<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • "....ada kisah yang belum usai...."

    Akhirnya langkah ini tiba pada sebuah sketsa. Dalam kecamuk, amuk dan peluk. Ada yang terkunci saat ingin membuka segala. Meski cuma lewat kata. Satu hal yang kuyakin; adalah jengahku pasti hadir dalam lembaran ini. Hanya, bacalah! Simaklah! Lalu silahkan saja sinismu terngiang dan kan ada rutuk yang melenggang. Atau paling tidak, pandanglah! Dan jauhkan ia pelan, kelak tak ada perihal yang membayang. Hingga entah kapan kan terhiba kata yang dikurung naifnya keangkuhan...

  • Kuwariskan semua ini hanya untukmu...

    Mahakarya inilah salah satu warisan yang akan kuberikan. Maka kutulis sabda ini untukmu, Anakku. Meski Ayah sendiri sebenarnya tak mengerti di mana bermula maksud ini. Tapi ayah tidak memiliki kemampuan menuliskan isyarat hati. Ayah juga berharap dirimu damai adanya. Sebab doaku telah kurangkumkan pada mega. Ia kan menaungimu dari durja dunia. Dan bagi ayah, beritamu adalah segalanya. Apa yang ayah jalani tidak lagi berarti bila kamu, anakku, tak lagi mengilhami! Kamu adalah anakku, dan anak dari ingatan yang kuwariskan padamu...

  • Merayakan Keberagaman Keberagamaan...

    Setidaknya ada tiga hal yang ingin disampaikan tafsir emansipatoris; Islam Emansipatoris ingin memberikan perspektif baru terhadap teks, Menempatkan manusia sebagai subyek penafsiran keagamaan, Memiliki konsern kepada persoalan kemanusiaan ketimbang pada persoalan teologis. Islam Emansipatoris ingin mengalihkan perhatian agama dari persoalan langit (teosentrisme) menuju persoalan riil yang dihadapi manusia (antroposentrisme). Penekanannya pada aspek praksis, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai ritualisme melainkan pembebasan masyarakat dari segala penindasan!

Twitter
Tampilkan postingan dengan label RESONANSI KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESONANSI KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2011

SURAT KE DELAPAN


Aku tak biasa menulis surat. Tak biasa merangkai kata-kata yang bisa dibilang “indah”. Tak biasa mengungkapkan pelbagai rasa meski hanya dalam sebuah huruf “a” yang dituangkan dalam lembar kosa, apalagi lebih dari itu.

Tapi aku pernah menulis tujuh buah surat yang sayangnya tak pernah kukirimkan kepada dia yang kutuju. Sebab aku malu. Aku malu jika aku harus menatap matanya yang cokelat, merasakan gelegak cinta yang tak bisa kutahan. Aku malu jika aku harus menyodorkan tanganku kepadanya, berharap dia menyambutku, lalu pelan-pelan membaca surat-suratku di hadapanku. Lantas kau pasti bertanya, kenapa aku tak mengirimnya lewat pos saja? Kau tahu, aku laki-laki. Aku lebih malu jika aku menunjukkan ketidakjantananku di hadapannya. Sebab kau tahu, laki-laki harusnya berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada wanita yang dicintainya. Tidak seperti aku.

***

Aku menemukan mereka di tumpukan laci paling bawah lemariku. Tidak kulipat. Karena aku tak mau surat-suratku menjadi pucat dengan bekas-bekas lipatan, seperti kerut pada wajahku yang mulai menua. Kulihat sekilas, melahirkan senyuman. Dan seolah kerinduan, aku menyengajakan diri duduk di pinggir jendela dengan matahari senja, membaca mereka, satu per satu.

/1/
: zane,

Aku cuma perlu melipat rindu. Lalu kusembunyikan di bawah bantalku. Sebab malam ini aku sangat ingin memimpikanmu.

/2/
: zane,

Tidakkah kau ingat malam itu, saat kita berdua menuliskan berbait mimpi di atas kertas putih? Lalu melipatnya hati-hati menjadi sebuah pesawat mini yang kita terbangkan ke langit tinggi?

Dan tidakkah kau ingat, di malam hari keempat belas bulan berikutnya, aku membawa sepotong bulan ke rumahmu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Lalu kuletakkan tepat di pangkuanmu? Agar kau tahu, betapa besar pengorbananku untukmu?

/3/
: zane,

Akhirnya selesai kubuat sebuah perahu yang cukup untuk kita naiki berdua mengarungi samudra kehidupan. Sudah kusiapkan pula dua kail untuk kita memancing ikan, menjadi bekal agar tak sampai kelaparan.

Tenang, perahu ini takkan mudah oleng. Takkan mudah goyah terkena terpaan ombak kehidupan. Sebab aku sudah cukup lama belajar mendayung, mengenali ombak dan menjinakkannya. Kau tak percaya?

/4/
: zane,

Rumah baru kita cuma berlantai plester, bukan keramik. Maka kau tak boleh berbaring di sana, tak baik untuk kesehatan. Tidak pula ada langit-langit. Hanya genting tua pemberian tetangga saat perkawinan kita. Dengan begitu kita bisa mendengar senandung hujan, katanya.

Tapi sudah kusiapkan sebuah kasur untuk kita berdua, meski cuma kasur kapuk tua yang kubeli dengan harga murah. Tanpa dipan. Tanpa bantal. Tanpa guling. Pun tanpa selimut. Sebab kau sudah punya aku, yang menjadi semua itu.

/5/
: zane,

Kita belum punya kendaraan. Tapi bukan berarti kita tak bisa berjalan-jalan. Tenang saja, kita tetap bisa menjejak bebasah rerumputan di akhir pekan. Kita juga tetap bisa makan ayam goreng di warung sebelah restoran. Atau sekali-kali kita bisa pergi menikmati belantara hutan, menikmati kealamian.

Terserah. Asal jangan kau ajak aku pergi melihat bulan.


/6/
: zane,

Aku bukan Sukab yang mampu memotong senja seukuran kartu pos. Aku bukan pujangga yang bisa menyampaikan cintanya kepada angin, kepada awan, kepada setiap unsur kehidupan. Sebab aku hanyalah suamimu, pegawai negeri biasa yang terbiasa menghitung angka-angka. Mengeja tiap bait logika.

Aku ingin menyatakan rindu, tapi tak bisa. Aku ingin menikmati bulan madu, juga tak bisa. Maaf, aku sudah harus bertugas ke luar kota. Meninggalkanmu di sana, sendirian. Meski belum genap dua bulan kita bermesraaan.


/7/
: zane,

Kau sudah minta mangga muda meski baru dua bulan kita bergenggaman tangan. Menyatukan badan. Menyatukan kehangatan. Padahal sekarang sedang tak musim mangga. Cuma ada duku, durian, dan rambutan, yang bahkan sampai diobral di pasar. Tapi kau tetap terus merengek minta mangga muda. Sampai kadang-kadang mengancam takkan mau makan nasi, tak mau mandi, dan tak mau tidur denganku lagi.

Aku ke Kota Sidat. Ke Sili. Katanya tak ada mangga di sini. Aku terus ke Tripang hingga Baronang. Tetap saja tak ada. Sampai-sampai aku kehabisan uang, tak bisa pulang.

***
: zane,

Aku ingin membuatmu bangga. Aku akan melakukan apa saja asal bisa membuatmu bahagia. Makanya aku rela berjalan menyusuri rel kereta api sembari mencuri pandang ke halaman rumah-rumah yang berjajar rapi di sebelah kiri dan kanan. Tapi tetap tak ada mangga muda. Jangankan itu, pohon mangga pun tak ada!

Maka aku pulang dengan wajah tertunduk. Kecewa.

Tapi tiba-tiba, saat aku sampai di depan rumah, kau menyambutku dengan pelukan. Tak peduli dengan bau badan yang sudah menyengat. Sebab berhari-hari aku tak mandi. Kecuali dengan keringat.

(dan kulihat di atas meja ada sepiring mangga muda, entah dari siapa)

***

Tidak ada surat kedelapan. Hanya tujuh. Dan cukup tujuh. Meski tujuh, itu sudah cukup untuk membuat mataku berair. Sebab satu per satunya adalah kenangan, dan juga perjalanan. Sebab segalanya adalah kerinduanku untuknya, yang kini sudah tak ada. Sebab… ah, aku tak tahu.

Di dinding, tepat di atas ranjang kami itu, terpasang sebuah pigura dengan dua buah senyum yang terlalu manis untuk kukenang. Aku masih menatapnya sejenak. Menatap wajahnya yang sudah tak bisa kulihat lagi.
Dan aku menangis, untuk kesekian kali.

Pelan-pelan aku turunkan pigura itu. Kupandangi sekali lagi. Sudah saatnya aku menyimpan kerinduan, menetralisir kesedihan. Tapi seperti ada yang janggal di sana. Seperti kertas, menyembul menunjukkan dirinya. Dan memang kertas yang terlipat rapi dan tampak sengaja diselipkan. Pelan-pelan kubuka. Lalu kubaca.

Kepada suamiku yang tersayang, Apa aku masih hidup saat kau menemukan tulisan tanganku ini?
Kurasa tidak. Sebab tak mungkin kau punya waktu untuk mengurusi hal-hal kecil di rumah ini. Apalagi menatap kenangan kita. Kecuali ketika kau ingin membenahi rumah ini, untuk melenyapkan kerinduanmu akanku yang sudah tak bisa kau lihat lagi.

Suamiku, aku benar-benar sudah mati, ya?
Baiklah. Tidak apa-apa. Kau jangan menangis, ya, di sana. Sudah, ubah sifatmu yang sangat mudah khawatir itu. Laki-laki harus tegar. Meski kuakui, sebab itulah aku tak pernah menceritakan penyakitku ini kepadamu. Aku takut konsentrasimu akan terganggu karenaku…


Suamiku…
Aku ingin menceritakan sebuah rahasia. Kau tahu? Aku sudah membaca ketujuh suratmu. Diam-diam. Kau tidak marah, kan?

Surat pertamamu menceritakan rindu.
Apa kau menuliskannya saat kita masih berpacaran?
Sepertinya iya.
Katamu kau menyembunyikan rindu itu di bawah bantal. Tapi kau tahu, aku menemukan rindu itu. Lalu kusembunyikan di tempat lain. Sebab aku tak mau muncul di dalam tidurmu. Aku lebih ingin kau datang padaku dan mengatakan rindu dengan gambling kepadaku. Meski tidak mungkin seperti itu…

Surat keduamu membuatku tersentuh. Aku tentu saja ingat hari itu. Saat itu, kau malu-malu memasangkan cincin di jariku, mengatakan cinta untuk pertama kalinya di depanku. Padahal sudah tiga bulan kita berpacaran. Tapi baru sekali itu kau mengatakan cinta. Kau tahu, aku benar-benar bahagia. Apalagi saat kau memeluk dan menciumku dengan hangat.
Dan tentang bulan, aku masih terus menyimpannya. Pun sampai aku menuliskan surat ini. Masih kusimpan di ruang hatiku yang gelap. Tapi karena kau sudah membaca surat ini, kau harus mengambil bulan itu kembali (kuletakkan di lampiran paling kiri).

Suamiku…
Apa kau ingat apa syarat mutlak wanita yang kau terima jadi istrimu?
Kau bilang saat itu, wanita itu harus mau dan bisa hidup susah denganmu. Maka aku menerimanya. Sebab aku sudah terbiasa hidup di lingkungan yang biasa-biasa saja. Maka aku menikmati rumah tua kita yang tanpa atap, kasur tua tanpa dipan, dan jalan-jalan kita di tiap akhir pekan (meski tak berkendaraan). Asalkan ada kau, aku sudah sangat bahagia. Sebab kau tahu, aku sangat mencintaimu…

Tentang Sukab:
Ah, kau memang sangat mengaguminya, ya? Sampai-sampai kau mengutipnya dalam suratmu untukku. Tapi tak apalah. Aku juga suka pada Sukab. Tentu tidak sebesar rasa sukaku padamu. Sebab kau telah membawa bulan ke pangkuanku.

Suamiku…
Aku tertawa membaca surat ketujuhmu. Maaf… hari itu aku sangat kesal sekali. Dan kau malah pergi berhari-hari mencari mangga muda. Dan pulangnya kau kubuat cemburu dengan tidak menceritakan dari mana mangga di atas meja itu. Baiklah kuberi tahu, mangga itu dari tetangga kita. Dia punya pohon mangga di belakang rumahnya. Kau pasti tak tahu, kan? Makanya kubilang, lebih pedulilah dengan lingkunganmu. Kenali mereka. Jangan hanya diam saja di rumah dengan alasan capek sehabis bekerja. Ya? Tapi aku bahagia. Sangat bahagia. Karena ternyata kau masih rela berkorban untukku.

Suamiku...
Aku tidak menangis saat menulis surat ini. Makanya, kau juga jangan menangis saat membacanya.
Hah, aku sudah mati, ya?
Dan maaf, kalau janin ini juga ikut mati…

Suamiku…
Maaf kalau tulisanku berantakan. Dan terlalu banyak aku berbicara.
Jaga dirimu baik-baik.

(Bukankah aku sudah menepati janji? Untuk mencintaimu sampai aku mati?)

Istrimu, Zane, yang mencintaimu…

Maka aku menangis. Benar-benar menangis. Tetes-tetes air mata membasahi kertas itu sebelum kulipat seperti sedia kala. Lalu kusatukan dengan tujuh surat lainnya. Kukembalikan ke tempat semula. Di bilik rahasia, tempat persembunyian cinta.



Cuplikan kisah dalam buku “Dongeng Afrizal” karya Pringadi Abdi Surya.

Sabtu, 19 Maret 2011

kenanganku tentang buku, membaca, menulis dan diary!


Aku suka membaca sejak kecil. Naluri ini, awalnya ku kira alamiah. Aku bisa dengan ringan mengambil sobekan kertas di jalan, atau membaguskan koran bekas bungkus kacang, untuk kemudian dibaca. Tapi kini aku sadar, kealamiahan itu lebih karena tekanan ekonomi, yang membuatku tak mampu membeli buku, dan bilik kesadaranku merespon dengan menghargai kehadiran sobekan kertas itu. Tak heran sehabis membaca sobekan koran itu tanganku terasa pedas, karena sebelumnya harus membersihkan sisa cabai yang masih melekat di koran, atau tanganku bau karena harus memindahkan dulu terasi dari bungkusnya.

Dan begitulah, suatu hari aku menemukan ‘jimat’ dari kelusuhan itu. Sebuah buku tulis merk “leces” lusuh kutemukan dari sudut rak lemari. Masih aku ingat, buku leces itu bersampul ungu. Warnanya sudah pudar, ringnya rapuh, dan sudutnya telah habis dimakan rayap. Buku itu milik Bapa. Awalnya aku menduga, buku itu catatan tagihan pajak atau denda iuran kerja bakti. Maklum Bapaku seorang ‘abdi negara’. Jabatan Ketua RT 13 RW 06 Dusun Rimpaknangsi, Desa Hanum, disandangnya lebih dari 8 tahun. Tanpa gaji dan uang pesangon.

Rupanya dugaanku salah. Nyatanya buku itu adalah buku diary dan otobiografi pribadi Bapa. Ditulis dengan menggunakan ejaan lama, dan gaya penulisan khas orang tua lulusan Sekolah Rakyat tahun 50-an. Hmm… Rupanya bapaku pembaca dan penulis juga! Satu hal yang kukagumi dari buku itu, aku tertarik pada catatan bapa yang menceritakan kisah “Ramayana” dan “Mahabharata atau Bharatayuda”. Ditulis dengan menggunakan gaya pupuh kinanthi, asmarandhana, dangdanggula, pangkur, sinom, dan lainnya.

Begitu tertariknya aku dengan kisah itu, sampai akhirnya kuminta buku itu dari Bapa. Sambil tersenyum Bapaku bilang, “Silahkan Nak, kau ambil saja buku itu! Bahkan kalau kau mau, akan bapa dongengkan kisah kepahlawanan itu, asalkan kau mau mijitin kaki Bapa lebih dulu”. Aku bersorak. Girang tiada tara!

Maka sejak malam itu, tiap malam jelang tidur, aku selalu dinina-bobokan Bapa dengan kisah keperkasaan Hanoman dalam epos Ramayana, kegagahan Bima dalam Mahabharata dan Bharatayuda, keshalehan Sukrasana dan kepicikan Somantri dalam Arjuna Sastrabahu, peperangan antara Pajajaran dan Galuh dalam legenda Aria Banga dan Runcangrarang(Ciung Wanara), kejahatan Purbararang atas Purbasari dalam cerita Lutung Kasarung di kerajaan Pasir Batang, kisah si Kabayan ngala roay, si Kabayan ngala tutut, dan kisah fabel lainnya. (Kelak, buku diary Bapaku itu menjadi "jimat" dan salah satu koleksi buku milikku dan menginspirasi jalan hidupku).

Setelah buku roman, perkenalanku dengan buku lainnya dimulai. Suatu malam, saat mencari obat nyamuk di atas lemari, kutemukan sebuah novel. Judulnya “Kutunggu di Pintu Neraka” karya Bastian Titto. Kukira buku itu tak boleh dibaca anak kecil, karena letaknya yang di atas lemari, dan tak pernah menjadi bahan ceritaan Bapa kalau mendongengiku saat malam. Tapi setelah aku baca dengan agak sembunyi, ceritanya tak ada yang layak disembunyikan. Cerita silat tentang kependekaran Wiro Sableng, muridnya Shinto Gendeng dari Gunung Gede, dalam membasmi kejahatan yang ditimbulkan oleh Pangeran Matahari.

Setelah membaca buku itu, aku menjadi liar. Buku-buku serial Wiro Sableng dan cerita silat lain kiriman dari kakakku, Ka Eko di Bandung, tak pernah lalai kupacari. Maka aku pun berkenalan dengan Bidadari Angin Timur, Puti Andini, Luh Rembulan, si Raja Tidur, Tua Gila dari Andalas, dan tokoh antagonis lainnya. Beberapa karya Kho Ping Hoo pun berturut-turut aku tamatkan, serial “Si Pedang Tumpul”, “Rajawali Sakti”, “Tangan Geledek”, “Naga Racun”, sampai “Perawan Lembah Wilis”. Dan kecerdasan anak-anak dalam “Lima Sekawan”, Sapta Siaga, sempat aku gagahi.

Selain itu, perpustakaan sekolah SDN Hanum 1 pun tak luput dari arena tempat ngerumpiku. “Katak Hendak Jadi Lembu”, “Tak Putus Dirundung Malang”, dan “Hulubalang Raja” dari Nur Sutan Iskandar, “Tenggelamnya Kapal Vanderwijk”, dan “Kembali ke Desa” karya Hamka. Aku pun ingat, nyaris seluruh karya pujangga angkatan 1920-an telah aku baca, dari Abdul Muis, Marah Rusli, sampai Sutan Takdir Alisyahbana. “Siti Nurbaya”, “Kasih Tak sampai”, “Perawan di Sarang Penyamun” kulahap habis. Tak tahu apa sebabnya, masa SD-lah aku dapat membaca khazanah sastra Indonesia dengan sempurna.

Masa remaja di SMPN 1 Dayeuhluhur, karena kesibukanku main drama theater dan pramuka di ekstrakulikuler, bacaanku tidak berkembang. Aku hanya menjadi pembaca yang tunduk pada Karl May dan Enid Bluton. “Petualangan Winnetou di Padang Prairi” sampai ke “Pelosok-Pelosok Balkan” begitu menghipnotisku, mampu membuatku melupakan jam istirahat. Tapi jangan dikira aku memiliki buku-buku itu. Tidak! Aku hanya membaca, hasil ‘mencuri’ dari koleksi buku milik Ka Ceceng, kakakku!

Ya, aku memang pembaca yang akut. Dan perkenalanku dengan karya-karya Freddy S. telah mengubah semuanya. Mulailah terasa kesaktian pukulan sinar matahari milik Wiro Sableng kalah asyik dibanding tragedy cinta “Elegi Esok Pagi” dalam novelnya Freddy S. Kisah percintaan masa remaja yang selalu disajikan Freddy S, membuatku kecanduan. Jika belum menamatkan novelnya, tidur pun aku terbawa dengan cerita. Disamping itu, serial “Lupus” juga menjadi ‘bacaan wajib’ saat aku masih jadi sosok remaja tanggung itu.

Bacaanku semakin ‘bergairah’ setelah koleksi novel “Any Arrow” menghampiriku. Dengan membaca novel itu, aku serasa menjadi sosok pria dewasa dan perkasa. Aku mulai menyukai lawan jenis. Meski aku baru kelas 3 SMP. Cinta monyetku pun akhirnya berlabuh pada siswa satu kelas, lawan mainku di ekstrakulikuler drama theater. Sayang, cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan! Hmm…

Membaca buku itu membuatku bukan hanya melupakan waktu, tapi juga melepaskan shalat dan ngaji. Aku terlena dengan keindahan, desahan, dan keperkasaan. Sayang, akhirnya aku ketahuan Ka Eko, karena koleksi bukunya aku ‘curi’ dari tasnya! Aku terkena marah, dan akibatnya, aku dilarang membaca buku itu!

Tapi larangan itu tak pernah membuatku kehabisan akal. Aku jadi rajin menyambangi rumah nenek. Hanya untuk ikut makan dan membaca. Dan untuk menjaga agar nenek tidak ikut-ikutan melarang, aku selalu membatu nenek memetik cengkih di halaman rumahnya. Tak lupa sambil membawa novel. Ya, aku betah duduk di pohon cengkih berjam-jam, hanya untuk membaca novel itu. Dan karena seringnya aku naik pohon cengkih yang rimbun itu, akhirnya aku pun ketahuan. Dan bukan marah yang kudapat, tapi tertawaan!

Ketika di SMAN 1 Dayeuhluhur, ketertarikanku berubah arah. Aku jatuh cinta pada puisi! Semuanya berubah saat kakakku menitipkan semua koleksi buku dan kasetnya padaku. Ya, Ka Ceceng, kakakku pergi merantau menyebrangi pulau Jawa, juga Nusantara. Kepergiannya ke Pulau Rupat-Bengkalis, yang kemudian berlayar ke Malaysia, telah mengawali babak baru dalam kesukaanku membaca buku dan menulis. Dari koleksi bukunya, kutemukan buku leces lusuh yang dipotong dua, berisi kumpulan puisi karya pribadi kakakku. Sebuah puisi berjudul “Cikijing Peuting Tinu Lungkawing” telah menghipnotisku! Mengingatkanku pada trah leluhur kami. Hmm.. rupanya Kakakku telah mewarisi kebiasaan Bapa. Membaca, lalu menuliskan alur pemikirannya dalam buku. Buku diary! Semuanya demi keabadian. Demi warisan!

Maka sejak itu, aku pun menyisihkan uang jajan untuk membeli buku diary. Mencoba menata alur pikir dalam sebuah tulisan, dan coba belajar dari penyair-penyair besar tentang hakikat makna sebuah puisi. Waktu itu nyaris semua puisi si Binatang Jalang aku hapal, mulai puisi pertamanya "nisan" kepada Nenenda tercinta, sampai "Isa" kepada pemeluk teguh. Puisi-puisi yang romatis, aku hapal habis! Chairil menapasi hari-hariku. Tapi kesetiaan ini tak lama. Aku kemudian kenal dengan si Burung Merak, WS. Rendra, setelah kudapati kasetnya hasil ‘minjam paksa’ dari sahabatku, Kurnia “Ebonk” Faturohman. Setelah melayari semua puisinya, kuakui, Rendra lebih kena di batinku, memahat, tinggal, berdiam. Sampai kini!

Saat itu, hampir tiap minggu madding SMA-ku penuh dengan puisi karyaku. Puisi curahan hati sebagai bentuk pelampiasan cintaku pada gadis impianku, sempat mangkal beberapa bulan di madding itu. Sayang, saat perlombaan baca puisi tingkat sekolah, aku kalah bersaing dengan temanku. Aku hanya menduduki peringkat ketiga. Peringkat pertama dipegang oleh sahabatku yang kasetnya pernah ku curi, Ebonk. Sementara peringkat kedua diraih oleh wanita yang sempat kupuja lewat puisi di madding itu. Hmm…

Dan ketika aku tamat SMA, aku tak punya buku apa-apa. Aku pun ‘hijrah’ ke Bandung, tak membawa buku apa-apa, kecuali sepotong buku diary di tasku. Ya, empat buku diary kumpulan catatanku yang kebanyakan berisi puisi, kisah cinta, dan kegundahan akan realitas kampung halaman.

Bandung, ternyata memberiku segalanya. Ketaksetiaanku pada buku merajalela di sini. Kuliah dan bergaul dengan sahabat-sahabat aktivis pergerakan mahasiswa, bacaanku bertambah. Buku yang pertama kali kulahap habis adalah “Ilmu, Filsafat dan Agama” karya Endang Saefuddin Anshori. Maklum kampus tempatku menuntut ilmu memiliki labelitas Islam yang kuat, sehingga aku pun sedikit banyak harus berbenah dan menyesuaikan diri.

Lalu, lewat seorang teman, aku mulai membaca “Bumi Manusia” karya Pramudya Ananta Toer, meski cuma fotokopian. Teman ini mewanti-wantiku agar membacanya dengan sembunyi. "Jika tidak, kamu akan dicap PKI, komunis!" katanya. Hanya semalam, buku itu aku tamatkan. Dan aku ketagihan! Kucari-cari karya Pram yang lain, tapi tak pernah bisa kujumpai. Buku-bukunya terlarang. Yang bisa kumiliki hanya buku “Larasati”, “Mangir”, dan “Jalan Pos, Jalan Daendels”. Kemudian, dengan bantuan teman lagi, aku mendapatkan semua tetralogi itu, “Bumi Manusia”, “Anak Segala Bangsa”, “Jejak Langkah”, “Rumah Kaca”, dan aku melahapnya. Aku jatuh cinta pada Minke, Nyi Ontosoroh, dan juga Pram.

Tapi ucapan temanku tentang komunis terus saja menghantui. Aku belum tahu apa itu PKI, siapa itu komunis? Yang aku tahu, PKI itu sebagai bahaya laten khas orde baru. Itu saja! Lalu kucari buku-buku tentang komunis. Karena kampusku berlabelkan Islam, maka buku komunis yang aku dapatkan pun berlabelkan agama. Ya, buku “Agama Marxis” karya O. Hasheem menjadi babak baru dalam petualanganku membaca buku. Selanjutnya, buku pemikiran-pemikiran yang bersumber pada peta pemikiran Marxis sempat kulahap habis, “Materialisme-Dialiktika Historis”, “Das Kapital”, “Ekonomi Politik Marxis”. Pun juga dengan tokoh-tokoh yang diikuti maupun mengikuti ajarannya, G.W.F Hegel, Jurgen Habermas, Michael Foucoult, Antonio Gramsci, Anthony Gidden, Sigmound Freud, Ivan Illich, Paulo Freire, dan sederet tokoh lainnya.

Sungguh aneh! Aku kuliah di jurusan jurnalistik. Aku memang bercita-cita jadi jurnalis, menjadi penulis warta-fakta. Tapi aku tidak suka fakta, tidak ada bedanya dengan fiksi. Sekarang yang laku adalah berita, bukan fakta. Tetapi cerita tentang fakta. Meski kuliah di Jurnalistik, aku malah menyukai filsafat. Meski kuliah di IAIN, tapi pikiranku ultra-liberal. Meski agamaku Islam, tapi aku penganut pluralism. Meski aku tetap memaksakan diri untuk belajar teori komunikasi, aku malah bergelut dengan paradigma komunikasi kritis ala madzhab Frankfrut.

Pada akhirnya, aku tak memaksakan diri untuk jadi seorang wartawan, karena aku sadar diri bahwa teknik penulisan beritaku nilainya jeblok. Tapi aku akan selalu tetap menulis. Karena dengan menulis, mungkin aku ada. Ketika menulislah aku merasa bersentuhan dengan diriku sendiri. Bersenda gurau dengan bathinku sendiri. Menulis, adalah temanku yang paling setia. Ketika bahagia, suka, duka aku menuliskannya, dan dalam tulisan itulah aku menemukan diriku yang tiada-kosong-hampa-menjelma. Dan ketika aku menulis, aku seolah telah mewarisi darah penulis yang telah diwariskan Bapaku pada Kakaku, dan kini padaku!

Pada akhirnya aku bersyukur, karena mimpi kecilku itu terwujud. Pelan-pelan, kukumpulkan buku dari uang jajan kiriman orang tua dan hasil ‘pinjaman tanpa kembali’ perpustakaan kampusku. Sehingga saat aku mengerjakan skripsi, tak harus ke perpustakaan kampus atau daerah, dan tak perlu meminjam buku dari teman. Di kamar kostku Patal-Cipadung, semula tersimpan 847 judul buku, ratusan koleksi majalah, bulletin dan artikel. Sayang, telatnya kiriman uang dari orang tua, menyebabkan kostanku disegel oleh pemiliknya karena aku menunggak 6 bulan untuk bayar kostan.

Setelah dilunasi, aku masih bisa bersyukur, meski sebagian buku itu raib entah kemana, termasuk 4 koleksi diaryku yang berisi catatan harianku dari tahun 1995 sampai 2005 (10 tahun), kini nyaris ada 500 buku mendiami kamar-baca di rumahku. Buku-buku yang tak pernah membuatku kesepian, tak pernah membuatku merasa kehilangan teman. Dan buku-buku itulah yang akan kuwariskan pada anakku kelak, untuk menuliskan diary kehidupannya yang baru. Semoga…

--------------
Cijagra, 19 Maret 2011. Pukul 21.02 WIB
(Ditulis berbarengan dengan saat ulang tahun istriku, tapi aku tak bisa pulang untuk menemaninya).

Sabtu, 12 Februari 2011

Memoar di Taman Hiburan "Misbar" Cicadas...


//1//

Jum'at sore jelang senja. Gerimis terus bergelayut diatas awan kota Bandung. Seharian ini Bandung memang diguyur hujan. Meski bagi sebagian orang hujan merupakan bencana, namun bagi rakyat kecil lainnya, ternyata hujan membawa berkah juga.

Jum'at sore jelang senja. Duduk manis diantara puing-puing kehancuran Matahari Deptstore Cicadas, menikmati gemercik hujan & lalu-lalang kendaraan, ditemani secangkir kopi hitam dan sebungkus tempe mendoan, Sungguh mengagungkan! Kenikmatan memang tak diukur dari kelasnya. Itu benar! Strata sosial tak menjadi penghalang bagi seseorang untuk menikmati hidup. Termasuk masalah hidangan.

Jum'at sore jelang senja. Segurat senyum tersungging di wajah, saat kenangan lawas hadir menghampiri. Hmm... Disini, aku bersama sahabatku telah menggoreskan memori hidup. Ya, di Taman Hiburan 'Misbar' Cicadas.

Sobat, kita sama-sama berusia muda waktu itu. Ingatkah kau saat kita nonton bareng di gedung film Taman Hiburan Cicadas? Dengan beratapkan awan lepas, berterangkan bintang-bintang, kita senantiasa 'khusyu' menyaksikan pemutaran film Tutur Tinular, Sundel Bolong ataupun Jerat Sang Janda. Tak peduli ada kecoa yang berseliweran, kursi reyot panjang yang sudah bulukan, bau pesing dan air mani yang bertaburan, pun rayuan WTS kelas gocengan. Yang kita khawatirkan hanya satu; Hujan! Ya, bila hujan turun, film pun bubar.

Waktu itu, selepas film 'Si Manis Jembatan Ancol', kau berkata padaku tentang hidup yang tak menyisakan banyak pilihan. Kau melirik, dan mengajakku melupakan itu lewat senyuman. Aku setuju, dan tentu saja kembali tawa kita berderai sambil memandang ranum payudara penjaja di tepi jalan. Aku bahagia, meski belum dapat kusadari maknanya. Yang aku tahu, esok kita kan bertemu lagi dalam nuansa masa muda yang lugu, bersama gank biroe...

//2//

Kini bangunan tua itu telah tiada. Seiring kemajuan peradaban, satu-satunya taman hiburan milik rakyat telah digusur. Beralih fungsi menjadi arena usaha produktif khas era global. Counter hanphone berjejerdi pintu utara. Pedagang buah, tukang sate, onderdil & helm berderet di pintu timur. Sementara arena pertunjukan beralih fungsi jadi taman futsal.

Rupanya kau benar sahabatku.. Hidup tetaplah sebuah persoalan yang tak mudah kita pilih dan tuntaskan. Mungkin karena kita terus mengurus titik dan koma, sementara amuk hari tak memberi iba pada paraghraf yang berjeda.

Kini kita sama-sama tak lagi muda, Sahatku. Bila saja kita masih bersama... Sebab kerut ini semakin bertapak, mata pun mesti disambung dengan kaca, dan ingatan terus kehilangan jejak. Aku hampir menyerah, sebelum kuingat bahwa kau biasa menepuk bahuku dan berucap, "lelaki janganlah goyah".

Seperti dahulu, pun kini aku setuju. Maka aku ingin menyalami dirimu lewat lembaran ini. Bahwa adamu ternyata tak terganti bukan karena kau tlah pergi. Tapi oleh pertemuan yang tak pernah kita pilih sendiri.

Aku bahagia.. Meski usia tak kunjung membuatku paham maknanya. Yang aku tahu, esok boleh jadi kita bertemu dalam masa tua yang sendu. Karena kau benar, yang tersisa dari pilihan bisa saja menjadi alasan untuk kita berbaik sangka pada harapan.

Aku di sini, sahabatku...

----
Bandung, 10 November 2010
* Teruntuk Gank Biroe semata yang kini entah dimana...

Jumat, 11 Februari 2011

Memoar Luka Seorang Isteri…


“Kau telah menuntaskan semuanya. Kau sudah tuntaskan, kau sudah genapkan kehancuranku. Kau menang laki-laki. Kau telah menotalkan kehancuranku, dan sekarang aku akan pergi…”
[Muhidin M. Dahlan]

//1//

Di suatu malam, diujung waktu...
Cukup dingin malam ini. Aku menikmatinya di dalam kamar saja. Di sini ada pisau, segelas kopi, sebungkus rokok, dan kata. Oh, aku lupa, telah tersedia juga buku dan notebook mini di meja. Tanganku ini selalu merasa gatal saat teringat dan mengingat cerita kenangan, dan ingin sekali berdongeng untuk aku sendiri, sebagai ramuan agar mataku merasa lelah dan ngantuk.

Sesekali ku teguk kopi pahit itu, terasa nikmat, senikmat menelan kenangan. Dan belum lengkap kiranya kenikmatan itu kalau tanpa rokok. Ku ingin mulai cerita bersama monitor, pisau, kata dan meja. Karena kenangan itu sudah memaksaku untuk bersua. Ku jelajahi dunia maya, sementara mata melirik pada pisau. Melihat pisau itu, aku jadi ingat Sapardi, ‘Pisau, apa gunanya kalau ujungnya tidak ada darah. Kata apa gunanya kalau tidak berbisa’. Aku tersenyum pada diriku sendiri. “Baiklah…” kataku di hati.

//2//

Perempuan . . .
Kutulis catatan ini atas permintaan dan restu cahaya matamu. Tatap seorang sahabat yang mewartakan bening pada kesunyian ruang gerakku, keteduhan ranah nafasku. Kau datang dari suara yang lirih, bernyanyi tentang puing bahtera dan serpih. Meleburkan asa pada keyakinan bahwa engkau adalah pemangku terbaik dalam mengatasi kecamuk yang menyergap heningku. Meski membawa percakapan ini menuju garis nasibmu yang perih dan berliku.

Sungguh, mengingat ceritamu selalu jadi persoalan yang membuat murungku memuncak. Tak hanya memaksaku mengendapkan isak, meremukkan gerak, tapi juga menipiskan keluh pada perihal yang terus retak. Berpuluh tahun kau melipat muram di jendela senja yang terus melegamkan harap. Berkerut di pintu cuaca zaman yang terlelap. Mendedahkan segala peristiwa dengan banal. Hingga akhirnya lewat lembaran ini cerita duka dan aibmu terkuak. Maafkan aku, bukankah ini juga atas permintaanmu?

Perempuan . . .
Adakah kau tahu, saat kutulis cerita hasil dedahanmu ini, ada gulita mengitari malam. Rasaku hanya mampu bersenda pada dekapan angin kelu. Dan bila fajar menjelang, ia cuma sempat tersulangkan pada jernih embun sewaktu subuh. Hatiku terus merangkum detik-detik kata yang kau ucapkan, sembari melipat cibir pada nasibmu yang nyinyir. Berulang kali jemariku coba merangkai kata, bersama untaian do’a-do’a gelap untuk rasa yang semakin kusam.

Lalu, bila cukup waktuku menyapa jalan dirimu berada, aku kembali teringat bahwa jalan hidupmu adalah senandung tanpa suara. Nyanyian tak bernada. Namun, di titik itu, semangatku terus tergugah, aku mengerti diammu dalam memendam pilu, meski kau ingin berontak dalam kata, tapi kau tak kunjung bisa mengungkapkannya. Memang begitulah hidup adanya, banyak perihal kupahami dari alur kisahmu, namun sedikit di antaranya yang bisa kutuliskan. Satu hal yang tak pernah beranjak dari tempuhanku adalah pencarian akan makna hadirmu. Engkau tetap senandung ambang getir, bagiku!

//3//

Di suatu malam, kau datang lewat ketukan chat dunia maya. Awalnya pelan dan lembut. Makin lama suara itu kian bising. Kesal juga pikirku. Selalu saja ada yang mengganggu setiap aku dan kenangan manis ingin bercumbu.

“Met malem, Na’. lagi ngapain?”, tanyanya.
“Kamu! koq tumben oll?” tanggapku setelah melihatnya, yang ternyata teman lama.
“Sengaja, aku bête, ingin curhat, ada waktu kan?” katanya dengan mimik serius.
“Bete kenapa?”
”Tau tuh, cuma pengen nangis aja”.
“Nangis? Ada masalah apa lagi emang?”
”Nggak. Rasanya sedih aja…”

Aku tersenyum, dan melepaskan mouse yang melekat di tangan. Ku baca sejenak lirik kalimat itu, nadanya kelihatan tidak seperti biasanya, seorang teman waktu SMA yang dulu ceria dan tegar, kini datang dengan wajah buram sedikit pucat, seakan menyimpan banyak kejemuan. Padahal, aku sendiri banyak menyimpan amuk, yang mungkin orang lain tidak mengetahuinya. Ya, hidup selalu bersamaan dengan air mata dan tawa.

“Ceritalah...!” Kataku serius.
“Aku ada masalah…”. Ia tidak menyebutkan masalah itu, mungkin karena aku telah mengenalnya. ”Malam ini aku ingin terbuka semuanya padamu, cerita yang sudah 17 tahun kusimpan rapat-rapat, aku sudah ga kuat lagi untuk menyimpan sendiri. Tolong buatkan alur kisahku ini jadi seberkas cerita, walau itu aib sekali pun.... Aku percaya sama kamu, Na”.

Ia menarik nafas panjang. Dan, setitik air matanya menetes dari mata yang redup. Kepalanya tertunduk, seperti menyatakan bahwa ia sudah tidak berdaya lagi. “Aku tahu perasaanmu, walau aku tidak mungkin merasakan seperti yang kau rasakan. Kalaupun kau ingin menangis, menangislah! Barangkali air matamu bisa menghapus lukamu”, tandasku.

Lalu kami terdiam dan diam. Suasana malam jadi sunyi mencekam. Sesekali aku hisap rokok dan meneguk kopi yang masih hangat. Sebenarnya aku merasa sakit ketika dia menceritakan bahwa ia mendapatkan luka dan perih. Karena aku juga memiliki dan menyimpan kisah yang getir dengannya, walau tidak seutuhnya sama. Hanya aku belum berani menceritakan kisahku kepada siapapun. Kecuali kepada diriku sendiri.

“Na, bahkan untuk menangis pun aku tak bisa. Aku tak mengerti mengapa bahtera rumah tangga memilihku untuk segera karam. Mungkin karmaku memang buruk nasib, mungkin diriku kurang berani, mungkin juga dia tak pernah menganggapku ada, atau mungkin Tuhan lebih suka melihatku terluka? Aku memang tak mengerti, mengapa kasih sayang lebih memilihku untuk patah hati. Mungkinkah karena bangunan rumah tangga yang kubangun tidak berpondasikan cinta, melainkan melalui alur tragedi?

Na, rasa sakit itu sampai sekarang terus membayang, sesaat di antara ribuan harap yang terus menjalar, rasa itu tak pernah berhenti, tapi semakin menjadi-jadi. Ironisnya, aku tak pernah punya kemampuan untuk menghancurkannya. Kalau aku ingat sisifus, seolah dia menertawakan prahara diri, bahwa apa yang kualami tidaklah berarti apa-apa dibandingkan hukuman mendorong batu di keabadian masa. Tapi, siapa yang mau membayangkan bahwa aku haruslah bahagia? Aku benar-benar tidak mengerti…

Aku hanya ingin ini berlalu, dan waktu kembali berpihak kepadaku. Tidak lagi seperti ini; aku yang luruh dalam detik-detik perasaan percuma yang hadir dan memenuhi setiap jengkal kata”.

Tiba-tiba wajahnya berjuntai di pelupuk yang perlahan-lahan membuka diri, ah, rasa sakit ini bukan mimpi.. Dan aku hanya bergumam sendiri dalam diri. ‘Sobat, kau memiliki kisah yang tragis. Tidak usah menyesal dan meratapi, kita tidak berhak untuk itu. Bolehlah kita tersesat dalam pengembaraan ini. Itu lebih baik, daripada kita tersesat tanpa sebuah pengembaraan. Muara lukamu ini, yakinlah, suatu saat akan menjadi taman bermain yang indah. Dan seharusnya kau belajar tersenyum’.

//4//

Setelah cukup lama kami terdiam dalam diri. Dia mengangkat mukanya dan menghapus air mata yang masih membasahi pipinya, lalu meneruskan ceritanya.

“Aku sedih bukan karena sikapnya padaku. Penganiayaan padaku sudah kuanggap biasa, penghinaan yang dilontarkan sudah tak ku anggap. Semua pekerjaan kulakukan sendiri, tapi bagiku tak apa, selagi aku bisa. Hal yang aku tak terima dan kadang sangat sakit, adalah perlakuannya sama anak-anak. Mereka cuma jadi tanggung jawabku saja. Baginya, dengan memberi materi, sudahlah cukup. Padahal harusnya nggak seperti itu kan? Karena menurutku, dalam rumah tangga harus ada kebersamaan, saling membantu, pengertian, juga saling mengisi, yang semuanya dilandasi cinta dan kasih saying. Bukan begitu, Na?”.

Aku hanya menganggung pertanda setuju. Sambil mendengarkan kelanjutan kisahnya, lamat-lamat aku teringat ucapan Kahlil Gibran, “Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kerinduan kehidupan terhadap dirinya sendiri. Mereka terlahir lewat dirimu, namun tidak berasal darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu…”

Lagi-lagi air matanya menetes, dan kini ada isak yang tertahan. Air matanya semakin deras. Kali ini kami terkurung dalam diam. Aku pun tidak tahu harus berkata apa. Antara aku dan dia bukan suatu kebetulan berada dalam satu kisah. Aku mengenalnya sudah cukup lama, 15 tahun yang lalu…

Tapi entahlah... setiap orang menyimpan luka dan air matanya sendiri. Barangakali hanya dalam hal judul yang berbeda, dan cara membalut keperihannya. Ada yang membutuhkan telinga untuk meluapkan segala ‘dendam’ dalam luka yang diterimanya. Ada juga yang hanya bernyanyi sendiri dalam ruang sunyinya sendiri, hinga tangisannya tidak terdengar di luar dan tanpa air mata. Akan tetapi perih itu akan selalu menyayatnya hingga tidak ada lagi darah yang akan dilelehkan. Aku dan kau hanya memiliki tangisan yang berbeda.

Sementara laki-laki itu, yang telah menjadi biang penderitaan perempuan itu, bukan sesuatu yang hebat. Karena belum tentu dia bisa dan mampu menerima muara luka seperti yang dialami temanku. Konon, laki-laki belum sempurna kalau belum teruji. Kaum lelaki sering mempersoalkan kelemahan wanita karena sering mengalirkan air mata. Tetapi, segagah-gagah dan seperwiranya lelaki, sadarlah bahwa suatu hari nanti mereka juga akan mengalirkan air mata syahdu, kerana satu perkara kecil, yaitu karena cinta.

Alangkah misterinya cinta seorang wanita yang dianggap lemah sehingga boleh mengalirkan airmata seorang pria! Aneh, tetapi itulah hakikatnya cinta. Dan tampaknya lelaki itu memang menang, berhasil mengkebiri wanita itu, lewat tragedi sadis dan terencana, di malam pergantian tahun baru.

Sedangkan perempuan itu, ia tidak akan menemukan ketenangan dalam hidupnya. Karena sebagian jiwa dan cintanya sudah tak melekat lagi dalam diri. Bukankah seharusnya cinta mengutuhkan diri? Sekarang boleh perempuan itu menikmati luka dan senyum dendam. Besok, belum tentu. Sekali kita buat goresan, maka takkan terlupakan selamanya. Sebagaimanapun kita menguburnya, tetap akan ada. Luka itu kan tetap ada dan selalu menganga. Hmm… tidak semua orang mampu melewati muara luka, setegar temanku ini.

Ah, pada akhirnya aku sadar, bahwa cinta laki-laki seumpama gunung, ia besar tapi konstan, dan sayangnya rentan. Ada waktu ia meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Sementara cinta perempuan seumpama kuku, ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi…

//5//

Semuanya berawal saat aku memutuskan untuk menikah, sebuah keputusan yang diambil atas dasar dorongan keluarga, meski itu diluar naluri kesadaran dan kehendakku. Mereka tak tahu tragedy apa yang telah menimpaku. Bukannya aku tak ikhlas menjalani semuanya, namun rasa sakit itu, selalu saja membelenggu.

“Maksudmu?”
Ya, saat aku ngambil keputusan untuk bertunangan dengannya, itu bukan mauku, tapi atas desakan dari keluarga. Maklum dia itu masih ada ikatan saudara denganku. Namun saat menuju jenjang pernikahan, aku menolaknya. Bukan menolak, tapi menunda, karena aku ingin menyelesaikan sekolah dulu yang tinggal setahun lagi. Aku sadar betul atas keputusanku ini, karena menurut hematku, kalau toh jodoh tak akan lari kemana. Waktu setahun tidak lama. Aku hanya berharap bercinta dengan pelajaran, bertunangan dengan mengkaji ulang, berkawin dengan periksaan, dan berbulan madu dengan kejayaan.

“Lalu kenapa akhirnya kau memutuskan untuk menikah, meninggalkan bangku sekolah? Padahal waktu itu ujian kenaikan kelas sudah di pelupuk mata. Yang amat disayangkan, kau adalah murid yang berprestasi”, jengahku. Perempuan itu hanya sedikit tersenyum di kulum.

“Aku memutusan untuk menikah, hanya karena rasa frustasi semata, atas perlakuan yang dia lakukan padaku, dia yang telah merusak kepercayaanku, yang telah merenggut mahkota paling berhargaku dengan cara paksa, yang telah memupus segala harapan dan impianku, yang telah merampas kebahagiaan masa remajaku… Padahal kamu sendiri tau kan, Na, aku paling sok' kalau terkait dengan masalah hubungan intim! Kamu ngerti kan maksudku??

Aku cuma menggeleng tanda tak paham. “terbukalah…!”
”Iya, aku putuskan untuk menikah, karena aku sebenarnya sudah dinodai! Tak disangka, akibat penolakanku itu, dia menyimpan bara dendam di hati. Lalu dia menyusun sebuah rencana keji itu dengan matang, agar aku tak bisa lepas dari jerat cintanya”.

“Saya bingung mencerna ucapanmu”, sanggahku.
“Dia telah memperkosaku!”, tandasnya dengan sorot mata geram dan tangis tertahan.
“Kapan kejadiannya?”

“Waktu itu, aku masih kelas 2 SMA, usia remaja kisaran 16 tahun. Usia belia yang penuh keceriaan. Usia muda yang seharusnya dipenuhi limpahan ilmu. Tapi dia telah merampas semua kebahagiaanku itu. Merenggut masa mudaku ke dalam lembah kehinaan.

Malam itu, pas tahun baru ‘97. Aku lupa, apakah hujan atau tidak. Dibawah ancaman dan todongan senjata, dia mendekapku dengan paksa. Diantara telanjangnya guling dan lukisan pulau pada bantal, ada tubuhku yang luruh tak berdaya. Ada kecupan yang sama sekali tak merangsang. Ada isak tangisku yang hampa. Bagai lolongan hewan jalang yang ingin bertukar rasa, dia coba menggagahi dan meracuni kesucianku yang sama sekali belum dikukuhkan oleh tradisi ikatan pernikahan.

Pada akhirnya tenaga perlawananku habis, lalu yang kurasa hanya ada buliran keluar membasahi selangkangan. Dan dentuman jantung seperti dikejar ombak, rintihan suaraku dikalahkan oleh nafsu bejatnya. Disaru deru ombak yang menepi di daun telinga. Seperti sebuah pelayaran, malam itu aku diterjang ombak yang berkejaran dan tak mengharapkan pasir ditemukan.

Ketika semua tabu usai diguratkan diatas tubuhku yang rapuh, yang tersisa dan melilit dalam mulut rasaku adalah luka sakit yang menggiris. Darah itu tak pernah tumpah, karena telah habis dirampas oleh hatiku yang terluka. Imanku telah dilukai. Nalarku telah dicampakan. Lelaki itu telah diutus oleh penguasa kegelapan untuk melukai keperempuananku.

Paginya aku merasakan kehampaan, rasa kosong yang tak pernah bisa kusibak. Begitu kurasai bahwa hidup ini hanya sederet kekosongan diantara lorong kegelapan yang tak ada jalan keluarnya. Dan setelah semua itu, aku pun dikerubuti oleh rasa takut yang luar biasa dengan ancaman kehamilan. Hamilkah aku ketika berkali-kali guagarbaku dibasahi oleh cairan kehidupan lelaki itu? Tidak, jangan, aku tak boleh hamil. Aku tak boleh mengandung anak lelaki itu. Aku tak ingin!

Semakin lama hatiku terus meronta agar dibebaskan dari ketakutan yang terus menggempurku. Aku pun kembali terpuruk. Hidup seperti tidak beranjak, selalu berada dalam lingkaran tragedy dan keraguan. Terus dan terus tragedy itu mengejar dan menghantuiku. Tapi rupanya Tuhan belum puas menggodaku. Ketakutan akan kehamilan akhirnya jadi kenyataan. Aku mengandung anak haram itu!

Setelah tubuhku ternoda, kegadisanku direngut paksa, kini janin itu mulai tumbuh di rahimku. Aku merasakan hampa yang menjadi-jadi. Aku tak tahu bagaimana melukiskan perasaanku. Maka saat itu pula aku memutuskan untuk keluar sekolah. Bahkan sampai sekarang pun aku tak paham, kalau benar dia cinta padaku, kenapa tega dia melukaiku, membuatku terkapar berkalang tanah seperti ini”.

Perempuan itu sekarang benar-benar menangis tersedu. Tenggelam dalam suasana yang sangat menyeramkan. Aku mengerti, ia tidak memiliki dendam kepada laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Karena rasa sayang pada keluarga telah memenuhi sukmanya. Ia bukan buta, melainkan kian terbuka hati, melihat kelancangan pada moral dan harapan yang dulu tersusun rapi. Hmmm… pada akhirnya aku sadar akan kebenaran kata Mahatma Ghandi, “Cinta tidak pernah meminta, ia sentiasa memberi. Cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta, di situ ada kehidupan”.

//6//

Malam mulai larut dan semakin dingin. Rusuk tubuh seakan mau dipatahkan oleh kedinginannya. Sedang benak semakin hangat. Sebenarnya tanpa sebuah alas pun, aku sudah bercumbu dengan kenangan. Apalagi temanku, mungkin ia lagi bersetubuh dengan kisahnya. Walau orang lain bilang dia tidak bahagia, tapi aku puas karena sudah mengerti. Biarpun kami sedikit egois. Ini bukan hal yang ringan.

Sahabatku, kemuakan yang membuatmu nyinyir, akan terus menyelimut jiwa yang mau melihat. Tidak harus dengan mata untuk melukis dunia. Tidak harus dengan tangan untuk menampar. Tidak harus dengan telinga untuk mengetahui bahasa. Tidak harus dengan apapun. Cukup dengan kisah itu sendiri. Kisah bukan hanya sebatas pemaparan semu. Kisah adalah pedang yang bisa digunakan membabat apa saja untuk sebuah jalan. Kita berangkat dari titik yang sama. Aku dan kamu!

Tanpa sengaja aku melihat pisau di atas meja. Buku yang seharusnya menjadi alas bercumbu, belum sempat dirapikan. Kopi tinggal setengah lagi dan sudah dingin. Sedangkan rokok terus hangat dimulutku hingga asapnya melembabkan kamarku. Aku baru mengerti bahwa ‘kata bukan hanya sekedar kata yang terlontar dari baunya mulut’. Dan ujung pisau memang berdarah, darah dari kisah yang dituturkannya.

“Na, apa kamu tidak merindukanku?” Tanya perempuan itu seperti merayu.
“Tidak”. Kataku tegas.
“Kamu kan pernah mencintaku?”.

“Ya, dulu aku tak sempat tahu siapa dirimu sesungguhnya, pun sekadar mengeja namamu dalam ingatku. Tapi untuk setiap catatan yang aku buat, dirimu selalu hadir menyerupai tanda seru. Aku tak percaya bahwa rasa sakit adalah sisi lain dari rindu. Aku setuju bahwa apa yang ada tidak harus selalu kubaca sebagai luka. Hanya saja apa yang tak mampu kuuraikan bisa saja membunuhku. Dan itu adalah dirimu!

“Tapi, Na, bukankah cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan? Pada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti, dan kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan?”, desaknya.

“Barangkali untuk setiap kenangan selalu ada waktu untuk terlupakan. Tapi tidak kali ini. Tidak rasa ini. Di pelupukku sudah tumbuh pelangi sejak dirimu menjemput sunyi. Tapi itu pula yang sering membuatku mati oleh riuh tatapku sendiri”. tandasku! Hmmm… aku sadar betul dengan apa yang kuucapkan barusan, karena aku tahu, bahwa ‘cinta lebih mudah mekar di hati yang sedang dilanda kecewa. Cinta seperti ini adalah cinta yang mengharapkan belas kasihan, sebab itu bila sepi telah punah, maka sejatinya cinta juga akan turut terbang’.

Perempuan itu diam, seperti tidak punya alasan. Sedangkan aku semakin merasa bersalah pada diri. Penyesalan dan kekesalan menjadi satu dalam kecamuk. Dan benak telah memuntahkan kata, pisau, air mata, darah dan sebagainya. Sehingga aku bingung harus berlabuh kemana dan dimana. Hanya karena perempuan, ya, perempuan itu telah membuka pintu jiwaku. Mengantarkan aku pada pengetahuan hidup yang bermuara kemuakan. Tidak ada harapan yang dapat diperjuangkan. Tidak ada janji yang harus di panjatkan. Karena semua kini menjadi omong-kosong. Namun, pertanyaan perempuan itu, telah membawaku pada kisah masa lalu, dimana cinta pertamaku mulai bersemi…

//7//

Waktu itu, 15 tahun yang lalu… hal yang wajar bagi siapa pun untuk mengalaminya, dunia puberitas. Dan tak ada seorang pun yang tidak melewati garisnya. Itu pasti! Bukan kebetulan! Memang kita harus melewatinya supaya mendapatkan makna hidup, agar hidup berjalan dengan garis metaforis.

Begitu juga dengan diriku. Dalam hal ini, hidup tak ada pilihan. Hidup memang telah di program begitu. Namun ini bukan berarti kita tak berdaya dan menjadi statis, karena manusia memiliki kuasa akal untuk meloncat diantara garis metaforis. Kita akui, bahwa hidup dalam garis metamorfosa tidak ada bedanya. Yang membedakan manusia dan mahluk lainnya cuma akal sebagai potensi menilai dan memilih garis hidup yang sudah ditentukan. Maka setiap manusia memiliki kisah yang berbeda, walaupun pada tataran metaforisnya sama.

Maka, hal yang wajar kalau aku memiliki kisah yang sedikit berbeda dengan orang lain. Aku pun tak pernah malu menceritakannya. Karena bagiku dalam hidup ini tidak ada kisah yang mesti disembunyikan dan ditertawakan. Toh segala sesuatu yang hidup pasti juga memiliki kisah. Entah kisah yang memuakkan atau pun menyenangkan. Dua-duanya sama saja!

Kisah cinta! Katakan seperti itu. Tapi aku bukan Romeo. Bukan Qais. Bukan Gibran. Bukan Schoupenhauer. Bukan Sartre. Bukan pula Plato. Aku bukan siapa-siapa. Aku adalah aku. Pada usia muda, waktu kelas satu SMA, aku hadir dengan penuh kesadaran sebagai lelaki yang lagi jatuh hati pada lawan jenis. Kepada perempuan yang kini mengadukan nasibnya padaku. Sangat cantik, bagi siapapun yang mencintainya. Apa lagi juara kelas selalu diraihnya. Ia datang pada pikiran dan jiwaku dengan sempurna, sehingga aku tak sempat menilai keburukannya.

Inilah masa pertama kali aku belajar merayu dan membujuk. Dengan pancaran sinar cinta aku mulai belajar, terutama tentang kelembutan. Perempuan itu telah mengajari aku sastra dan filsafat. Entah seberapa banyak karya sastra, puisi, surat cinta, yang aku layangkan sebagai persembahan padanya. Entah seberapa banyak siasat dan rayuan yang aku lakukan untuk mendapatkan simpati hatinya. Entah seberapa banyak teori yang aku terapkan untuk sampai pada tujuan. Paling tidak aku sudah melakukan sesuai pilihanku. Hmm… cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua menjadi pengajaran, dan cinta yang seterusnya adalah satu keperluan…

Orang lain bilang ini ‘cinta monyet’. Aku membenarkannya! Tapi aku menyatakan, bahwa aku belajar politik dan strategi menaklukkan orang lain dari cinta monyet. Dan ada satu hal yang harus kutegaskan, aku seorang lelaki yang berprinsip “sekali mencintai, aku tetap mencintai”. Walaupun pada akhirnya tidak ada prinsip yang abadi. Karena seabadinya pikiran, suatu saat akan dirayapi sesuatu yang membuat runtuhnya pendirian. Kuingatkan lagi, kita hidup dalam dunia yang penuh dengan prosesi dan garis metaforis.

Lebih dari setahun aku menjadi pemujanya. Tanpa ada imbalan dan balasan apa pun. Tapi aku setia menjadi pemujanya. Bagiku, dia perempuan yang sempurna. Perempuan yang membuatku berani belajar siasat apa pun untuk menaklukkan. Aku melakukan apa saja untuk mendapatkan kasih sayangnya. Padahal, aku tidak mengharapkan apa pun kecuali harapan kasih sayang dari yang aku puja. Barangkali karena aku belum bisa menghitung-hitung hasil. Dan wajar saja, aku masih berada dalam dunia puberitas. Artinya, aku dalam prosesi pembelajaran tentang hidup.

Namun pada akhirnya yang paling kubenci datang juga; keputus-asaan. Aku patah arang, karena perempuan yang ku puja, dijodohkan dengan orang lain. Aku hanya bisa meratapi nasibku dan nasibnya, karena harus menjalani hidup dalam ruang yang bukan pilihannya. Di tengah kerumunan, saat pengantin duduk di pelaminan, aku melihat ada air mata menetes dari matanya yang bening. Seakan ia berkata, “Aku tak berdaya melawan takdir”. Aku pun menangis tanpa air mata!

Dari kisahku ini, aku tak membenci Tuhan. Aku hanya sedikit muak pada diriku yang terdidik dari air mata. Tentang nasibku, aku tak pantas menyalahkan siapa pun, karena ini akibat dari pilihanku sendiri. Tapi aku mulai jijik pada pranata sosial yang dibangun manusia dengan tidak manusiawi. Seorang perempuan seakan tak punya hak untuk memilih jalan hidupnya. Orang tua adalah penentu hidup sang anak!

Kenapa perempuan di tanah kelahiranku ini tidak dipandang sebagai manusia yang sama haknya seperti laki-laki? Kenapa tanah tercintaku selalu menumpahkan air mata perempuan? Terkadang aku berpikir, hidup penuh dengan ketidakadilan, kemuakan dan kekejian. Tatanan sosial yang seharusnya memanusiawi malah membinatangi manusia itu sendiri. Orang tua yang seharusnya mengajarkan kebijakan malah mencontohkan kebejatan.

Aku adalah orang yang ingin memberontak terhadap keputusan tatanan sosial itu. Tapi aku sendirian. Aku pun pada akhirnya tak berdaya. Aku hanya satu lidi yang mudah dipatahkan. Entah kemuakanku ini harus bermuara kemana…

//8//

Aku tak kunjung mengerti mengapa kalimatku retak sebelum utuh rinduku tercatat. Sedang apa yang perlu kukutip, dari mendung, awan, tanah berbatu, dan senja yang kelabu, telah tersisipkan dalam benakku. Luruhku diam, lirihku kusam, dan rinduku semakin muram. Sementara aku dan perempuan itu telah mengikatkan nasib. Sehingga ini yang menjadi beban moral dalam diri. Entah perempuan itu punya ‘keberanian’ untuk melepas ikatan sebelum saatnya.

Sahabatku, tak usah diratapi kegagalan dalam berumah tangga, karena hakikatnya jodoh itu bukan di tangan manusia. Atas kasih sayang Tuhan, kau dan dia bertemu, dan atas limpahan kasih-Nya jua, kau dan dia dipisahkan bersama hikmah yang tersembunyi. Pernahkah kau terpikirkan kebesaran-Nya itu?

“Tapi, Na, apa perlu aku mempertahankan bahtera kalau akibatnya hanya mendatangkan siksa dan kecewa?" tanyanya.

Pertanyaan ini seolah menyentuh batas nalarku. Sebuah kerinduan yang mengunjungi diam. Bahwa aku ingin merapatkan keteguhan di hatinya. Menjujurkan hasratku di benakmu. Meski dengan itu aku telah membelah malam, memadatkan makna rembulan. Berharap datangkan yang tertulus dalam ucap yang tepat. Dan tahukah engkau? Yang terlontar hanya itu dalam mampuku.

“Kecewa dalam rumah tangga bukan bermakna dunia sudah berakhir. Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupanmu, sampai kamu melupakan kegagalanmu dan rasa kekecewaan itu.

“Dia....!” kataku pelan.
“Bagaimana aku membuangnya?” serobotnya dengan nada seperti putus asa.
“Tidak akan. Nikmati saja. Kalau kamu bisa, kamu akan merdeka.”
“Aku masih ragu!”.
“Karena kamu menyimpan harapan”.
“Aku mengerti. Harapan melemparkanku ke lembah kekecewaan”.
“Kamu sudah ngerti. Kosongkan dirimu. Buang jauh-jauh kemenangan dan kekalahan. Lewati saja seperti kamu melewati siang dan malam. Memang susah, apa boleh buat, kau harus terus mencobanya. Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal, jika kamu masih mau mencoba! Jangan sesekali menyerah, jika kamu masih merasa sanggup! Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya”

Ah… Aku tak kuasa melanjutkan kata itu. Selain gumam dalam diam “kita sama-sama tahu, bahwa di balik selokan kerling yang pernah kita suakan, ada luka sejarah yang menganga, membaluri perjalanan kita. Begitu serut, getir dalam bayang, dan aku tak jua kunjung bisa membalutnya. Bagiku keyakinan, dan bagimu ketabahan. Aku teguhkan hati padamu di teras nurani yang terbening. Tapi kita selalu mengerutkannya dalam maaf dan lupa. Aku yang kehilangan kuasa, dan engkau yang dikejar masa. Sebab, di balik itu lampiran doa kita menjernihkan segala.

//9//

“Na, aku adalah manusia yang terampas kebebasannya. Terampas! bukan hilang kebebasan. Dan aku benci menghitung lelehan air mata. Atau aku tak suka melihat ceceran darah luka, luka yang berkobar menjadi api amarah. Tak perlu aku atau kamu berbakar diri untuk mengetahuia panasnya dendam. Karena pada dasarnya semua akan menjadi sia-sia dan tersia”, lirihnya.

“Lalu apa yang kau harapkan sekarang?”, tanyaku tanpa beban.
Aku hanya ingin dia memperlakukanku selayaknya seorang isteri, dan mengerti akan keadaanku, juga anak-anak yang juga merupakan tanggung jawabnya. Aku tak menuntutnya dari segi materi, sebagaimana yang ia pikirkan. Aku hanya ingin diperlakukan selayaknya manusia, yang dipenuhi dengan sesak cinta. Meski aku sadar betul bahwa cinta itu tidak menjanjikan sebuah rumah tangga yang aman damai, tetapi penerimaan dan tanggung-jawab adalah asas utama kebahagiaan dalam rumah tangga. Cinta hanya sebuah keindahan perasaan. Cinta akan bertukar menjadi tanggung jawab apabila terbinanya sebuah rumah tangga”.

“Bila harapanmu itu tak kesampaian, apa yg akan kau lakukan?”, desakku.
Sekarang ini aku sudah merasa cape, letih sekali, dan ingin mengakhiri semua penderitaan ini, tapi aku tak punya nyali untuk meminta keputusan. Aku ingin dia yang memberi putusan itu. Berbagai cara sudah kulakukan, termasuk dengan ‘sengaja’ berbuat kesalahan, tapi tetap saja tak bisa. Malah dia berucap, ‘sampai kapan pun juga, dia tak akan pernah melepaskanku, apapun kesalahan yang ku perbuat. Sementara sikapya tetap saja tak berubah. Malah lebih over protektif! Bukannya introspeksi dengan kesalahan yang kulakukan.

“Apa penyebab kamu tak punya keberanian? Apa karena gamang menghadapi masa depan?”

Hmm… ya, awalnya ada pemikiran seperti itu. Cuma akhirnya aku sadar diri, bahwa Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Kerana Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Menurutku, mungkin itulah yang disebut dengan cinta. Dan aku ingin mencari kesejatiannya. Aku yakin, Tuhan menginginkan aku bertemu dan bercinta dengan orang yang salah, sebelum bertemu dengan orang yang tepat, aku harus mengerti bagaimana berterima kasih atas kurniaNya itu”.

“Na, bukankah dulu Buya Hamka sempat bilang ‘cinta bukan mengajari kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat. Jangan kerana cinta, kita gugur dari perjuangan. Dan jangan kerana cinta juga, prinsip kita menjadi larut dan cair…

Segulung asap menyelimuti rumput yang teduh. Di derap nafas yang terpukul angin malam, memuntahkan nyeri pada ladang ketidakberdayaan. Kelopak hati mengelupas dipeluk matahari. Dan daun kering merintih kehausan disudut musim yang gersang. Inilah keluh tanah yang terlantar di gurun hati. Meraup bibir jiwanya yang terluka dengan kepiluan, yang ditikam pelipis bunga dihalaman kehidupan. Hingga kesunyian membelai rambut yang kusut dengan air mata.

Atas pengakuanmu itu, lamat-lamat aku jadi teringat bisik lirih filosof Nietzche, “Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin setia pada kebenaran, carilah”. Maka kalau kau hanya sekedar ingin damai dan bahagia, tanpa memiliki kebenaran, tak usah kau gelisah atau pun kesepian sepanjang nafasmu, percaya sajalah. Kecuali, kau percaya pada kata filosof gila itu, bahwa kau bisa bahagia dan damai jika mendapatkan kebenaran. Jadi, aku tak terima kalau ada yang mengatakan hidup hanya sebatas kebahagiaan dan kedamaian jiwa bukan karena kebenaran. Artinya, aku setuju pada kata Nietzche, walau ia gila!

//10//

Dan diatas semua cerita itu, kuucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepadamu, karena dari kisahmu terkuak juga segala yang tersembunyi, yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh nalar pikirku; bahwa betapa bijak dan bajing amat tipis hijabnya dalam kehidupan ini. Kau memberi tahu padaku untuk jangan terlalu percaya atas status social yang diberikan, sebab disana ada retak, ada kerapuhan.

Terima kasih kuucapkan padamu yang telah mengizinkan aku untuk masuk dan menguping jalan hidupmu, lalu membiarkanku secara bebas merekamnya, mentranskip, mengulur kalimat, dan menciptakan kata baru yang tak kalah serunya dengan jalan hidupmu. Aku hanya pengantar dari memoar lukamu. Aku hanya menuliskan kembali. Dasar cerita sepenuhnya didasarkan pada liku perih hidupmu yang bercadas, kering, dan penuh lubang luka. Kau lah yang menciptakan alur dan plot. Dan aku, aku hanya menggurat, memoles dan menyambung-nyambungkan retak-retak kisahmu menjadi cerita utuh. Terima kasih…


----
Cijagra, Kamis, 03 Februari 2011
Kupersembahkan hanya untumu, yang telah mengizinkanku untuk menguping kisahmu.

Selasa, 23 Maret 2010

Tunggu Aku di Ujung Banda....


Kabut tebal masih menyelimuti kawasan Bandung Utara pada semua lapisannya. Kilatan halilintar ikut mengiringi gelap dan suramnya suasana. Tak lama berselang, hujan deras mengguyur Jaya Giri yang senantiasa jauh dari kesan ramai dan bising. Harapan untuk melihat secercah mentari, kini tergantung dalam angan, sembari hati terus merancau, “Akankah mentari kembali terbit di negeri ini?”
Kekisruhan dihati bukan tanpa sebab. Realitas yang tampak bukanlah pembohong yang baik. Banyak pertanyaan bernada harap yang timbul dalam sanubariku. Segala daya untuk membebaskan pikiran dari belenggu terus kulakukan. Tapi, usaha untuk menata alur penyesalan ini, pada akhirnya harus berakhir dengan tragis; Bingung!
* * * *
Ku mengenal Jihan saat mengikuti seminar “Quo Vadis Aceh Pasca Darurat Sipil” di Hotel Jayakarta Bandung, tahun 2004. Saat Hendardi (PBHI), Usman Hamid (Kontras), dan Zumrotin (Komnas HAM), berdebat dengan dipandu oleh Mas Dandhi dari Majalah Aceh Kita, aku dan Jihan malah asyik bercengkrama.
Memang singkat pertemuan dengannya. Tapi kesan mendalam hadir dalam hati. Gadis manis, berhidung mancung dengan kerudung panjang membalut rambut. Pribadi mandiri terpancar dari tatapan matanya.
Setelah pertemuan itu, kami tak pernah lagi berjumpa. Lima tahun berlalu. Aku sudah melupakannya. Termasuk janjinya untuk merayakan pergantian tahun 2005 di puncak Jaya Giri berdua. Namun surat dari Jihan yang kuterima tadi pagi, menorehkan kembali memori itu. Lambat laun kubuka surat itu. Sederet tulisan tangan yang tersusun rapi menghiasi tiap lembar surat itu.
Sobat, Apa kabarmu? Apakah kau masih mengingatku? Kalaupun kau lupa, itu wajar. Maklum kita sempat bertemu lima tahun lalu. Sobat, kadang kita lupa untuk menengok masa lalu yang pernah kita lalui karena sibuk dengan aktivitas dan persoalan yang dihadapi hari ini. Metabolisme tubuh kita bergerak tanpa bekerja, bertingkah laku, sampai pada kita tak mau lagi mengerjakan satu hal sekalipun. Tanpa disadari, begitu banyak manusia di bumi ini yang selalu mempersoalkan kebutuhan, kepuasan dan kepentingan. Mungkin inilah yang sering kita sebut kebutuhan. Aktivitas yang dilakukan selalu saja mirip dengan hari sebelumnya.
Rutinitas itu masih sempat dilakukan oleh penduduk Serambi Mekkah sebelum gempa dan tsunami datang menimpa. Kami masih tetap menghirup udara pagi, lalu mendapatkan sinaran mentari. Kami selalu dirundung malam, bahkan terkadang tersiram hujan. Selalu seperti itu, seperti hari kemarin.
Tapi, keceriaan kami akhirnya lenyap dalam sekejap. Udara pagi yang biasanya menyapa kami, hari itu tak ada. Mentari pun tak tampak rona wajahnya. Sepertinya firasat buruk bakal menimpa negeri kami.
Tiba-tiba dentum gempa mengguncang Tanah Rencong. Gemuruh gedung runtuh jadi pemandangan di pusat kota. Penduduk negeri panik, kami tak tahu apa yang tengah terjadi. Tak lama berselang, gelombang ombak tinggi muncul di depan mata. Kami lari menyelamatkan diri. Aku sendiri lari layaknya anak Nuh ke puncak bukit, tempat pemakaman leluhur Aceh. Sementara gelombang maut terus mengejar tak kenal ampun.
Tiba-tiba badai tsunami menghantamku. Dalam sakit dan panik, aku masih terus berlari. Akhirnya ombak setinggi 30 meter menggulung tubuh lemahku. Aku pun tak sadarkan diri ...
Sobat, ... Entah mukjizat apa yang Tuhan berikan padaku! Aku tak tau berapa lama ku pingsan. Saat ku sadar, aku tergagap. Negeriku yang selalu rusuh tenggelam dilalap samudera. Gedung musnah, rata dengan tanah. Keluarga, saudara, tetangga dan kawanku, hilang tak tahu rimbanya. Sementara yang tersisa hanyalah puing kehancuran, jeritan dan tangisan warga diantara 127 ribu raga tak bernyawa.
Kududuk terhenyak. Murkanya alam telah meluluh-lantakkan peradaban yang telah mengukir namanya dengan tinta emas. Gempa bumi dengan kekuatan 8,9 sekala richter telah menghapus kejayaan Nanggroe Aceh Darusalam. Badai tsunami telah memisahkan anak dari pangkuan kedua orang tuanya. Satu generasi telah hilang!
Aku hanya bisa mengurut dada dan menata rasa iba. Melihat ibu yang kehilangan anaknya, mayat yang berserakan tanpa dikebumikan, derita pengungsi di tenda penampungan yang kelaparan karena bantuan telat datang.
* * * *
Sobat, ... maafkan aku yang tak bisa tepati janji untuk menikmati malam tahun baru bersama. Harapan kita untuk duduk berdua di puncak Jaya Giri sambil menikmati pesta kembang api akhirnya hanya sebatas impian. Keinginan kita untuk menghabiskan malam di pusat kota kembang tak tercapai.
Maaf, sekali lagi maaf! Aku tak mungkin merayakan pesta itu, sementara orang tuaku telah tiada. Aku tak mungkin bersuka cita, sementara negeriku porak poranda. Aku pun tak mungkin berada disampingmu, disaat rakyatku terus mengiba.
Sobatku, kutulis surat ini diatas puing kehancuran korban tsunami. Kutitipkan surat ini pada tentara Jawa yang dulu pernah menyanderaku. Kuberikan padamu agar kau tau maksud hati.
Kenangan kembali hadir dalam anganku. Saat itu kami berencana untuk merayakan tahun baru bersama. Namun, harapan itu terbang entah kemana, tragedi tsunami telah memisahkan dua hati.
“Jihan, tak apa kau tak hadir dipesta itu. Pikiran dan bening matamu sangat dibutuhkan. Buktikan pada Tentara Jawa, yang dulu pernah menuduhmu subversif, bahwa baktimu pada negeri, ikhlas semata!”.
* * * *
Sobatku, ... Inilah kaidah dasar yang kuberikan untuk mengetuk pintu hatimu. Goreskanlah dalam pikiran, dan ingatlah! “Bencana yang kami derita bukanlah tanpa sebab. Malapetaka yang kami terima bukan adzab Tuhan pada hamba yang memperjuangkan Syariat Islam. Duka kami bukan karena Gerakan Aceh Merdeka seperti yang didengungkan oleh Jakarta. Kami tak butuh belas kasihan. Jangan jadikan nestapa kami sebagai komoditi tontonan, karena bencana bukan berita! Yang kami butuhkan hanya satu: Kesadaran, bahwa kita saudara sebangsa dan seagama!”.
Rajutlah kebersamaan ini, agar kami yang dari dulu selalu didera derita tetap mengakui adanya INDONESIA! Keinginan kami memang beda dari kalian! Perbedaan yang ditemukan terkadang akan menimbulkan kecewa yang menggores hati, tapi berkali-kali seorang guru menganjurkan “Sekarang cari kesamaan! Jangan banyak komentar! Banyaklah belajar untuk kebersamaan!” Ketika kalian mencoba untuk bisa memaklumi kepahitan yang kami rasakan, mungkin ini lebih baik, agar mahfum bahwa belum tentu orang berbuat salah, mempunyai niatan buruk. Banyak maklum banyak tenang, Achh…cari saja 1001 alasan untuk memaklumi.
Sobatku, ... semakin lama kau ratapi penderitaanku, semakin banyak waktu terbuang untuk memikirkan satu hal yang mungkin sedikit guna. Mencoba membantu dengan karya nyata untuk kembali membangun negeri bukankah itu lebih baik? Bahkah Osama bin Laden pernah berkata disaat negerinya sedang dihujani nuklir Amerika, “Padahal kita sedang bermain-main di taman syurga!” Barangkali maksud dari perkataan tersebut menunjukan pada arti kebahagiaan dan ketentraman hidup. Bisa sejenak direfleksikan ketika kita kembali memahami tugas kita diciptakan dimuka bumi ini; sebagai wakil Tuhan yang mengemban misi untuk menyebarkan kasih sayang dalam panji kejayaan Islam kesegenap penjuru dunia. Ingatlah kata Anand Krishna, “Selama langit dan bumi ini masih ada, selama kau dan aku masih ada, rasa kasih akan selalu dibutuhkan”.
Sobatku, ... dalam refleksi ini, lagi-lagi ini hanya refleksi belaka, terlepas dari kemelut apa yang sedang Aceh hadapi. manusia tercipta lengkap dengan perasaan yang kompleks pada setiap komunitasnya. Penduduk Aceh juga manusia seperti yang lain, punya rasa kecewa, punya sedih, punya bahagia, dan segala paket kekurangan yang mungkin mengecewakan Indonesia. Bukan kami bangga akan kekurangan ini, namun pengertian, pemahaman dan kesadaran dari kalian sebagai saudara yang kami harapkan. Itu yang kami butuhkan sekarang! Bukan satu hukuman yang tak jelas, atas dasar belas kasihan yang samar!
Kedua tangan yang Tuhan ciptakan semakin jelas hikmahnya. Ketika jarimu dapat merasakan kegelisahanku yang tak sempat terucap, eratan jemari itu yang bicara, dalam rintihan hati menahan sakit.
Sobatku, kegelisahan hati untuk kembali bangkit dari titik nadir, membangun negeri ini, tak sempat kuatasi. Wajar kiranya jika aku yang pernah terluka karena harus terusir dari kampung halaman akibat fitnah “Tentara Jawa” masih merasakan sakitnya luka itu, bahkan luka itu berulang sampai berkali-kali. Aku hanya tak mau luka itu terulang kembali. Sakit … rasanya untuk bisa meregang pilu!!? Sobat, tidak ada niat egois disini! Apalagi lari dari kenyataan. Yang ada kiranya hanya kehati-hatian dan kesiapanku untuk bisa melewatinya kelak. Semoga Tuhan terus meneguhkan hatiku untuk bisa ikhlas menahan pilu, gelisah, dan kekesalan hati karena ulahku dan “kenakalan” Tentara kita.
Gagap aku membaca ratapan Jihan. Patriotisme yang tak pernah pudar meski harus terusir dari tanah leluhur! Sebagai seorang mahasiswi, geliat jiwa telah menggiringnya untuk memasuki dunia aktivis pergerakan. Kemelut Aceh akibat GAM dan tindakan TNI terhadap wanita pribumi di masa darurat sipil, telah memanggil kepeduliannya untuk terjun membela hak rakyat.
Saat sedang mendampingi korban pelecehan seksual sewaktu DOM, aparat dan TNI menciduknya. Tuduhan subversif membawanya ke meja hijau. Selama satu semester jeruji besi jadi tempat tinggalnya. Ia pun di drop out dari studinya.
Derita hati dan dendam telah membawanya pergi tinggalkan Aceh. Jawa jadi tujuan. Di Bandung, dunia aktivis kembali digeluti. Desakan pencabutan status darurat sipil di Aceh sebagai tuntutan. Gerak pembebasan Aceh dari belenggu Jakarta, membawa Jihan pada perjuangan tak bertepi.
* * * *
Bencana dan nestapa adalah fenomena Tuhan, dan hanya Tuhan yang berhak menentukan itu! Namun keindahan alam Aceh, kebersamaan dan kegelisahan warga yang sempat kami lalui bukan tanpa arti. Hanya Tuhan yang mengetahui akhir dari cerita panjang ini. Hanya harapan dan do’a yang mengiringi segenap penduduk negeri, “Semoga rintisan air hujan tidak menjadi banjir yang akan menggenangi negeri ini untuk kedua kalinya. Semoga mentari diiringi pelangi bertabur warna segera menghiasi cakrawala dunia di kawasan ujung Sumatra. Semoga...
Terima kasih telah menjadi bagian dari makna hidupku, ... Semoga waktu luangmu untuk membaca lembaran ini dapat dipetik hikmahnya walau kecil dan tak bermakna ....
Jihan, tunggu aku di Ujung Banda. Aku pasti datang...

Nana Suryana, Koordinator Komunitas Islam Emansipatoris (JIE) Bandung. [25/12/2009]