untukku seseorang yang
hatinya penuh dengan kasih-mu
dan membuatku semakin mengangumi-mu

allahu rabbi…
seandainya kutetap jatuh hati juga
jangan pernah kau palingkan wajah-mu dariku
anugrahkan aku cinta-mu
cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
cinta yang tak mengenal ras dan suku
cinta yang akan menambah kekagumanku
hanya pada-mu.


kucoba memaknai ulang desahan nafas dari puisi itu. cukup lama. adalah puisi. adalah sajak untukmu. adalah cintaku. adalah kemuakanku. adalah kecemburuanku yang terus mengajari aku tentang air mata, luka, dan ringkih jiwa yang tak tertautkan. terserah bagaimana kau menilai.

“tapi ka, dinda tidak pernah menyesal telah mencintai kaka. dinda sayang sama kaka. bahkan sutu hari kelak... jika tuhan mengizinkan, dinda berharap bisa bertemu dengan kaka. tanpa berharap apapun dan tanpa menuntut apapun. karena yang terbaik adalah cinta sejati kita”.

lalu kau terdiam dan diam. suasana malam jadi sunyi dan mencekam. sesekali aku hisap rokok dan meneguk kopi yang masih hangat. "dinda, sebenarnya aku merasa sakit saat kau lontarkan kata-kata itu. karena aku juga memiliki dan menyimpan kisah dan harapan yang sama. walau tidak seutuhnya sama. hanya aku belum berani menceritakan harapanku itu pada siapapun. kecuali kepada diriku sendiri".

dan aku hanya bergumam sendiri dalam diri. "dinda, kita memiliki harapan yang sama. tak usah menyesal dan meratapi, kita tidak berhak untuk itu. bolehlah kita tersesat dalam pengembaraan ini, itu lebih baik, daripada kita tersesat tanpa sebuah pengembaraan. muara luka kita ini, yakinlah, suatu saat akan menjadi taman bermain yang indah. dan seharusnya kita belajar tersenyum. yakinlah bahwa kuasa tuhan kan mempertemukan kita”.

kau pun membisu dengan penuh ragu. “maafkan dinda, ka. dinda tak bermaksud menggurui kaka... adikmu pamit dengan membawa rasa sayangnya untuk kaka, dan mungkin cintanya”.

dinda, kau mungkin tak akan kudapat. ya, tak akan kudapat. aku hanya mengantarmu, sampai ke ujung waktu itu. tapi, aku akan terus ‘merebut’ hatimu, meski “entah kapan kau bisa kutangkap“. yang penting, aku telah melakukannya, dan itu bukan sesuatu yang sia-sia. karena aku tahu, “…cinta kita mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah“.

“dinda bahagia bisa mengenal kaka. merasakan keindahan itu. walaupun pada akhirnya harus kusimpan rapat-rapat rasa itu. biarlah kita saling memendam, kita tak berhak meluapkannya, karena “memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu/ sebab kau tak lagi seperti yang dulu/ kendati berat rasa rinduku padamu/ biarkan kuhadang rinduku terlarang// biar kusimpan saja/ biar kupendam sudah/ terlarang sudah rinduku padamu”

[5]

“ka... kadang terbersit sekilas angan. kita bertemu tanpa sengaja dan... ahh... aku tak sanggup meneruskanya, ka! tak pantas dinda mengucapkannya. mengangankan sesuatu yang bukan haknya. walaupun hanya sekedar khayalan. tak ada nafsu disini, yang ada hanya kasih sayang, belai mesra yang dibalut oleh suasana yang romantis semata. pada akhirnya imajinasi dinda pun melayang...”

dinda, kaulah perempuan yang menjelma “bunga” di pagi hari, atau terkadang menjelma daun kering yang baru jatuh dari tangkai. dan mengeja ucapmu ini, aku merasa sedikit gila. barangkali memang sudah gila. entah... apakah hidup hanya sebatas harapan, kenangan dan permainan imajiner? akhir-akhir ini aku menjadi pemujamu. mem”berhala”kanmu siang dan malam. bahkan dalam tidur pun terimpikan. barangkali aku mencintaimu. tapi entah. karena aku sampai sekarang tidak mengetahui kenapa aku samapai memberhalakanmu dalam hidupku. yang pasti, ada segetar dalam jiwaku yang terus mendorongku untuk itu. sehingga aku tidak lagi peduli dengan rasionalitas. yang ada hanya bagaimana aku mengutuhkan diri!

dinda, setiap saat kau datang dan merasuk ke dalam benakku. menghiburku, merayuku, mengejekku, memarahiku, memanjaku, menciumiku, memelukku dan bahkan “menyetubuhi”ku. aku tidak bisa lagi menghindarinya, seperti burung yang terperangkap ke dalam sangkar. seakan kata-katamu itu serupa “sabda suci” yang harus dipatuhi. dan kaulah yang mengubahku menjadi seorang seniman, yang pandai melukis di dinding-dinding jalanan, yang pintar menyulam kata menjadi seuntai puisi, yang lihai membaca puisi dengan indah, dan yang mampu tersenyum dalam setiap tetesan air mata. ahhh....

[6]

“ka... dinda akan pergi. pergi dengan membawa cinta dan sayang ini di hati. biarkanlah rasa ini menjadi kenangan indah yang abadi. untuk kita, ka. semoga kita mendapatkan kembali kebahagiaan kita. namun sebelum langkah ini kian menjauh, ingin rasanya dinda mengulang kembali kata yang dulu sempat terlontar pada kaka;
“mungkin sayangku tak sebesar sayangnya, mungkin cintaku tak sebesar cintanya, mungkin rinduku tak segelora rindunya, tapi aku merasa bahagia ada yang memberikan rasa cinta yang begitu besar. lebih baik dicintai daripada mencintai”.


dinda… rasanya aku menjadi manusia terbodoh saat menilasi semua ungkap kepergianmu itu. aku insyaf, kau telah meng”hipnotis”ku. dalam ketaksadaran atas pesonamu itulah aku berani mendekatkan garis takdirku, menjajarimu. kumimpikan, suatu waktu, garis itu akan menyilang, bersinggungan, nasib kita bertemu. nyatanya, kamu bergerak lebih lekas, terlepas. jadi, jika memang kau harus pergi, pergilah…. karena aku tak akan mampu menahanmu. percuma, jangan paksa aku melupakanmu. karena dengan mengingatmulah aku merasa, ada satu fase dalam hidupku yang demikian bermutu. pergi, pergilah, debaran hatiku... maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu. "karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu".

kau cium tanganku dengan tak'zim. aku pun mengecup kening dan kelopak matamu. tanda kasih abadi yang tak luntur terhempas zaman. kau pun hanya tersenyum simpul dan menunduk. debar jantungku, telah kuikhlaskan engkau pergi. pergilah… tapi, sebelum langkahmu menjauh, tolong maafkan kesalahanku.

“iya ka! pada akhirnya kusadari... kita harus kembali ke dunia nyata, cinta suci kita, keluarga kita. aku tak mau ini terus berlanjut. akhiri sudah kisah ini. dinda hanya ingin bertemu kaka. dan kaka menyayangi dinda sebagai adik semata. itu aja!”

dinda, akan hal itu maafkan aku juga. aku yang sering menghubungimu tiba-tiba, hanya untuk mengatakan, “aku kangen kamu, kangen kamu…” percayalah, sebelum mengatakan itu, telah habis tenagaku untuk menahan gempurannya. tapi aku kalah. jadilah, di saat-saat yang barangkali tidak kamu sangka, aku mengucapkannya. kini kusadari, betapa hal itu pasti membuatmu jengah, malu pada sekitarmu. sehingga, selalu kamu berbisik, “aku tahu, ka. aku tahu…” ucapan yang pasti membuat semua gemuruh di dadaku punah. gempa yang kehilangan tenaga.

[7]

“ka, seandainya kita dipertemukan lebih awal, mungkin kita memang diberi jalan untuk dipersatukan. ya, andai saja kita masih sendiri, rasa cinta ini mungkin kan terbalaskan dan tersatukan dalam jalinan kasih sayang. dalam ikatan mahligai pernikahan”.

hmmm... itu pula yang aku dambakan darimu, dinda. membangun bahtera pernikahan. menjadikan pernikahan kita sebagai titian untuk belajar sabar dalam meniti ridho-Nya. dan bilamana akhirnya kita berdua bertemu, niscaya aku kan berucap “betapa maha besarnya Engkau, ya Alloh, karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna. aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat. dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah engkau tentukan".

namun dinda, itu hanya sebatas khayalan. karena pada akhirnya aku pun menyadari bahwa kita harus kembali ke dunia nyata, dunia yang menjadi pijakan langkah kita. aku sadar kalau semua itu hanyalah mimpi sesaat, mimpi di siang bolong, yang tersapu awan dan tertiup angin dengan cepat. kesadaran itu muncul atas pijakan bahwa “bunga mawar tak mungkin mekar dalam semalam, namun bisa layu dalam sedetik. kota baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap. perkawinan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat, namun bisa saja terberai dalam sesaat. pernikahan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, tapi awal dari sebuah langkah".

dindaku, pada akhirnya aku hanya bisa memandangi punggungmu yang berjalan kian menjauhiku. sampai kau menghilang dalam jangkauan mataku yang terbatas. aku hanya bisa menitikan air mata, dengan kepiluan. sakit yang merayap rembesan darahku, terasa sesak dan tercekat. hati seakan ingin berontak dan teriak, “jangan pergiii...”

dindaku, aku kan senantiasa berdo’a untukmu, semoga cita dan harapan yang selama ini diidamkan kan terkabul. termasuk pertemuan “nyata” kita. dengan penuh haru nan syahdu, kugagap melepas kepergianmu. tanpa air mata kulepas semuanya. tanpa mendesah ku berusaha tegar dibuatnya, namun kau pun tahu, apa yg ada dalam hatiku. perih rasanya mengurai pilu. lapat-lapat kudengar kau berucap;

“ka, simpanlah rapat-rapat rasa cinta kita...”

[8]

kulupakan hari-hari yang lewat
agar aku dapat hidup kembali di hari ini
kubuang puing waktu ke kuburannya yang paling rahasia
barangkali serahasia mimpi
yang ada kemudian hanyalah kesamaran
semakin samar
dan… hilang.


tapi dia tidak sepenuhnya hilang. gerimis yang tiba-tiba merintih pagi ini, yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku untuk selalu mengingatnya. kepedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk tetap bertandang.

“ka, aku senang kok sempat jadi hujanmu. makasih juga telah dibuatkan tulisan ini.”

ahhh, dinda... aku hanya bisa menulis, tak bisa berpuisi seperti pinta terakhirmu. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang “sempat” bisa jadi abadi, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu, tulisanku dapat membuat hujan mau tercurah selamanya.

“hujan akan selalu ada, ka. meski bukan dinda lagi. bukan dinda lagi… tapi kaka bisa ikhlas kan?”

bukan bisa. tapi harus. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. jika yang memintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan…

setiap sahabat adalah rahmat. setiap rahmat adalah harap, dan setiap harap pasti berjawab, kan? dan harapan itu adalah cintaku, tidak bicara tentang keabadian, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan. mensyukuri dengan meyakini, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahmu yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku harus mampu berterimakasih dengan meski….

[9]

alam memang contoh terbaik dari keajaiban. jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar air mata. pelan-pelan, aku patrikan hal itu di benakku. aku ikhlaskan dia pergi, tanpa sesal, tanpa pedih. aku kenang semuanya dengan tawa, ucap syukur, dan rasa lega, seperti keleluasaan rasa yang hinggap saat pertama kali ku sapa dirinya di alam maya.

berjalanlah, kasihku, dindaku. aku tak memberatimu lagi. karena seperti katamu, engkau tetap akan pergi, kini atau nanti. bergeraklah, raihlah kegembiraanmu. yakinlah, dari tiap sujud sempurnaku, akan tetap lahir doa-doa terbaik tempaan ribuan tahun, yang memanteraimu, menjagamu, agar tetap bahagia, seperti saat sebelum engkau denganku berjumpa....

* * * *

bandung, 27 mei 2010, pukul 5.29 wib
kupersembahkan hanya untukmu...

Selasa, 25 Mei 2010

Sejati itu ada....




Aahhh… Dinda, aku menyayangimu lebih dari apa yang mampu terbayang dalam imajinasi. Sejuta bait yang kutuliskan pun tetap tak bisa menampung apa yang kurasa. Dan itu membuatku hidup, lalu mengasihinya. Kalaulah ada sikapku yang seolah mengingkarinya, tak lain hanyalah ketakutanku akan kehilangan anugerah ini... Toh bagaimanapun elak sadarku, cinta kan selalu bermuara di antara dua hal; “harapan dan kekuatiran”.

Harapan yang menjadikan aku memiliki gairah dalam menata setiap detail paraghraf hidupku, dan kekuatiran yang membuat egoku memuncak, sebab aku ingin dirimu tanpa pernah berbagi dengan yang lain. Tapi itu karena aku juga telah mengalirkan keberadaanku seperti itu. Peduliku telah kuasingkan dari yang semua, sebab ia hanya untukmu. Tak ada waktuku yang terlepas dari mengingat dirimu. Dan itu terus kuhayati dalam diam dan riuhku.

Dindaku.. pada akhirnya, aku mengerti.. bahwa inilah jalanku untuk menyayangimu. Jika masih tersisa labil di kenangmu, benamkanlah ia. Biarkan aku yang merangkumnya. Mungkin itu akan menjadikanku hidup dalam ingatmu. Adapun segala prasangka yang kadang mendera, lepaskanlah agar menjadi bunga.. Sebab, kelak, akan kita dapati, bahwa segala telah membuat kita percaya; cinta sejati itu ada dalam kita.

Senin, 17 Mei 2010

membaca [tiap] ayat sejarah


Malam kian berakhir, jarum waktu masih angkuh menipiskan anganku pada lingkar absurd tarian kata dan imaji. Seribu masa menyelinap diatas meja dan girisan pena yang mengutuk tubuh dalam kelam. Huahhh …. Kenapa otak jadi beku seperti ini? Duh . . lagi-lagi mozaik kekalutan ini memahatkan takutku pada cerita-cerita basi dan tolol tentang lepuhan kesemestian hidup, ini harus cepat diakhiri (Hei .. Asyhadie, siapa bilang aku dilahirkan lewat telinga? Insomnia, amnesia, dan narsis lo..!, Adalah jawaban untuk igauan batinku). Hanya bagaimana manusia, konon, meneriakkan cintanya pada kebijaksanaan sang "Dewi Sophia", ia bisa dianggap berharga. Ah, peduli amat dengan mistifikasi tolol yang telah ditularkan filsafat itu…
Penaku masih dirasuki sejuta entah, pijar renung meredup seiring fantasi kelamku mulai meraja. Ternyata hidup begitu rumit, sehingga manusia memerlukan beragam peluh dalam penempuhannya. Sesaat keletihan kembali membias di desahku, namun ontologisasi realitas tak sudi beranjak dari renungan. Sshhh..!! aku bosan dengan metafisika substansial hierarkis, metafisika proses, apalagi gradasi realitas, enyahlah teori-teori emanasi yang hanya bisa mereduksi kalut semesta dan melembagakan "tuhan" dalam teori. Satu-satunya locus bagi ontologi evolusionik semesta adalah logos “entah”. Dan Ini adalah serpihan paradigma yang tidak membutuhkan lampiran-lampiran epistemologis, takdir, empirikalisasi pengetahuan apalagi dekonstruksi rasistial dalam mengisyaratkan jejaknya. "Entah" adalah retakan dogmatik tentang historisitas hidup yang tak memerlukan roh absolut untuk menjelmakan kesempurnaan gelisahnya... (Apa yang barusan kuomongin ya? Teuing ah...)
Ke"gila"anku rasanya makin memuncak seiring bayang keresahan yang terus mengalir. Huh . . rupanya kemewaktuan ini harus bersandar pada setangkai bio-keberadaan yang bisa jernih menggores nasib, bening mengukur pelik. Berangkat dari affirmasi caci maki pada eudamonia, menjemput dosa dengan serapah. Toh’ di era simulacra yang menjadikan Rama berhati Rahwana, Karna berwajah Arjuna, tak perlu alasan runut untuk mengutuk manusia yang masih menyandarkan punggungnya pada paranoia kebebasan atas restu ketololan zaman Sartre, apalagi jenis sarkasitas freedom-nya William Wallace (kebebasan bukanlah human destiny, yang musti direnggut paksa dari jejari Goolia, tapi seberkas illuminasi tanpa inflasi ego, likuidasi hasrat, dan fluktuasi mental. Bara jalang ke-aku-an pada setiap bujur dan koordinat hidup).
Teramat naif mereka yang masih mengaca gerak hidup ini pada khayalan dialektika Hegel dan historisitas kuno Marx. (Emangnya ide manusia dan revolusi tanpa noda? Heh, sejak kapan Crane Brinton adalah de Stakingskoning? Toh "Barudak Kiri" tak lebih dari sekadar komunitas "sakit hati" yang mereduksi Che Guevara bentuk labelitas primordial ‘nu’ paling butuutt). Hanya orang-orang tolol yang mengira hidup akan tuntas dengan mengeja jejak-jejak hilang sang Nabi sembari melemparkan umpat pada desiritas mite prometheus, membaca katalog apologis subsidiaritas Rawls dan utopianisme komunikasi Habermas, apalagi menafsir irrasionalitas etika Timur dan melambaikan tangan pada absurditas Sisifus. (Yahudi tanpa negara dan sinagog bisa menghasilkan manusia ‘sempurna’ layaknya George Soros and Ariel Sharon. Amerika tanpa horison teknokratisme moralitas ‘45 bisa memunculkan George [W] Bush. Indonesia? Dengan amandemen abnormalitas pada setiap telikung amnesia sejarah, hipolinguistisasi teror di balik jendela-jendela kekuasaan, seharusnya sudah bisa menghadirkan manusia berotak Jenghis Khan, bertangan Midas, berkepala Janus, berkumis Hitler, dan berbadan Shisio). Hahhh … ckkk … ckkk …
* * * *
Malam makin menua. Dini mulai tiba. Rembulan sayu menerka cerah awan. Duh . . sunyi ini begitu indah mengerutkan jemu. Mungkin aku harus menganugerahinya puisi-puisi halus sekadar mewangikan suasana. Sedetik hening, tapi bayang-bayang kesadaran tiba-tiba menjelaga. Aku tidak butuh puisi, sajak, apalagi narasi-narasi tengik-terasi-ilmiah. Aku memerlukan sesuatu yang melampaui bahasa, mengatasi doa-doa, menjejak jenuh dan memecah cinta untuk senja ini (Waduh, teu kaharti, euy!).
Huuhh, benakku telah mencapai pintu ambang kelu. Tapi, dari pada faktisitas ini semakin menjauh dari "riweuh senggama anxietas", rasanya lebih baik aku pergi, berlari mengukur nocturne duka sejarah dunia, meludahi orang-orang yang terbiasa menghibakan "iman"pada ideologi kapitalis yang sudah mencacah infrastruktur masyarakat dalam axioma ‘busuk’ linieritas peradaban, atau paling tidak membakar jenggot federasi metalik-sepulturis yang dangkal logika dan berbau flagiatisme.
Yah . . mungkin seperti inilah hidup di dunia ketiga. Dunia yang tak pernah merestui kehadiran anti-tesa untuk kejahatan ekonomi, skandal politik, kisruh modernitas vs lokalitas budaya, dan kekacauan religi. Ga percaya? Tuh.. tengoklah stylisasi generasi yang telah kehilangan ruang untuk menerjemahkan otentisitas dan puresitas, karena terkurung dalam citraan-citraan semu cyberisasi net-net porno, Facebook, McD, Mcintosh, dan MTV, terbakar trans-imaji goyang erotis artis ‘maksakeun’, yang memaksa Maria Ozawa bin Miyabi untuk datang ke Indonesia biar bisa lihat bahwa perempuan disini tidak ada yang jadi Cyborg Bodies, yang ada hanya jejaring teknologi nonsens dan wacana fisiologis murahan yang bercangkok dengan Male-Politic-Culture-Runtah-Building . . . Generasi yang terjerat Nomadisasi L-Men yang tak lebih dari definisi bentuk human+sampah, fusi industri kapitalis dan kedunguan reduksi eksistensi, serta olah libido visual untuk penghapusan dosa-dosa tubuh karena opini sakral telah menguap. Generasi yang terpagut dan terpasung jerat ‘Eliminasi’ dan membuat Zarathustra musti menyuarakan sabda barunya: “Aku hanya harus percaya pada ‘tuhan’ yang bisa menyanyi, melawak dan menari.., juga terpenjara improvisasi irasionalitas melalui tayangan dimensionik reality show, sinetron-sinetron pertobatan palsu, serta menganugerahi mereka sublimasi rasionalitas ala Nyi Roro Kidul, yang lebih norak dari ‘The Death Penalty’ and ‘Tales From The Cryprt’ dalam bentuk diskursus ketakutan zaman batu!
Atau liriklah mereka yang altar kebenarannya tak lebih dari masokisme kata-kata, gramatologi tanpa logika, bercengkrama dalam simulasi nista peradaban yang luka, persis hikayat sastra Jendra. Jangan pernah percaya pada agenda basi modernitas yang mengubur kesunyataan pada eforia naif sejarah (tak ada beda dengan grandeuritas lukisan eksekusi Goya, juga parodi binal tafsiran setengah hati para penyair karbitan akan realitas), apalagi dekonstruksi orang-orang post-strukturalis yang membaluri Palasari lewat parodi wacana yang fasis.
Omong kosong semboyan ‘no black, no balance’ untuk mereka yang hidup di dunia ketiga. Jangan pernah berkhayal layaknya Fukuyama bahwa sosialisme takkan bisa bangkit dari kuburnya disebabkan kapitalisme adalah akhir sejarah. Hilangkan iman kita atas segala konsepsi yang miskin evidensi bahasa!.
* * * *
Kumatikan neon dipojok kamar, hari sudah menjemput pagi sejak tadi. Ah.. ruangan ini semakin dingin dan bisu. Rasa lapar yang menghunjam, menyulutkan kembali kebencianku pada tiap kenikmatan histeria konsumerisme yang membuat Kierkegaard tak sudi menjejali diri. Namun, layaknya kebuntuan transposisi Nietzsche, pesona hibrid neraka instant pabrik-pabrik non-wulangreh itu tak pernah mendengar “Requiem Aeternam Deo” yang kualunkan. Sekilas kualihkan tatap pada udara dan kabut yang mulai mengental di ujung jalan. Kalutku masih bergumul dengan keluhan narsisitas jiwa. Neurosis, mungkinkah? Ah, paduli teuinx..!!!
Namun, dalam keremangan, rasa rindu tiba-tiba menyeruak. Menjalar bercecabang pada tiap persendian dan aluran darah. Aku ingin pulang . . . meski untuk meludah persis Odissey dan Malin Kundang. Huh . . nafasku berkelojotan saat aku ingat bahwa tak ada "rumah" bagiku. Aku serasa menjadi Manusia tanpa asal-usul dan sejarah, lipatan ab aeterno tanpa credo keberadaan. Caiyo!! Mitos apaan lagi tuh? agaknya mbah Levi Strauss mesti belajar menghitung segala tetes airmata, keringat dan darah, segala tunas jiwa, cinta, sumpah dan serapah, agar ga’ serampangan menyusun dan menyamaratakan pola mitos. Ini hidup mbah!!. Ambang batas kompleksitas antara hymne faktisitas dan monade eksistensialitas. So’ jangan dipolakan! meski kita membutuhkannya untuk jadi pegangan, karena kita harus berjalan, kita perlu kejelasan arah, tujuan, nilai, iman, prinsip, ideologi dan paradigma, karena kita mesti membidik, tidak kebingungan, dan, . . . stop!! Aku juga tau.!!! Masalahnya siapa dan apa itu kita, hingga menyandarkan semuanya pada setumpuk pegangan, aturan dan standar? Kenapa kita tidak berani meninggalkannya kalo ternyata semua itu terbukti hanya penebar kalkulasi picik bangkai kemajuan, statistika dungu zombi ketertiban, dan sakralitas palsu ilusi keabsahan!
Mungkin Walter Benjamin, federasi hippies, Mao, dependensia, domba Dolly dan New Age, terlalu kuno untuk menjadi tamsil atas semuanya, tapi tengoklah jidat, tangan, kaki dan seluruh tubuh kita yang sudah berbalur kealpaan akan dosa!! Mata yang kelam sebab sudut terlalu picik. Bahasa yang gagu karena mentalitas teramat pengecut. Kita tak lebih dari boneka-boneka yang layak masuk kategori minim nir-manusia Lyotard!! Hua . . ha . . ha . .
Ah, sudahlah, (telingaku mulai menangkap sesamar panggilan adzan, aku tersentak seraya menyibak rontokan rambut yang aku tak ingat lagi kapan terakhir make sampoo). Kegiatan seperti ini benar-benar tak berguna. Yah, mungkin untuk saat ini aku masih gabungan seseorang neo-essensialis sekaligus nihilis. Pusing dah jadinya, uuhhhh..!!!
Malam kian pergi, nestapa mataku menyiratkan kantuk. Panggilan Tuhan itu telah berada di hadapanku. Kepada Tuhan, bagaimanapun adalah pemangku terbaik tiap situasi kecamuk yang menyergap.
Sebuah hasrat, seuntai amarah, dan sebaris jemu telah kutuntaskan malam ini. Kurapikan kembali tiap lembaran imaji yang tadinya berserakan. Toh’ ternyata kita tak perlu berziarah, membaca setiap ayat sejarah, kalau hanya untuk berbenah…. meski gelisah… dan memang gelisah…

Bandung, 17 Mei 2010 Pukul 03.39 WIB
By: Nana Suryana

Sabtu, 15 Mei 2010

suara yang [seakan] kehilangan gairah


Malam beranjak dini. Duduk tenang, ada rokok dan kopi. Hanya senandung Sita lewat lantunan “Dona-dona” dan “Tuhan”-nya Bimbo yang ikut meramaikan suasana. Saat ini, aku hanya ingin bercerita tentang diriku. Cerita yang tidak ada sudutnya. Tentu saja, cerita ini bukan tentang sunyi, tapi cukup sepi. Biarlah mengalir saja. Toh, pada akhirnya tidak ada yang peduli, bahwa di luar kamarku lebih membosankan. Tapi ingat, aku tidak bisa bercerita dengan baik seperti Ibuku. Hanya saja aku suka, karena dalam ceritalah aku bisa menjadi apa saja, termasuk tentang pencarian dan kejujuran. Dan yang tahu tentang kebenarannya hanya diriku sendiri. Jadi maklum saja! Semoga kalian tak mencapnya “Kafir…”.
Huhhh… Kuawali sabda ini dengan meminjam kosa kata pantun; “Pertengkaran adalah sampiran, kesunyian menjadi isi”. Meski isi itu, dalam beberapa hal, terlihat anomali. Maklum, karena aku menulis dan bercerita memang tak mematok tujuan. Aku hanya ingin bergerak dari saat ke saat, setindak-tindak, laku dalam proses. Aku hanya ingin berlaku seperti yang diminati kaum nihilis-aktif, “Bergerak tanpa patokan, kreativitas yang lahir dalam suasana”. Hmmm… Entahlah!
Tapi, mungkin di sinilah anomali itu menimpaku. Ketakterpatokan itu terasa dalam gairah yang tidak kentara, atau mungkin tak ada. Berbeda dari pola pikir Nietzsche yang bergerak dalam gairah, menerima nasib dengan rasa cinta, “Kusayangi apa yang terberi”, atau menjadi “gila”. Aku justru hanya ingin menepi, merenung, dan pasrah menyerah, menghadap pada-Nya. Lebih seperti ketenangan air danau, yang menutupi gerak arus di bawahnya.
Tuhan, aku memang tak menampik apa pun yang diberikan oleh-Mu, tapi keberterimaanku itu tidak dengan “cinta”. Aku menerima-Mu dalam keadaan yang seakan, “Apa boleh buat…”. Dalam hal ini, aku lebih seperti yang dikatakan Albert Camus dalam Mite Sisifus, “Selalu tiba saatnya kita harus memilih antara renungan dan tindakan. Begitulah hakikatnya menjadi manusia. Kepedihan-kepedihan itu mengerikan. Namun untuk hati yg memiliki kebanggaan, di situ tidak mungkin ada pilihan tengah. Ada ‘tuhan’ atau waktu, salib atau pedang. Dunia ini mempunyai arti yang lebih tinggi yang melampaui segala hiruk-pikuknya atau tidak ada suatu pun yang benar selain hiruk-pikuk itu.”
Tapi, suaraku layaknya getar yang kehilangan gairah, atau ajakan Camus untuk merenung, mendapatkan arti yang melampaui kehirukpikukan itu, kini tak kutemukan lagi. Yang aku dengar saat ini dan lusa adalah “Tidak ada suatu pun yang benar selain riuh-rendah itu.”
Ahhh… Lewat tatap kosongku, aku hanya (coba) bicara tentang Tuhan, yang kata Amir Hamzah, ganas dan memangsa: “Engkau ganas/ Engkau cemburu/ Mangsa aku dalam cakar-Mu/ Bertukar tangkap dengan lepas”. Sementara dalam dialektika ini, aku berpegang pada titah Ahmad Wahib, “Warna yang beraneka rona kita hormati, bentuk yang beranaka ragam kita terima”. Tuhan di sini, ibarat kekasih, yang tak ingin kecintaannya berpaling. Karena itulah, aku jadi ingat nasihat Bapaku, saat mulai belajar mengkaji huruf “Alif, Ba, Ta, Tsa”. Bening suaranya masih terngiang dengan nyata, “Nak, jangan kau buat Gusti Allah ‘cemburu’. Karena tidak ada yang lebih ‘cemburu’ daripada-Nya.” Tentu saja aku terhenyak. “Kenapa Allah cemburu padaku, Pak?”. “Karena hatimu, setiap hari, lebih menzikirkan hal-hal duniawi.”
Saat itu, aku masih pening memikirkan maknanya. Kini, saat usiaku mulai menginjak kepala tiga, lapat-lapat suara syahdu yang dimainkan Bapa, mulai kupahami. Ungkap “cemburu” sebatas kiasan semata. “Cinta manusia pada apa pun, harus menjadi jalan untuk mencintai dan mendapatkan cinta-Nya. Karena itu, anak, istri, kekasih, jabatan, dan harta, baru dirasa bernilai ketika dapat menjadi selaras untuk menjumpai sang Khalik”. Bagiku, bertuhan, dengan demikian, lebih merupakan suatu pengalaman personal.
Dalam personalisasi semacam itu, Tuhan acap “ditemukan” dalam banyak “wajah”. Disini, dalam pengalaman personalku, Tuhan telah “hadir”; menegur, membimbing, dan memberi, meski terlihat samar. Dan aku merasakan persentuhan itu! Terlepas pendapatku ini mesti bertabrakan dengan Chairil Anwar, “…susah sungguh / Mengingat Kau penuh seluruh”.
Dan disinilah dilemaku itu dimulai. Mengingat, mengenal, ditegur, adalah pengalaman yang mewaktu, ketika alpa dan ingat, dapat bertukar lepas dengan tangkap. Padahal, Tuhan yang datang lewat wahyu, justru mengatasi waktu. Wahyu hakikatnya tak mewaktu, melampaui masa, di luar fase sejarah. Jadi, bagaimana mungkin “sesuatu” yang di luar waktu, dibahasakan dalam personalisasi pengalaman? Dan di titik inilah aku mulai sadar. Dilema itu punya titik temu: “Bertuhan adalah pengalaman personal yang terbahasakan”.
Pengalaman personal yang dimaksud di sini adalah sebuah situasi yang berada di luar kala, semacam ekstase kaum sufi, suasana hening ketika berzikir, atau blank tatkala menanggung sakit dan rindu. Dalam ketakmewaktuan itulah Tuhan hadir. Seperti “ketercerabutan” Rosul Muhammad dari realitas, kebersaatan, ketika menerima wahyu melalui Jibril. Nah, kehadiran Dia yang di luar kala itu, tak punya arti, sebelum dikatakan dalam bahasa orang ramai. Itulah sebabnya, al-Hallaj, membuka rahasia syatahat. Yazid al-Bustami bernubuat di kelimun umat. Tuhan yang mereka dapat di dalam ketakberkalaan, bukan mereka simpan, tapi dileburkan dalam kancah perbuatan. Bertuhan dengan demikian adalah perilaku. Adalah akhlak, sikap, tindak, dan cara mencinta.
Ukuran kebertuhanan pun menjadi bukan pada pengalaman personal dalam kesendirian, kealiman batin dan kesantunan pribadi, melainkan "kesalehan sosial", keberdampakan iman bagi orang banyak. Bertuhan dan beriman, dalam skala yang paling akbar, adalah pengalaman personal mi’raj Nabi Muhammad SAW, ketika mendapat pesan melalui bahasa langit. Setelah kembali, Muhammad mesti mewartakan pesan-Nya pada umat manusia dalam bahasa bumi.
Dari proses pencarian, perenungan, dan pemaknaan atas petuah Bapa dulu, kini aku semakin “siap” untuk Bertuhan sekaligus beriman. Keyakinanku ini kiranya sepadan dengan apa yang diyakini Emha Ainun Najib: “Bukanlah orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara membiarkan beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.” Bertuhan adalah melihat segala hal sebagai “tak ada yang bukan Tuhan”, al-fana’ ‘an al-nafs wa al-baqa, bi ‘l-lah. Segala nikmat dan laknat ibarat thariqah dan syariah, sebagai jalan, atau pintu, meraih Tuhan. Menyatunapaskan tugas lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Tapi tentu, bukan dengan keinginan untuk meraih surga sendirian. ”Di pintu-Mu aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling,” kata Chairil Anwar. Dan diri yang tak bisa berpaling itulah, yang barangkali menurut Bapaku, insan yang tak lagi dicemburui Tuhan. Wallahu a’lam…

Bandung, 15 Mei 2010. Pukul 04.09 WIB.

Sabtu, 20 Maret 2010

Jasa dan Omelanmu, Isteriku...


Isteriku, kelemahan lelaki, termasuk aku, ada di mata. Jika aku tak bisa menundukkan pandanganku, niscaya panah setan kan berlesatan dari mataku, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarku. Panah yang tertancap membuat darahku mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam diriku. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; Syahwat!

Adalah kau, istriku, yang selalu berada di sisiku, menjadi ladang bagiku untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempatku mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan adzab yang kelak diterima. Kewajiban yang kita tunaikan malah mendapat dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika aku terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, aku selalu ingat padamu, wahai istriku. Pada penyelamat yang melindungiku dari liukan indah namun membakar. Isteriku, bukankah kau juga dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama? Lebih indah malah. Membawaku ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh.

Isteriku, aku menyemai benih di ladangmu. Benih itu tumbuh dan mekar. Sembilan bulan kau bersusah payah merawat benih itu hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ, kau juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah kau yang aku salahkan. Bila tunas itu membanggakan, lebih dulu aku maju ke depan, mengaku, "Akulah yang membuatnya begitu". Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tanganmu. Aku paham benar akan hal itu.

Isteriku, umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Seperti aku, suamimu. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh kurus malah suka baju bermotif kecil.
Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah aku punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianku, memilihkan apa yang pantas untukku, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Ternyata benar juga kata pepatah, "Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri". Isteriku, tak mengapa aku mendengarmu berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

Isteriku, pagi hingga sore aku bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai menjelang malam. Mencari rizki. Setiap hari selalu begitu. Aku bekerja mengumpulkan harta, tapi terkadang aku tak begitu peduli dengan apa yang aku kumpulkan. Mendapatkan uang, beli ini dan beli itu. Untunglah ada kau yang selalu menjaga, memelihara, agar harta yang kuperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia. Ada kau yang selalu siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran pula.

Tak terbayang olehku jika aku mesti menggaji seseorang untuk menjaga hartaku 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten dari pada kau, istriku. Aku ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya jika aku mendengarkan omelanmu, karena mungkin kau lelah menjaga hartaku yang semakin hari semakin membebani.

Pulang kerja, aku memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Aku butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan, aku cuma tahu ada hidangan: nasi, ayam, sayur, sambal dan lalapan. Tak terpikir olehku kalau harga beras melambung. Pantesan tadi pagi kau sempat berdebat, menawar, dan meminta tambahan anggaran belanja.

Tak perlu aku memotong sayuran, mengulek bumbu, memilah cabai dan bawang. Tak perlu pusing aku memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang aku tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan, menyisakan sedikit saja untukmu, si juru masak. Tanpa perhitungan kau selalu menjadi koki terbaik untukku. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci olehku.

Isteriku, maafkan aku... Setelah mengingat peranmu selama ini, akhirnya aku menyadari, betapa capeknya kau setiap hari. Pantesan saja kau sering mengomeliku. Mungkin kau capek, mungkin kau jenuh dengan segala beban rumah tangga yang ada di pundakmu.

Istriku, kau telah berusaha membentengiku dari api neraka, memelihara hartaku, menjaga penampilanku, mengasuh anak-anakku, menyediakan hidangan untukku. Untuk segala kemurahan hatimu, tak mengapa aku mendengarkan keluh kesah buah lelahmu.
Mulai sekarang, aku hanya akan mengingat kebaikan-kebaikanmu untuk menutupi segala cela dan kekuranganmu. Isteriku, bila kau sudah puas menumpahkan kata-kata,
izinkanlah aku menasehatimu, dengan cara yang baik, dengan penuh tawa canda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji antara kita. Karena itu sudah menjadi kewajibanku, untuk membimbingmu...

UNTUK ULANG TAHUN ISTERIKU


Isteriku... tanpa terasa dua tahun sudah kau bersusah payah mendampingiku, arungi samudera kehidupan dalam bahtera rumah tangga. Disana ada tawa, disana ada canda, disana ada derita, disana ada derita, dan disana pula ada cinta!

Tak terasa pula kalau hari ini usiamu telah bertambah. Kau berulang tahun. Pikir-pikir, ternyata usia kita telah menua ya? Kehadiran Syahda, buah dari cinta kita, itu sebagai bukti. Sebentar lagi, anak semata wayang kita kan genap satu tahun. Meski belum begitu ketara, tapi panggilan "Ayah" dan "Mamah" kerap terdengar dari logatnya yang lucu. Ohh... Betapa bahagianya aku sebagai bapaknya melihat perkembangan Syahda yang cantik, lucu, lincah nan cerdas. Apa kecerdasannya mawarisi pemikiran bapaknya ya? Hehehe.... Tentu itu semua berkat sentuhan tanganmu yang penyabar, telaten dan penuh kasih sayang dalam mengasuh, membimbing dan mendidiknya. Maklum, aku terlalu sibuk menantang kerja, demi keberlangsungan hidup keluarga kecil kita.

Isteriku... Disaat kau menapaki umur baru, ingin rasanya kugoreskan kata sebagai bukti keabadian rasa cintaku. Bukan aku tak mau memberikan hadiah lebih seperti yang kau pinta, tapi karena keabadian kata kan terasa lebih bermakna ketimbang perhiasan semata?

Isteriku... Biar tak ada pesta di rumah kita, biar tak ada kerlip lilin menyertai kita, biar tanpa undangan teman & handai taulan bersama kita, tapi semuanya terasa ada dalam dekapan hati sanubari kita. Hati kita berpesta dalam sujud syukur kehadirat-Nya, kerlip lilin senantiasa menyala dalam gemuruh cinta kasih kita, kebersamaan tanpa teman terasa lebih indah dalam lantunan keluarga kecil kita; Kau, Aku dan buah hati kita; Khalis Syahda Kirana Mahardhika Galur Suryana Putri.

Isteriku... Maafkan aku bila selama ini aku belum bisa membahagiakanmu. Aku belum mampu memberikan semua yang kau harapkan. Jerih payahku selama ini hanya bisa memenuhi kehidupan kita apa adanya. Kesederhanaan, kebersamaan, pengorbanan dan penantian, selalu saja berkelindan dalam amuk rasa keseharian kita. Tapi bersamamu, wahai isteriku, aku merasakan hidupku tak lagi sia-sia. Ada penantian dari seluruh peluh keringatku, ada penghidupan dari jerih payahku. Tak mengapa menahan rindu di selang waktu, tak apa pikiran beku tak kenal buku, tak peduli ocehan teman karena tekanan, tak apa peringatan atasan karena kerjaan, tak apa menahan lapar karena tuntutan, itu semua demi kau, anak isteriku.

Isteriku... Kini akhirnya kusadari semuanya, kiranya benar apa yang digoreskan Mira W dalam karyanya, "Ada yang lebih penting dari pekerjaanku, ada yang lebih penting dari teman-temanku, ada yang lebih penting dari semua aktifitasku... Dia adalah keluargaku...".

Semuanya kini berubah, wahai istriku! Hasrat mengubah dunia yang aku kumandangkan saat gelora muda masih membara, kehendak bebas mengguncang negara yang kuledakkan dalam arena wacana dan dialektika, kini semuanya tinggal sepenggalah. Sebatas harapan dalam kenangan. Tak apalah, duhai isteriku! Aku tak menyesali hal itu! Biar dikata orang aku telah kehilangan roh gerakan dan idealisme, biar dikata orang aku bukan lagi sosok pemikir dan berjiwa sosialis lagi, semua itu tak penting lagi bagiku, asal aku tak kehilangan identitas dan jati diri sebagai suami saja.
Kini aku hanya ingin bersamamu, duhai isteri dan anakku... Aku hanya ingin senantiasa menggendong anak kesayanganku, membimbingnya, memapahnya, mengganti popoknya yang basah, dan mendongengkan kisah kejayaan Nusantara, para patriot bangsa, dan keperkasaan leluhur kita, agar kelak ia tak menjadi insan yang buta akan riwayat dan sejarah para pendahulunya. Itulah yang ingin kuwariskan pada putri semata wayangku, disamping deretan buku dengan ratusan judul yang sengaja ku simpan di rak itu.

Kau pun tak melarangnya, isteriku, saat aku nyanyikan lagu "Indonesia Raya", "Ibu Pertiwi", "Desa Tercinta", "Internationale", dalam menina-bobokan anak kita. Kau juga membiarkannya saat ku ceritakan dongeng kepahlawanan Balaputra Dewa, Gajah Mada, Sri Baduga Maharaja, Ken Arok, Wali Songo, Diponegoro, HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Semaun, Kartosoewiryo, pemikiran Syeikh Lemah Abang, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy'ary, maupun Gus Dur.

Kau bahkan tersenyum simpul saat melihatku berjingkrak memperagakan sosok Hanoman dalam epos Ramayana, Bima dalam serial Mahabharata, kisah Jenghis Khan, Napoleon Bonaparte, Julius Caesar, Laksamana Cheng Ho, Umar bin Khottob, Salahuddin al-Ayubi, Karl Marx, Ivan Illich, Paulo Freire, maupun Adolf Hitler.

Kau bahkan ikut tertawa saat mendengarkan dongengku tentang Abu Nawas, Putri Cinderella, Peter Pan, si Kabayan, si Kancil, Lutung Kasarung, maupun Ciung Wanara.
Isteriku, aku tahu itu semua kau biarkan karena kau tahu misi terpendamku. Dan aku pun tak menyangka, kalau kiranya kau juga punya misi tersendiri. Sering kudengar lantunan ayat suci al-Qur'an dan gema "Sholawat Badar" saat kau hentikan tangisan Syahda. Kau ceritakan penggalan sejarah Adam-Hawa, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, Khulafaur Rosyidin, Al-Ghozali, Samarqandi, Ibnu Katsir, bersama referensi deretan kitab klasik lainnya. Selalu kau bisikan do'a-do'a disetiap aktivitas yang akan Syahda lakukan. Rutin kau ajarkan huruf "Alif, Ba, Ta, Tsa" disaat senja mulai temaram, dan sering kudengarkan panjatan do'a untuk Syahda, dan juga untukku, suamimu, diakhir sholat tahajudmu. Oohh... Kiranya nafas Islam yang kau bawa. Dan aku, membiarkan hal itu. Biarkan Syahda tumbuh dari ruang dua dimensi yang berbeda itu, karena dia memang mewarisi dua trah yang berbeda. Trah Abangan yang diwariskan bapaknya dari silsilah Rimpaknangsi, Hanum, Dayeuhluhur, dan trah kyai-santri bawaan Ibunya dari Bugelan, Kawalu, Tasikmalaya. Sungguh dua perbedaan yang bersatu padu, yang akan membentuk watak pluralisme, egaliter dan humanis dalam diri Syahda.

Tapi pada akhirnya, Isteriku, seperti yang dikatakan Apha pada kita berdua, pada dasarnya kita selaku orang tua hanya berkewajiban untuk membesarkannya, merawatnya, mendidiknya, membimbingnya dan mengarahkan. Mulai sekarang, mari kita besarkan Syahda dengan rizki yang halal, kita rawat dia agar senantiasa mendapat perlindungan, kita didik dia dengan ilmu yang bermanfaat, kita bimbing dia ke jalan yang benar, dan kita arahkan dia agar kelak mampu mengaktualisasikan hasil dari jerih payah kita semua. Dan aku yakin seyakin-yakinnya, wahai isteriku, kelak Syahda akan tumbuh sesuai harapan kita, dia kan besar menjadi kebanggaan kita.
Akhirnya, Selamat ulang tahun isteri tercintaku... Aku sangat mencintaimu!
* * *
Bandung, Jum'at, 19 maret 2010

Selasa, 23 Februari 2010

Fairy Vearth


Aku ingin menyapamu dengan kata yang sedikit mengelak, mungkin. Setelah segala yang begitu complicated untuk kupahami. Bukan sekadar mengilhamkan jawaban atau melepaskan de javu beban aku merapatkan pikir, tapi sebaliknya, menyelakan setitik harapan meski tidak menuntaskan persoalan. Dalam haru yang terkadang angkuh, dalam firman diri yang menjauh. Dan mesti kau tahu, aku hanya kan setia di sini, pada keabadian rindu yang hampir membisu.
Sebab rangkaian kata dan arti yang selalu bersayap itulah, aku mungkin boleh berbahagia. Bernafas sejenak dalam deru yang tak kunjung lapang. Sebelum nanti akhirnya waktu menguraikan perihal. Apa yang tak kau yakini, apa yang tak kusesali. Lalu, kalau mungkin sempat, kita kan berbagi dalam suatu cita yang kita percaya.
Aku menantimu dengan paras yang sedikit berdebu. Kerling yang senantiasa nanar. Dan ucap yang sering tak terlontar. Atau kadang terbaring lemah oleh penyakit yang tak kuasa kumenghindar. Tak perlu risau..!! Begitulah cara kita melumat persoalan, melipat kendala hidup. Kemudian kita sama-sama menertawakan hal yang itu-itu juga. Tenanglah, dan jangan berkata apa-apa selain mengenang semua dengan hati-hati. Karena ternyata jejak tidak selalu membawa kita pada ruang yang “benar”. Tapi, tentu percayalah..!! mestinya kan ada jalan kita membuat simpul kasih yang tak lekang oleh apapun.
Kata-kata ini semakin melayang, sebab ia ditulis lewat hati yang gamang. Dan merah nadi yang semakin menggenang. Hanya sekali lagi, dan telah kuulang sekian kali, aku telah mengikhlaskan semua. Apa yang lalu, dan yang kan terjadi, jerat janji ini tak kan mengelupas. Kalaupun ada perilakuku yang menimpangkannya, maka itu tak lebih batas kelimbunganku mengatup jerit emosi. Karena, dan begitu juga kuyakin dalam rasamu, kita tak ingin bersekat. Saling menyua dalam bayang. Dan itulah ketakutanku; keterpisahan akhirnya membuat rautku perlahan mengerjap dari cintamu. Tapi, Toh, itu tak kan terjadi bukan?
Hmm, sebelum segala dendam masa depan itu tiba, aku hanya ingin mengolah kejelasan tentang semuanya. Clear ‘nd distint. Bahwa apapun yang mesti kita jalani, aku kan senantiasa menanti dirimu menyapaku lagi..!! cukup yakinlah, aku selalu di sini..!! dan untuk itu, tak perlu lagi rasanya kita memperdebatkan perihal bagaimana, atau menjenguk perihal yang membuat luka. Kita punya fairy vearth yang tak seorangpun dapat meraihnya. Di sanalah cita dan cinta kita sandingkan dengan keabadian, hingga tiba kalanya kita saling menjemput secara nyata. Just love the way we are..!!
Kata-kata ini sedikit lagi menemu ujungnya. Semoga segala gundah sudah ditelannya. Sebab seperti kau tahu, entah kenapa aku tak lagi bisa menyusunnya dalam ladang prosa laiknya dahulu. Aku takut ia tak lagi mewakili semua yang ada padaku tentang dirimu. Dan bahkan sengaja kubawa diriku mengelak darinya, karena kuingin menjumpaimu dengan nafas yang bisa kau kenali. Tangan yang bisa kau pegang. Detak yang bisa kau dengar. Dan segala ketelanjangan diri yang hanya tertuju padamu. Sehingga bila kerinduan itu tiba, aku juga dapat menengadahkan mataku di depan parasmu yang selalu betah kudiami. Ah.. aku menyayangimu.

Biarkan Berlalu...


Cinta adalah suatu elemen hidup yang amat misteri dan tersendiri. Ia sentiasa ada bersama denyut nadi. Tak peduli apakah orang itu sudah tua atau pun muda, rasa cinta tetap ada. Usah disangka insan yang renta sudah tidak memiliki cinta. Usah disangka orang yang sudah keluarga sudah tiada cinta. Cinta memang senantiasa muda, tidak pernah berlari bersama usia yang kian bertambah. Jauh di dalam hati, cinta terus segar dan mewangi.

Meski telah dibalut kebahagiaan bersama keluarga, ada kalanya aku masih mengingatnya. Walaupun semuanya itu sudah lama berlalu, ia terasa begitu dekat di hati. Ku masih ingat dengan suaranya. Dalam benak masih nampak senyum tawanya, dalam angan masih terdengar senda guraunya.

Rasanya baru semalam kenangan itu berlalu. Tahu-tahu usiaku sudah menua. Sudah bertahun rupanya kau pergi tinggalkan kehidupanku, atau aku yang pergi membawa kejujuranmu.

Terkadang hidup terasa sunyi dan mau dengar kembali semua yang pernah kau dendangkan. Ku mau kita mengulangi kenangan lalu. Namun semua itu tak mungkin, sebab kita sekarang sudah hidup dalam lingkungan yang berbeda, jalan hidup kita telah ditakdirkan untuk tak bersama.

Wahai insan yang pernah bertakhta di hati, di manakah sekarang kau berada? Apakah kau juga sering mengingatku sebagaimana aku sentiasa mengingatmu? Aku sering tertanya dan mencari kabar, di manakah dan bagaimana kehidupanmu sekarang?

Ku sering membujuk hati supaya menerima hakikat bahwa kau telah tiada disampingku. Kau terlahir bukan untukku, meski kau sempat mengisi ruang hatiku. Kisah kita hanya sepenggalah. Tapi hatiku sukar hendak percaya. Aku selalu mengingatmu dan terus mereka cerita agar dapat dipertemukan kembali. Meski hanya sekejap mata! Aku amat merindukanmu. Ku mau kau segera berada disampingku. Ku mau kau mendengarkan keluh kesahku!

Sungguh misteri perasaan ini. Bayangannya selalu datang dan terus datang tanpa mempedulikan hakikat siapa aku sekarang, dan siapa dia saat ini. Aku terus teringat dan terus mengingatmu. Aku merindui suaranya, merindui gelak tawa manjanya yang pernah tersimpan jauh di sudut hati. Ku ingin sekali mendengar kata cintanya terucap lagi.

Itulah cinta... Ia misteri yang tidak pernah berjaya diberikan jawaban oleh manusia sejak dulu hingga kini. Tuhan menciptakan manusia bersama cinta dan kasih sayang. Bagaimanapun kita coba menghilangkannya, ia tetap datang dan pasti datang.

Andai kita diberi kesempatan untuk mengulangi semua kehidupan, ingin aku melakukan yang terbaik untukmu. Namun, itu hanyalah ilusi. Kehidupan yang telah pergi tidak mungkin terulang lagi. Usia yang telah terguna tidak mungkin kembali. Urat telah timbul, kedut di wajah telah jelas, tenaga semakin berkurangan, mata kian kabur, langkah semakin surut, tapi hati masih mekar dan segar mewangi.

Wahai hati, sadarilah bahwa hidup ini pergi bersama sejarahnya. Sejarah yang telah berlalu tidak perlu diulang. Biarkan ia kekal sebagai sejarah yang boleh dipelajari sebagai tauladan dan pengalaman darinya. Besok yang bakal dihadapi lebih perlu untuk dibina bersama besarnya tekad dan tingginya azam. Muncullah sebagai manusia yang gemilang lagi cemerlang.