<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • "....ada kisah yang belum usai...."

    Akhirnya langkah ini tiba pada sebuah sketsa. Dalam kecamuk, amuk dan peluk. Ada yang terkunci saat ingin membuka segala. Meski cuma lewat kata. Satu hal yang kuyakin; adalah jengahku pasti hadir dalam lembaran ini. Hanya, bacalah! Simaklah! Lalu silahkan saja sinismu terngiang dan kan ada rutuk yang melenggang. Atau paling tidak, pandanglah! Dan jauhkan ia pelan, kelak tak ada perihal yang membayang. Hingga entah kapan kan terhiba kata yang dikurung naifnya keangkuhan...

  • Kuwariskan semua ini hanya untukmu...

    Mahakarya inilah salah satu warisan yang akan kuberikan. Maka kutulis sabda ini untukmu, Anakku. Meski Ayah sendiri sebenarnya tak mengerti di mana bermula maksud ini. Tapi ayah tidak memiliki kemampuan menuliskan isyarat hati. Ayah juga berharap dirimu damai adanya. Sebab doaku telah kurangkumkan pada mega. Ia kan menaungimu dari durja dunia. Dan bagi ayah, beritamu adalah segalanya. Apa yang ayah jalani tidak lagi berarti bila kamu, anakku, tak lagi mengilhami! Kamu adalah anakku, dan anak dari ingatan yang kuwariskan padamu...

  • Merayakan Keberagaman Keberagamaan...

    Setidaknya ada tiga hal yang ingin disampaikan tafsir emansipatoris; Islam Emansipatoris ingin memberikan perspektif baru terhadap teks, Menempatkan manusia sebagai subyek penafsiran keagamaan, Memiliki konsern kepada persoalan kemanusiaan ketimbang pada persoalan teologis. Islam Emansipatoris ingin mengalihkan perhatian agama dari persoalan langit (teosentrisme) menuju persoalan riil yang dihadapi manusia (antroposentrisme). Penekanannya pada aspek praksis, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai ritualisme melainkan pembebasan masyarakat dari segala penindasan!

Twitter
Tampilkan postingan dengan label MEDIA STUDIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEDIA STUDIES. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2011

Cinta dalam Tinjauan Analisis Interaksi Simbolik



Fenomena remaja soal cinta sudah bukan menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan dalam ruang-ruang publik. Ini sudah bukan lagi jaman Siti Nurbaya yang mengharuskan adanya tembok-tembok tabu yang membatasi perbincangan seputar cinta. Tak heran juga ketika berpacaran menjadi hal yang wajar. Bahkan saat ini menjadi sebuah ketidakwajaran apabila ada orang yang tidak pernah mengenal cinta di masa remaja. Dalam tulisan kali ini saya mencoba membahas fenomena seputar kehidupan remaja, khususnya tentang percintaan remaja dengan menggunakan analisis interaksi simbolik.

Ketika remaja mulai tertarik dengan lawan jenis, tentu bermacam sikap atau reaksi yang ditunjukkannya. Ada yang dengan agresif menujukkan rasa ketertarikannya, namun ada pula yang dengan jurus diam seribu bahasanya. Dengan berbagai kondisi yang ditunjukkan ini menimbulkan makna cinta yang bermacam-macam sesuai pengalaman subyektif dari masing-masing individu.

Berdasarkan pandangan interaksi simbolik, persoalan mengenai kehidupan sosial manusia pada hakikatnya tidak dapat diabaikan dari sebuah jalinan interaksi sosial yang menopangnya. Bagaimanapun, sebuah kehidupan sosial atau sebuah masyarakat terbentuk dan terpelihara, sesungguhnya menyiratkan kerja-kerja individual manusia yang secara sosial terlibat dalam proses pembentukan realitas di luar dirinya. Begitupun halnya dengan makna cinta dalam kehidupan remaja.

Individu-individu yang beranekaragam dalam melakukan aktivitas secara kolektif (sosial), tentunya meniscayakan adanya pertukaran simbol. Sementara simbol itu sendiri sarat dengan muatan makna. Oleh karena itu, setiap individu pada dasarnya senantiasa melakukan proses pendefinisian situasi, menafsirkan realitas di luar dirinya yang penuh dengan simbol. Misalnya ketika seorang remaja hendak menyampaikan rasa cinta yang ia miliki kepada orang lain, ini melalui proses interaksi simbolik.

Ketika seseorang memaknai perasaannya bahwa ia cinta pada seseorang, makna itu bersifat arbitrer atau sembarang. Makna cinta itu hanya pada pikirannya saja. Yang perlu dicatat adalah bahwa makna dari simbol “cinta” yang perlu diinteraksikan kepada pihak lain itu memerlukan pemahaman makna bersama. Begitupun saat seorang individu merasakan bahwa orang yang dia cinta itu memberikan respon berupa simbol yang ia yakini sebagai makna “cinta” terhadapnya, pada dasarnya itu pun belum dapat dikatakan keduanya punya satu persepsi atau kesepahaman tentang “cinta” yang ia sampaikan.

Sebuah makna simbol dapat diinterpretasikan perdasarkan penilaian orang lain. Namun jika simbol itu ingin disampaikan pada orang yang kita anggap menyampaikan makna yang sama pada kita, maka kita pun harus mengkomunikasikannya. Jadi makana “aku cinta” harus di sampaikan secara bahasa, tidak hanya ditampilakan menggunakan simbol-simbol non verbal semata. Kesimpulannya jika seseorang ingin agar perasaan cintanya diterima dan diketahui oleh orang lain, maka dia harus menyampaikannya secara langsung agar makna tersebut tidak hanya makna subjektif, namun telah menjadi makna sosial.

Kamis, 17 Februari 2011

DAFTAR ALAMAT E-MAIL MEDIA MASSA


Ketika kita membaca media, kadang kita ingin berkomentar. Atau tiba-tiba muncul inspirasi untuk membuat tulisan. Namun setelah tulisan itu jadi, kita mau kirim kemana? Lewat pos? Ah, tentu saja sudah tidak praktis lagi. Bisa jadi tulisan kita sudah tidak up to date lagi, sehingga tidak termuat. Solusinya, kirim saja via e-mail. Tapi alamatnya apa ya? Tidak usah bingung, berbagai alamat email media nasional dan daerah dengan senang hati saya sajikan dalam blog ini.

Karena media menjadi penting dalam hidup kita, maka blog ini saja sajikan. Kemerdekaan kita adalah segalanya, dan kemerdekaan itu diawali dari askes yang luas terhadap sesuatu, termasuk akses terhadap media tentunya.

1. SURAT KABAR NASIONAL

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
opinion@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
jktpost2@cbn.net.id

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
editorial@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
sundaypos@thejakartapost.com

THE JAKARTA POST
E-mail Address(es):
features@thejakartapost.com

JAWA POS
E-mail Address(es):
editor@jawapos.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
kompas@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.com

KOMPAS
E-mail Address(es):
opini@kompas.co.id

KOMPAS
E-mail Address(es):
kcm@kompas.com

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
webmaster@mediaindonesia.co.id

MEDIA INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksimedia@yahoo.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
widabdg@seputar-indonesia.com

SEPUTAR INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@seputar-indonesia.com

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
rekor@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
medika@republika.co.id

REPUBLIKA
E-mail Address(es):
sekretariat@republika.co.id

HARIAN IBU
E-mail Address(es):
redaktur@harianibu.com


2. SURAT KABAR JAKARTA

MERDEKA
E-mail Address(es):
merdekanews@yahoo.com

HARIAN INDONESIA
E-mail Address(es):
redaksi@harian-indonesia.com

RAKYAT MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@rakyatmerdeka.co.id

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo@harianjakarta.com

HARIAN JAKARTA
E-mail Address(es):
aristo_jakarta@yahoo.com

INVESTOR DAILY
E-mail Address(es):
koraninvestor@investor.co.i

KOMPAS INSIDE
http://www.kompasinside.blogspot.com


3. SURAT KABAR JAWA BARAT

KOMPAS JABAR
E-mail Address(es):
kompasjabar@kompas.co.id

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
koransp@suarapembaruan.com

SUARA PEMBARUAN
E-mail Address(es):
opini@suarapembaruan.com

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
info@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
opinish@sinarharapan.co.id

SINAR HARAPAN
E-mail Address(es):
redaksi@sinarharapan.co.id

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@gmail.com

RADAR BANDUNG
E-mail Address(es):
radarbandung@yahoo.co.uk

METRO BANDUNG
E-mail Address(es):
metrobdg@rad.net.id

KORAN SUNDA
E-mail Address(es):
koran_sunda@yahoo.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@pikiran-rakyat.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
cakrawala@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
kampus@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia_pr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
gelora@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
dwi@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
otokirpr@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
didih_otokir@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
mardjanzen@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
prminggu@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
khazanah@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
beritapr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
seagpr@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
percil@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
wakhu@yahoo.com

PIKIRAN RAKYAT
E-mail Address(es):
belia@pikiran-rakyat.co.id

PIKIRAN RAKYAT (BUDHIANA)
E-mail Address(es):
budipr_bdg@yahoo.com

TRIBUN JABAR
E-mail Address(es):
tribunjabar@persda.co.id
atau tribunjabar@yahoo.com


4. SURAT KABAR JAWA TENGAH DAN JOGJA

KOMPAS JATENG
kompasjateng@kompas.co.id

KOMPAS JOGJA
kompasjogja@kompas.co.id

SUARA KARYA
E-mail Address(es):
redaksi@suarakarya-online.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
humainia@yahoo.com

SUARA MERDEKA
E-mail Address(es):
redaksi@suaramer.famili.com

SOLO POS
E-mail Address(es):
litbang@solopos.net

SOLO POS
E-mail Address(es):
redaksi@solopos.net

WAWASAN
E-mail Address(es):
redaksi@wawasan.co.id

BERNAS
E-mail Address(es):
bernasjogja@yahoo.com

BERNAS
E-mail Address(es):
editor@bernas.co.id

KEDAULATAN RAKYAT
E-mail Address(es):
redaksi@kr.co.id

RADAR KUDUS
E-mail Address(es):
radarkudus@hotmail.com


5. SURAT KABAR JAWA TIMUR

KOMPAS JATIM
kompas@sby.dnet.net.id

SURYA
E-mail Address(es):
surya1@padinet.com

SURABAYA NEWS
E-mail Address(es):
surabaya_news@yahoo.com

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
redaksi@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
tya@surabayapost.info

SURABAYA POST
E-mail Address(es):
surabayanews2003@yahoo.com

DUTA MASYARAKAT
E-mail Address(es):
dumas@sby.centrin.net.id

RADAR SURABAYA
radarsurabaya@yahoo.com



6. SURAT KABAR BALI DAN SEKITARNYA

BALI POST
E-mail Address(es):
balipost@indo.net.id

BISNIS BALI
E-mail Address(es):
info@bisnisbali.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpostbali@yahoo.com

DENPASAR POS
E-mail Address(es):
denpos@indo.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@kupang.wasantara.net.id

POS KUPANG
E-mail Address(es):
poskupang@persda.co.id


7. SURAT KABAR KALIMANTAN

RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
afoez99@gmail.com

RADAR BANJARMASIN
E-mail Address(es):
redaksi@radarbanjarmasin.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@yahoo.com

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
banjarmasin_post@persda.co.id

BANJARMASIN POST
E-mail Address(es):
bpostmania@telkom.net

PONTIANAK POST
E-mail Address(es):
redaksi@pontianakpost.com

KALTIM POST
E-mail Address(es):
redaksi@kaltimpost.net


8. SURAT KHABAR SUMATERA

RIAU POS
E-mail Address(es):
redaksi@riaupos.co.id

LAMPUNG POST
E-mail Address(es):
redaksilampost@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
bangkapos@yahoo.com

BANGKA POS
E-mail Address(es):
redaksi@bangkapos.com

BATAM POS
E-mail Address(es):
redaksi@harianbatampos.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sriwijayapost@yahoo.com

SRIWIJAYA POST
E-mail Address(es):
sripo@persda.co.id

RIAU TRIBUNE
E-mail Address(es):
riautribune@yahoo.com

SERAMBI
E-mail Address(es):
serambi@indomedia.com

SERAMBI NEWS
E-mail Address(es):
redaksi@serambinews.com


9. MAJALAH

Berikut ini beberapa majalah yang beredar di sekitar kita.

READER'S DIGEST
E-mail Address(es):
Respati.Wulandari@feminagroup.com

READER'S DIGEST
E-mail Address(es):
editor.rd@feminagroup.com

SALAFY
E-mail Address(es):
majalahsalafy@ygy.centrin.net.id

SINYAL
E-mail Address(es):
redaksi@majalahsinyal.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
redaksi@hidayatullah.com

SUARA HIDAYATULLAH
E-mail Address(es):
majalah@hidayatullah.com

SWA
E-mail Address(es):
swaredaksi@cbn.net.id

SWA
E-mail Address(es):
sekredswa@yahoo.com

TEMPO
E-mail Address(es):
koran@tempo.co.id

TEMPO
E-mail Address(es):
teknologi@tempo.co.id

TRUST
E-mail Address(es):
redaksi@majalahtrust.com

ANNIDA
E-mail Address(es):
annida@ummigroup.co.id

BOBO
E-mail Address(es):
bobonet@gramedia-majalah.com

FORUM
E-mail Address(es):
forumkeadilan@yahoo.com

FORUM
E-mail Address(es):
redaksi@forum.co.id

GADIS
E-mail Address(es):
info@gadis-online.com

GATRA
E-mail Address(es):
redaksi@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
gatra@gatra.com

GATRA
E-mail Address(es):
surat@gatra.com

GE MOZAIK
E-mail Address(es):
ge_mozaik@ganeca-exact.com

GONG
E-mail Address(es):
gongetnik@yahoo.com

HAI
E-mail Address(es):
hai_magazine@gramedia-majalah.com

HEALTHY LIFE
E-mail Address(es):
read_healthylife@yahoo.com

INFOLINUX
E-mail Address(es):
redaksi@infolinux.co.id

INSIDE INDONESIA
E-mail Address(es):
admin@insideindonesia.org

INTISARI
E-mail Address(es):
intisari@gramedia-majalah.com

MAJALAH ILMIAH QUAD
E-mail Address(es):
quad@brawijaya.ac.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
hsantoso@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH TEKNIK ELEKTRO
E-mail Address(es):
eniman@paume.itb.ac.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
unjani@bdg.centrin.net.id

MAJALAH ILMIAH UNJANI
E-mail Address(es):
fmunjani@bdg.centrin.net.id

MATABACA
E-mail Address(es):
ade_trimarga@yahoo.com

MATABACA
E-mail Address(es):
adetri@matabaca.com

MATABACA
E-mail Address(es):
redaksi@matabaca.com

MATRA
E-mail Address(es):
matranet@rad.net.id

NEOTEK
E-mail Address(es):
redaksi@neotek.co.id

PARAS
E-mail Address(es):
majalahparas@yahoo.coma


10. TABLOID

TABLOID INTELIJEN
E-mail Address(es):
tabloid_intelijen@yahoo.com

TABLOID ROAMING
E-mail Address(es):
redaksi@tabloidroaming.com

TABLOID SMS
E-mail Address(es):
tabloid_sms@yahoo.com

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
trendigital@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
ahmad.djauhar@bisnis.co.id

TREN DIGITAL
E-mail Address(es):
web@bisnis.co.id


11. JURNAL

Berikut ini alamat beberapa jurnal.

JURNAL
E-mail Address(es):
jurnal@cbn.net.id

JURNAL ILMIAH HUKUM LEGALITY
E-mail Address(es):
heru@umm.ac.id

JURNAL ISLAM
E-mail Address(es):
jurnalislam@yahoo.com

JURNAL PEMIKIRAN ISLAM
E-mail Address(es):
i3ti@indosat.net.id

JURNAL RISTEK
E-mail Address(es):
jurnal@ristek.go.id

JURNAL SAINS MATEMATIKA TEKNOLOGI
E-mail Address(es):
jmst@utlab.ut.ac.id


-------------
Nana Suryana.
Sumber: http://www.alamat-media.blogspot.com/

Minggu, 13 Februari 2011

Kemanakah Media Islam yang Toleran?


Kehidupan masa kini sangat diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merambah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Penghayatan hidup personal sekalipun sangat kuat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Perubahan pola pikir dan mentalitas itu sangat dipengaruhi oleh penanaman nilai yang jelas sangat kuat dipengaruhi oleh perubahan peradaban (Aurelius Pati Soge; 2003).

Informasi merupakan komoditas primer yang dibutuhkan orang saat ini. Apalagi seiring dengan canggihnya tekhnologi komunikasi yang telah menghantarkan perubahan tatanan kehidupan manusia menuju peradaban masyarakat informasi. Dengan informasi, ruang-ruang yang amat jauh terasa begitu dekat karena dapat ditampilkan secara langsung lewat media massa sebagai mediatornya. Peristiwa-peristiwa dibelahan dunia dapat secara langsung dalam waktu bersamaan dinikmati oleh publik dunia.

Sistem komunikasi modern sangat memudahkan manusia untuk mendapatkan informasi dari sumber-sumber lain, termasuk dalam hal ajaran keagamaan. Kalau di masa lalu dakwah Islam melalui media mimbar seakan-akan menjadi referensi tunggal untuk kebenaran iman dan moral, sekarang ini orang dengan mudah membandingkannya dengan informasi lain dari media cetak dan elektronik.

Situasi ini menghantarkan kelompok agamawan kepada tantangan baru di dalam menjalankan tugas pelayanannya. Untuk bisa menjalankan tugas pelayanan di masa kini dengan tantangan yang begitu besar, para praktisi misioner agama dengan seharusnya mengetahui gerak perubahan modern tersebut.

Pertanyaan bagi kelompok misioner ialah, sejauh mana tahapan "mengetahui" gerak perubahan komunikasi modern tersebut dituntut bagi setiap praktisi misioner? Apakah sebatas "pengetahuan artifisial" atau lebih mengarah ke proses internalisasi yang lebih dalam, sehingga komunikasi tidak lagi menjadi "sekedar" metode tetapi lebih menjadi bagian integral dari kehidupan seorang praktisi misionaris agama?.

Menjelang akhir dekade 90-an, kita menyaksikan gerakan Islam liberal yang mencoba menampilkan Islam dengan cara yang berbeda dengan mainstream. Mereka tidak hanya menampilkan diri dalam bentuk identitas dan simbol keislaman yang mencolok, tetapi juga hadir dalam bentuk perjuangan yang khas, mulai dari tuntutan universalisme dan pluralisme ajaran Islam hingga pembongkaran terhadap doktrin-doktin keagamaan yang sarat dengan nuansa pembelengguan dan eksploitasi umat.

Perjuangan untuk menyebarkan paham keislaman dengan corak yang berbeda tersebut (liberal-Red), banyak dilakukan melalui media massa, baik yang dikelola oleh lembaga keagamaan, maupun melaui media massa umum.

Suatu perkembangan penting dalam kehidupan media telah terjadi sejak tiga dekade terakhir ini. Berbeda dengan dekade-dekade sebelumnya, media massa telah menjadi kekuatan yang relatif terpisah dari pengelompokan-pengelompokan sosial berdasarkan ideologi atau aliran. Meskipun kaitan-kaitan semacam itu masih ada, pengaruhnya sudah tidak lagi intensif dan mendalam. Koran atau majalah tidak menjadi corong kekuatan politik tertentu.

Disadari atau tidak, kisah suksesnya media-media tidak bisa dilepaskan dari fenomena tumbangnya Orde Baru pada bulan Mei 1998. Drama politik paling sensasional selama tiga dekade itu menandai datangnya eforia kebebasan yang nyaris sempurna. Dan, bagi kalangan media, itulah untuk pertama kalinya selama 30 tahun, media massa mengalami masa kebebasan yang hampir-hampir tak terbatas.

Bak gayung bersambut, Yunus Yosfiah, Menteri Penerangan waktu itu, melakukan terobosan penting dengan mempermudah pengurusan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Ratusan SIUPP pun keluar dari tangan Yosfiah.

Media-media Islam jelas diuntungkan dengan fenomena tersebut. Sebab, sebelumnya, untuk menerbitkan sebuah media massa dibutuhkan SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers), hal yang tidak mudah diperoleh. SIUPP bukan sekadar surat izin yang harus dibeli dengan uang jutan rupiah, ia bahkan lebih mirip kepanjangan tangan dari kekuasaan. Orang boleh memiliki uang, gagasan dan keterampilan, tapi untuk memperoleh SIUPP, uang saja tidak cukup. Dibutuhkan orang yang punya akses terhadap proses pengambilan keputusan untuk bisa memperoleh SIUPP.

Itulah sebabnya, begitu kran kebebasan dibuka dan proses pengurusan SIUPP dipermudah, banyak orang tergoda untuk terjun di dunia pers. Akhir dekade 90-an adalah masa pertumbuhan pesat dunia pers, baik majalah, tabloid, maupun koran. Kios-kios pinggir jalan dipenuhi oleh beragam tabloid, majalah dan koran baru, termasuk di antaranya media-media Islam.

Sayangnya, pada saat pasar dipenuhi oleh media Islam yang menyuarakan fanatisme dan eksklusivisme, media Islam moderat justru semakin hilang dari peredaran. Majalah Ummat yang sempat mapan pada dekade 90-an ternyata tidak dilanjutkan penerbitannya. Padahal, pada masa jayanya, majalah ini sempat mencapai oplah 40 ribu eksemplar, suatu pencapaian yang cukup besar untuk ukuran media Islam. Jurnal Ulumul Qur’an yang sempat menjadi salah satu icon pemikiran Islam, ternyata tidak berlanjut ketika kran kebebasan dibuka lebar. Majalah Panji Masyarakat juga tidak lebih baik nasibnya.
Ini tentu memprihatinkan, karena media-media Islam yang terbit sejak masa itu didominasi oleh media yang cenderung menjual “kabar-kabar kebencian” (Agus Sudibyo, Ibnu Hamad dan Muhammad Qodari, Kabar-kabar Kebencian, Prasangka Agama di Media Massa, Jakarta, ISAI, 2001).

Padahal kita tahu, media merupakan faktor yang sangat penting bagi pembentukan image, citra maupun stigma. Dari medialah kita memperoleh informasi mengenai realitas yang tengah berlangsung di tempat lain. Sementara, realitas yang dihadirkan media ke hadapan kita belum tentu realitas yang sesungguhnya, tetapi realitas yang sudah dibentuk, dibingkai, dan dipoles sedemikian rupa oleh media tersebut.

Sekarang ini, pada waktu yang bersamaan muncul juga media-media Islam dalam format website yang boleh dikatakan berbeda dari media-media Islam sebelumnya, baik dari segi penyajian maupun isu yang diangkat. Dari segi penyajian, media-media ini menggunakan bahasa yang tegas, lugas dan berani, bahkan cenderung provokatif. Sementara, dari segi isu yang diangkat, media-media ini juga menurunkan tema-tema yang sensitif, termasuk yang berkenaan dengan SARA, tentu saja dengan pendekatan yang sangat mencerminkan pluralitas ajaran Islam.

Salah satu website media Islam yang sangat besar, yakni situs www.islamemansipatoris.com. Website Jaringan Islam Emansipatoris merupakan salah satu media yang digunakan oleh Jaringan Islam Emansipatoris (JIE) Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta dalam rangka melakukan transformasi sosial, demi pemberdayaan wacana intelektual masyarakat.

Sebagai salah satu situs terkemuka di Indonesia dekade tahun 2005-an, website Jaringan Islam Emansipatoris memiliki ciri khas, segmen pembaca, visi dan misi yang menarik untuk memasukinya. Sayangnya website itu kini sekarang sudah almarhum. Maka pada tataran inilah, kehadiran blog ini semoga mampu jawaban atas kerinduan kita pada media yang memiliki konsen khas pada ajaran Islam yang berperspektif emansipatoris.


-----
nana suryana

Rabu, 24 Maret 2010

Parasitisme Media


Oleh: Nana Suryana, S.Sos



Media Pasca Reformasi
Revolusi Mei 1998 yang ditandai dengan tumbangnya rezim Soeharto dan digantikan oleh Habibie, banyak dipahami sebagai bagian dari revolusi yang lebih besar, yakni revolusi kapitalisme global yang bersumber dari kaidah neoliberaslisme dan yang menghendaki liberalisme ekonomi global.
Sebagai bagian dari proses liberalisme global, kebebasan media massa pasca Orde Baru, yang tadinya diharapkan dapat mengembalikan eksistensi media massa pada kekuatan kaum intelektual, malahan mengarah pada suatu kebebasan media massa yang berpihak politik pada kepentingan ekspansi dan akumulasi modal. Dalam konteks ini, kebebasan media massa menjadi tidak sepenuhnya fungsional dan berkorelasi dengan proses demokratisasi seperti yang diharapkan oleh gerakan reformasi.
Pada satu sisi institusi media massa pasca Orde Baru sebagai satu kombinasi antara kegiatan media massa dan kepentingan modal memang telah terbebas dari kekangan rezim penguasa, ketika pemerintah mencabut Permenpen No. 01/1984 tentang hak pembatalan SIUPP oleh Menteri Penerangan, Yunus Yosfiah, lewat Permenpen No. 01/1998.
Imbas dari kebijakan tersebut beberapa media yang ketika zaman Orde Baru sempat (di)mati(kan), terbit lagi dengan semangat dan pemodal baru. Akibat banyaknya pemain yang bermain dilahan yang sama, maka timbullah persaingan yang ketat diantara media baru tersebut. Media melakukan segala macam cara demi menaikkan oplah atau mempertahankan pelanggan lamanya.
Dalam pandangan Winarko (2000), walaupun dari jumlah penerbitan meningkat pesat hingga diatas angka 1.500, khalayak pembaca ternyata tidak menunjukan peningkatan yang sebanding. Sejak sepuluh tahun terakhir, tiras media cetak tidak jauh beranjak dari angka 10 hingga 15 eksemplar. Sementara tiras surat kabar harian berkisar 4 sampai 6 juta eksemplar.

Kebebasan Media
Seharusnya manusia sadar, bahwa kebebasan media membutuhkan berbagai perangkat yang menjadikan media itu leluasa digerakkan, ilusi untuk menciptakan pelarian tentu tak perlu. Sebab, kebebasan mutlak dan pelarian mutlak pernah betul-betul terjadi dalam kenyataan. Di tengahnya, manusia hanyalah makhluk yang tidak pernah bebas dan tak pernah pula tidak bebas.
Konsep kebebasan (freedom), seperti yang diungkapkan oleh Erich Fromm, merupakan suatu kondisi dimana kebebasan dari (free from) dan kebebasan untuk (free to) bisa berjalan secara seimbang dan beriringan. Namun pada sisi lain tampak bahwa media massa semakin tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman the invisible hand mekanisme pasar serta proses akumulasi modal yang mengarah pada konsentrasi dan homogenisasi komoditi informasi.
Kebebasan media massa seharusnya mampu menciptakan public sphere dalam sebuah sistem demokrasi. Wacana publik mengenai legitimasi penguasa berlangsung dalam kawasan yang relatif terlindungi dari intervensi politik penguasa dan penetrasi kepentingan modal masih harus diperjuangkan oleh publik. Media seharusnya bersikap independen, objektif, jauh dari prasangka, berpihak pada kepentingan publik, dan terbebas dari selubung ideologi tertentu.
Sayangnya, kebebasan tersebut jauh panggang dari api. Ketika di zaman Orde Baru, kebebasan media massa berada dalam cengkraman penguasa, sementara media massa pasca reformasi kebebasannya dirampas oleh pemilik modal. Media massa yang terbit pasca-Orde Baru, terutama media massa cetak, tampaknya hanya menjadi semacam ajang pelepasan hasrat di masa reformasi setelah sekian lama dikekang dengan berbagai aturan yang melarang lahirnya media massa baru. Media massa baru yang tidak ditopang oleh manajemen yang kuat, tim redaksi yang piawai dan jaringan pemasaran yang handal, akhirnya jatuh satu persatu. Maka peta dunia media massa cetak di Indonesia kembali pada pola pengerucutan beberapa kelompok penerbitan besar.
Selain media massa cetak, kepemilikan media yang terpusat juga terjadi pada media massa elektronik, terutama televisi. Antara tahun 1987 hingga 1998, media Indonesia berada dalam persimpangan antara fungsi pers sebagai instrumen hegemoni negara dengan fungsi pers sebagai institusi kapitalis. Disatu sisi, pemerintah mulai mengadopsi prinsip-prinsip pers liberal, namun disisi lain mempertahankan kebijakan-kebijakan sektor media yang bertentangan dengan semangat liberalisme (Hidayat, 2000).

Cengkraman Media
Media massa Indonesia sekarang memang telah mengalami kemerdekaannya, namun hal itu sama sekali tak praksis menjadikan media massa bebas dan otonom. Dengan berbagai alasan, media massa tetap sebagai entitas yang berkepentingan, sadar atau tidak sadar, terorganisasikan atau tidak teroirganisasikan. Berbagai kepentingan dibalik media massa bisa ditunjuk sebagai faktor tidak bebas dan otonomnya media massa; baik modal, organisasi, ideologi, kultur, hingga soal-soal yang bersifat teknis.
Namun, disaat kondisi politik mulai terbuka, dalam kondisi dimana kemungkinan suara rakyat dapat leluasa dipublikasikan, terjadi pula perkembangan yang mengkhawatirkan pada media. Media massa sekarang berada dalam situasi struktural tertentu dimana kapitalisme semakin revolusioner dan cenderung meniadakan segala bentuk jati diri lama dan menawarkan jati diri baru lewat program liberalisasi, privatisasi dan monopoli. (Dharma, 2003).
Hal tersebut juga terjadi pada media televisi. Sebagai pranata sosial mutakhir, televisi secara bertahap sudah melampaui efektifitas pranata sosial lain, seperti partai politik dan media cetak yang telah memapankan dirinya sejak awal abad ke-20. Melalui televisi, partai politik dan media cetak ide modernisasi tersebar luas.
Kehadiran televisi dalam kaitannya sebagai mediator penyampaian pesan melampaui peran media cetak dalam tiga hal. Pertama, daya jangkau publik yang teramat luas, yang dapat ditunjukkan dengan puluhan juta perangkat TV di rumah-rumah. Kedua, kemampuan televisi untuk mendikte “kebenaran”. Dan, ketiga, relativisasi arti dan signifikasi peristiwa sosial lewat keragaman program.
Saat ini setiap pesawat televisi di Indonesia menjadi media yang dinanti kehadirannya, tak kurang dari 11 stasiun penyelenggara siaran televisi dalam negeri. Termasuk TVRI yang paling tua dan kemudian paling banyak ditinggalkan penonton. Lima di antaranya (Trans TV, Metro TV, Global TV, Lativi, dan Trans7) muncul dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, justru di tengah krisis multidimensi yang juga ditengarai dengan menguatnya kembali kekuatan lama anti perubahan.
Televisi merebut perhatian permisa saat unsur suspens (respon sejenak untuk beralih pikiran) berhasil dikendalikan. Oleh sebab itu televisi disebut kotak ‘sihir’ hitam yang menampilkan gambar dan bunyi. Tanpa sadar, alat ini mengubah cara pemahaman simbolis abjad dan susunan kalimat kembali menjadi gambar dan suara yang tak bisa digugat. Siaran televisi mampu menyeruak masuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat, sebagai pilihan yang paling mudah dan dianggap alamiah untuk mengisi waktu luang di rumah. Ia menyatu dan senafas dengan aktifitas kebanyakan rumah tangga. Dari yang miskin hingga kaya raya.
Seorang pembuat program acara menyatakan, bahwa setiap programmer berupaya mengejar ratting agar pemirsa menjauhkan alat pengendali jarak jauh (remote control) dari jangkauannya. Acapkali pesan semacam ini terungkap dalam kalimat-kalimat manis yang dinyatakan disela program dan tayangan iklan. Pemirsa diajak untuk tidak menggunakan hak prerogatifnya menukar saluran dan menikmati pesan secara utuh.
Untuk mencapai maksud semacam itu, perusahaan televisi merekrut para pekerja artistik terampil sehingga mampu mengadopsi dan mengemas narasi kemapanan yang sebelumnya tersusun dengan kata-kata ke dalam susunan letak latar, gimik, tutur dan pergerakan kamera. Konsekuensinya, televisi berlaku sebagai penerjemah suatu ide dan mengatur tayangan apa pun layaknya pentas drama. Setiap acara wajib merangsang sensasi pemirsa seperti tahap mula kanak-kanak belajar lewat sensasi gambar dan bunyi.

Parasitisme Media
Televisi adalah mesin dolar yang tak pernah berhenti menjual gagasan, mereproduksi makna sejarah dan agenda sejarah. Televisi menawarkan dua ranah bagi manusia; ranah jurnalistik (informasi) dan ranah hiburan. Masing-masing ranah ini mengelola efeknya; realitas sosial adalah sekuen dari ranah jurnalisme. Sedangkan ranah hiburan lebih banyak menggarap efek psikologi yang bersifat personal.
Menurut Halim (2003), dalam hal penyajian informasi atau berita, kemasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari siaran berita yang isinya bersifat umum, lalu ada juga informasi kekinian (hardnews) tiap 1 jam sekali, serta berita dengan tajuk khusus yang didominasi oleh dua tema besar yakni tema kriminalitas dan pasar uang (bursa efek). Ada pula kemasan informasi yang dalam tiap penyajiannya berfokus pada satu tema tertentu. Berganti-ganti dari satu tema ke tema lainnya namun tetap bersumber pada program impor yang disajikan dalam kemasan siaran berita umum. Hampir seluruh kemasan informasi tersebut dimiliki oleh setiap stasiun siaran televisi.
Kemasan hiburan pun demikian. Hampir semua acara hiburan di semua stasiun televisi didominasi oleh film import yang berasal dari industri film Hollywood, film India, Mandarin, serta program dokumenter dan beragam show. Masih dalam kategori import adalah siaran olahraga yang didominasi oleh pertandingan sepakbola, bola basket, tinju, otomotif dan dalam porsi yang paling kecil yakni golf.
Produk lokal yang cukup dominan ialah sinetron, kuis (umumnya menjiplak program kuis luar negeri – baca: Amerika) dan acara musik. Juga produk lokal namun dalam porsi yang lebih kecil ialah kemasan hiburan berupa film Indonesia, siaran sepakbola dan tinju, dunia mode, kehidupan selebritis serta variety show yang juga habis-habisan menjiplak program sejenis milik siaran televisi di Amerika. Sama halnya dengan kemasan informasi yang dimiliki oleh setiap stasiun televisi di sini, kemasan hiburan yang disajikan setiap stasiun televisi di Indonesia pun mencirikan pola yang seragam.
Kenyataan ini menunjukan bahwa media punya sifat parasit. Apa saja yang sukses dari suatu media, akan segera ditiru dan diikuti oleh media-media lain (Rivers, 2003). Tanpa banyak disadari pemirsa, sinetron, komedi dan acara televisi lainnya sebenarnya “serupa tapi tak sama”. Judul boleh berbeda, aktor boleh berganti, namun format cerita, logika kisah, plot, penokohan dan setting cerita sesungguhnya serupa. Menurut Sudibyo (2004), sulit misalnya untuk menemukan sinetron yang benar-benar menampilkan hal baru dan inovatif, kecuali segelintir drama televisi lokal yang digarap secara serius.
Wardhana (2001) secara menggelitik menggambarkan kondisi ini. Menurutnya, dengan menutupi tiap-tiap logo stasiun televisi yang berada di kiri atau kanan layat televisi, praktis pemirsa tidak akan tahu stasiun televisi mana yang sedang siaran. Dari tayangan hiburan hingga tayangan jurnalistiknya, stasiun-stasiun televisi itu menunjukan wajah yang sama dan sebangun.
Kondisi ini, menurut Sudibyo (2004, tidak lebih baik ketika terjadi perubahan politik pasca pergantian pemerintahan, Mei 1998. Pergeseran dari state regulation menuju market regulation dalam industri media, tidak selalu berkorelasi dengan kebebasan publik untuk mendapat keragaman isi dan kemasan dalam pasar bebas informasi dan hiburan. Pemirsa benar-benar memasuki era dimana produk-produk media televisi lebih ditentukan oleh the invisible hand mekanisme pasar yang bertumpu pada kaidah permintaan-penawaran, logika sirkuit modal, dan rasionalitas maksimalisasi produksi dan konsumsi.

Kualitas yang Memprihatinkan
Ada beberapa hal yang patut dikritisi dari luberan tayangan-tayangan yang “serupa dan sebangun” itu. Menurut Kitley (2001) persaingan yang begitu ketat antar stasiun televisi untuk program yang sama, keterbatasan kemampuan PH dan in-house production masing-masing televisi untuk memenuhi persaingan itu, mengakibatkan begitu banyak program yang secara kualitas memprihatinkan.
Yang tak boleh dilupakan adalah siaran iklan yang sebenarnya menjadi penopang utama terselenggaranya siaran dari setiap stasiun televisi. Termasuk TVRI yang telah diijinkan kembali untuk menayangkan iklan. Maka saluran televisi apa pun yang dipilih oleh para penonton, serta merta mereka akan disergap bukan hanya oleh format acara yang seragam tetapi juga oleh tayangan iklan yang hampir sebagian besar sama persis (Purwantari, 2003).
Lebih jauh Purwantari menjelaskan bahwa, secara keseluruhan, sekitar 60% hingga 65% dari total mata acara dalam siaran televisi merupakan mata acara yang berisi hiburan, termasuk siaran olah raga di dalamnya. Prosentase ini jelas bertambah jika kita memasukkan pula durasi waktu yang disediakan untuk tayangan iklan. Mengingat teknik periklanan yang terus berkembang, yang memungkinkan iklan hadir dalam visualisasi yang menakjubkan alias mampu membungkus aktivitas menjajakan barang dan jasa dengan cara halus namun tetap persuasif dan menghibur.
Michael Parenti dalam bukunya “Make Believe Media The Politics of Entertaintment”, mengatakan bahwa, media hiburan, termasuk televisi, merupakan media yang mampu membentuk keyakinan kita. Dewasa ini, keyakinan yang terbentuk itu hanya sedikit yang berasal dari permainan anak-anak, cerita lisan, kisah-kisah rakyat, dan dongeng-dongeng, lebih sedikit lagi yang berasal dari sandiwara-sandiwara dan mimpi-mimpi dalam tidur kita sendiri.
Sebaliknya saat ini terdapat industri film Hollywood dan siaran televisi bernilai jutaan dolar yang menghasilkan berbagai citra dan tema yang telah siap untuk dijejalkan dan dipasang memenuhi benak pemirsa. Namun hal itu tidak cukup dipandang sebagai sebuah kegiatan selingan yang tak berarti. Tetapi sebagaimana diargumentasikan dalam keseluruhan buku tersebut, berbagai citra yang ditampilkan lewat layar kaca televisi sering kali mengandung kepentingan ideologis (Mulyana, 1997).
Permasalahan tersebut semakin memprihatinkan jika kita sadari betapa rentannya posisi publik selaku konsumen media ketika dihadapkan dengan muatan ideologis yang dibawa media massa. Misalnya dalam iklan, berapa banyak iklan yang mengeksploitasi anak-anak dan melecehkan perempuan? Lebih buruk lagi, muatan ideologis tersebut telah meremehkan kemampuan kritis manusia dalam menghadapi kenyataan hidup manusia dan sistem sosio-politik pemirsa, dengan cara membenamkan ke dalam benak pemirsa berbagai gambaran yang bersifat sebaliknya, yakni gambaran kehidupan yang dangkal dan serba aman. Bahkan jika ada anggapan yang menyatakan bahwa sebuah industri hiburan tidak membawa kepentingan politis serta ideologis dalam tujuannya, produk hiburan tersebut tetaplah bersifat politis dari segi pengaruh yang ditimbulkannya.
Dikalangan praktisi maupun teoritis komunikasi telah terbentuk suatu konsensus bahwa media massa dalam menjalankan fungsinya harus senantiasa berpegang teguh pada prinsip objektifitas. Konsensus tersebut dalam praktek ternyata tidak mudah disepakati. Masalahnya sering kali terbentur pada kesepakatan atas pengertian “objektif” itu. Kita tahu bahwa media massa pada hakikatnya adalah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada dalam masyarakat. Namanya saja rekonstruksi, ia tidak mungkin sama dan sebangun dengan apa yang direkonstruksi itu, yakni realitas.
Dengan hanya terpancang pada materi hiburan yang ditawarkan televisi, pemirsa jelas bisa pusing tujuh keliling. Tetapi dengan mencoba menelisik lebih jauh ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’ hiburan itu dihadirkan, pemirsa akan segera tahu bahwa terdapat motif-motif politik-ideologis tertentu yang ber(ter)sembunyi dibalik teks-teks hiburan tersebut.

Membudayakan Melek Media
Ketidakberdayaan publik ditengah kepungan media tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara-negara maju. Untuk mengatasinya, dibutuhkan lebih dari sekedar reformasi atau regulasi industri media. Dibutuhkan revolusi untuk merubah paradigma dan konstruksi sosial industri media; dari yang semula berpihak pada kapitalis, menjadi berpihak pada publik. Maka untuk mengatasi serbuan media, muncullah gagasan untuk memperkuat publik agar mampu mengatasi sendiri ekses-ekses media. Gagasan ini diwujudkan dalam konsep media literacy atau “melek media”.
Konsep melek media sebagai alternatif memberdayakan publik ditengah kepungan media. Menurut Astuti dalam tulisan “Membangun masyarakat melek media” (Pikiran Rakyat, 30/06/04), konsep media literacy berkehendak untuk mendidik publik agar mampu berinteraksi dan memanfaatkan media secara cerdas dan kritis.
Belajar dari pengalaman negara lain, konsep media literacy ternyata disosialisasikan oleh banyak pihak. Pihak-pihak tersebut tidak saja muncul dari inisiatif perseorangan atau masyarakat. Hebatnya, sejumlah institusi media literacy justru didirikan dan dibina oleh media massa sendiri. Menurut Astuti, dasar kepentingannya ada dua; pertama, menghendaki agar warga negara mampu menyerap dan menggunakan informasi secara cerdas dan kritis. Kedua, media massa tersebut mampu membendung serbuan media “kuning” yang mengutamakan sensasional.
Dalam pandangan penulis, melek media berarti usaha untuk menelaah dan membongkar secara kritis muatan ideologi pada tayangan media. Hal ini atas dasar asumsi bahwa media telah memberikan beberapa pokok produksi teks yang sarat ideologis dan kepentingan pembenaran serta peminggiran sosial masyarakat. Artinya, media telah menciptakan dunia realitas, sistem kebenaran simbolik yang menindas, penuh manipulasi dan sarat dengan kepentingan politis belaka.
Sebagai produk yang lahir dari hasil kombinasi antara teknologi dan modal, media adalah salah satu perangkat ideologis kelompok dominan (ideological state apparatuses), yang bekerja dengan cara sealamiah mungkin. Selain itu, sajian media juga telah menghilangkan nalar kritis penonton dalam melihat realitas atau kenyataan hidupnya.
Meskipun cara berada kenyataan dalam media kita menumpulkan nalar kritis, namun hal itu harus dilihat sebagai sesuatu yang di luar nilai artistik media. Artinya, meskipun terjadi kenyataan yang hiperbola atau tertapi, tetap saja "kenyataan virtual" itu otonom di dalam nalar media.
Artinya, ukuran keberhasilan media tidak bisa dinilai dari seberapa jauh dia merefleksikan kenyataan atau menuntunnya, tapi seberapa jauh kenyataan itu mendukung keseluruhan isi media. Di sini media dilihat sebagai hasil karya yang otonom, dan dinilai berdasarkan unsur-unsur yang membangunnya, bukan dari hal-hal yang berada di luar dirinya, termasuk kenyataan keseharian yang menjadi cermin media tersebut.

* * *

Penulis, Koordinator Komunitas Islam Emansipatoris Bandung.

Selasa, 23 Maret 2010

Ideologi Industri Televisi


Dilihat dari ekonomi politik dan materi siaran yang disajikan, televisi di Indonesia cenderung berideologi kapitalisme. Sebagai indikasi dari ideologi tersebut dapat dilihat dari: Ketegangan nilai dalam kebebasan kepemilikan; Kepemimpinan dikuasai intelektual borjuasi; Strategi pembangunan berakumulasi tinggi yang menjadikan rating sebagai rujukan; Liberalisme sebagai dasar ideologi, organisasi kekuasaannya industrial yang pragmatis-hedonis; Strategi komunikasinya menggunakan arus multi saluran; Organisasi televisi bersifat komersial; Teknik atau metoda adalah perubahan instrumentalis; Dan epistemologi atau pandangan dunianya sains, positivis dan mekanistik.

Mengungkap ideologi kapitalis televisi di Indonesia perspektif ekonomi politik, berarti upaya untuk mengetahui proses transformasi ideologi yang dilakukan televisi kepada pemirsa melalui program acaranya. Hal ini bisa dilihat dari:
Pertama, Ketegangan nilai dan kebebasan kepemilikan. Televisi di Indonesia, terutama pasca Orde Baru, selalu mengusung dan mewacanakan tentang ide kebebasan (freedom) dalam setiap acaranya. Etika atau nilai moral yang ditawarkannya membawa pemirsa pada pada sikap hedonis, konsumeris dan pragmatis, sehingga pemirsa kehilangan nalar kritisnya untuk melihat realitas kenyataan hidup.
Kepemilikan media televisi di Indonesia pun terpusat pada 8 konglomerat; Hary Tanoesoedibyo, Anthoni Salim, Anindya Bakrie, Keluarga Saria Atmaja, Jacob Oetama, Chairul Tanjung, Abdul Latif dan Surya Paloh. Saat ini, stasiun televisi jelas-jelas telah mengelompok menjadi beberapa kelompok, yakni: (1) RCTI, Global TV dan TPI dibawah payung MNC; (2) Indosiar, Trans TV dan Trans 7 dibawah Salim Group; Lativi dan ANTV dibawah konglomerat media global News Corp; (3) SCTV yang terkait dengan kelompok media internasional Singleton; (4) serta Metro TV yang sepenuhnya independen dibawah Surya Paloh. (Tempo Edisi 3-9/7/2006).
Kedua, Kepemimpinan dikuasai intelektual borjuasi. Setelah Majalah Tempo dibredel tahun 70-an, pengelola media banyak beralih dari kaum intelektual kepada kaum profesional terdidik dan terlatih di bidang jurnalistik, yang didukung atau mendukung pemilik modal. Kecenderungan ini membawa implikasi pada geraknya posisi kaum intelektual dalam televisi Indonesia, dari posisi sebagai “orang dalam” berubah menjadi “orang luar” institusi.
Pola hubungan yang baru ini tentu saja mengurangi kedekatan dan keakraban televisi dengan kaum intelektual yang pada gilirannya mempengaruhi kualitas idealisme televisi. Kalau pada mulanya televisi “bersatu tubuh” dengan kaum intelektual, maka idealisme televisi menjadi sangat kental. Tetapi, sekarang karena posisi televisi secara institusional terpisah dari kaum intelektual, maka idealisme televisi cenderung luntur.
Ketiga, Strategi pembangunan berakumulasi tinggi yang menjadikan rating sebagai rujukan. Hal ini disebabkan rating telah menjadi ideologi televisi Indonesia. Karena tuntutan rating, para pengelola stasiun televisi tak sempat lagi memikirkan program siaran yang bersifat idealistis. Semakin tinggi rating sebuah acara akan semakin besar pula daya serap iklannya. Jika sebuah program di sebuah stasiun televisi booming, stasiun televisi lain akan meniru program itu dan menampilkannya dengan sedikit rekayasa agar terkesan berbeda. Tiru-meniru menjadi lumrah, duplikasi progam bukan hal aneh.
Salah satu contohnya adalah tayangan sinetron. Di awal tahun 2005, sinetron religi yang ditayangkan salah satu stasiun televisi ternyata banyak peminatnya. Stasiun televisi lain beramai-ramai menayangkan sinetron sejenis. Televisi pun penuh sesak dengan tayangan sinetron religi seperti Takdir Ilahi, Suratan Takdir, Rahasia Ilahi, Hidayah, dan Astagfirullah yang berdasarkan penelitian AGB Nielsen Media Research akhir Juli 2005, merupakan lima dari sepuluh sinetron yang paling digemari.
Keempat, Liberalisme sebagai dasar ideologi, dan organisasi kekuasaannya industrial yang pragmatis-hedonis. Sebagai sebuah produk budaya global, industri televisi yang menganut paham ekonomi liberal akan selalu tunduk pada mekanisme pasar. Perubahan kepemimpinan media dari kaum intelektual kepada profesional yang mendukung pemilik modal membuat televisi Indonesia menjadi semakin industrial dan pragmatis, di mana posisi kapital menjadi sangat penting dan menggeser dominasi posisi jurnalis yang dulu dominan, ketika dikelola sejumlah intelektual.
Kelima, Strategi komunikasinya menggunakan arus multi saluran. Untuk melanggengkan ideologi kapitalis, saluran yang digunakan televisi adalah arus multi saluran. Hampir semua sektor informasi dikuasai. Televisi “menggandeng” media massa lain (radio, surat kabar, internet) untuk bekerja sama.
Keenam, Organisasi televisi bersifat komersial. Dalam arti, keputusan redaksional, misalnya dimuat tidaknya suatu berita atau hiburan, sangat dipengaruhi oleh pertimbangan eksistensi modal dan perkembangan oplah. Sementara pertimbangan ideal, seperti dipilihnya kepentingan rakyat kecil sebagai angle pemberitaan atau hiburan, dikritik dan dikontrolnya berbagai tindakan penguasa, atau keputusan politik yang bersifat distorsif dari kepentingan dan aspirasi rakyat, lebih sering ditinggalkan.
Ketujuh, Teknik atau metodanya adalah perubahan instrumentalis. Perspektif instrumentalis memberikan penekanan pada determinisme ekonomi, di mana segala sesuatu pada akhirnya akan dikaitkan secara langsung dengan kekuatan ekonomi. Perspektif ini melihat media sebagai instrumen dari kelas yang mendominasi. Dalam hal ini kapitalis dilihat sebagai pihak yang menggunakan kekuatan ekonominya dalam sistem pasar komersial untuk memastikan bahwa arus informasi televisi sesuai dengan kepentingannya.
Media dalam hubungannya dengan kekuasaan, menempati posisi strategis, terutama karena kemampuannya sebagai saran legitimasi. Televisi sebagimana lembaga pendidikan, agama, seni, dan kebudayaan, merupakan bagian dari alat kekuasaan negara yang bekerja secara ideologis guna membangun kepatuhan khalayak terhadap kelompok yang berkuasa (ideological states apparatus).
Studi kritis juga menempatkan media sebagai salah satu aktor budaya dalam melakukan imperialisme budaya. Aktor budaya dalam konteks ini adalah konteks ideologi dominan maka televisi menjadi ideological states apparatus.
Pada dasarnya televisi bukan realitas yang bebas nilai. Pada titik kesadaran manusia, televisi selalu memuat kepentingan. Televisi pada prinsipnya telah diambil sebagai realitas yang memihak. Tentu saja televisi dimanfaatkan untuk memenangkan pertarungan kepentingan ideologi tertentu kelas tertentu. Pada titik tertentu, televisi pada dirinya sudah bersifat ideologis.
Kedelapan, Epistemologi atau pandangan dunianya sains, positivis dan mekanistik. Pada prinsipnya, paradigma televisi di Indonesia sebagai kerangka berpijak bagi operasionalisasi perusahaan televisi menganut paradigma struktural-fungsional, yang bertolak dari fungsi televisi pada sistem sosial.
Pada dasarnya, positivisme adalah jawaban alternatif dan tegas atas kegagalan filsafat spekulatif yang diradikalkan oleh filsafat Idealisme Jerman Immanuel Kant dan Filsafat Sejarah Hegel. Reaksi epistemologi ini lahir dari penolakan klaim kebenaran yang bersifat spekulatif dan jauh dari maksud sebenarnya dari pencarian kebenaran.
Ilmu komunikasi dalam sejarah awal pembentukan juga tidak jauh dari kecenderungan positivisme ilmiah. Paradigma utama dalam ilmu komunikasi pun tidak jauh dari masalah metodologis yang bersifat empirik positif. Pendekatan mekanistik ala Shannon-Weaver melihat bahwa komunikasi merupakan pecahan mekanik manusia yang pada dasarnya meniru perilaku mesin transmitter dan receiver. Kecenderungan bahwa komunikasi merupakan proses linear mekanistik merupakan derivasi pemahaman ilmu alam dalam gugus perilaku manusiawi.
Beberapa model pokok dalam ilmu komunikasi tidak jauh dari masalah distansi penuh antara peneliti dan yang diteliti, objektivistis-mekanistik, deduktif-nomonologis dan penelitian eksternal faktual dari setiap gejala yang masuk dalam perilaku komunikatif. Kecenderungan positivistik dalam ilmu komunikasi akhirnya membentuk bentuk ilmu sosial yang bersifat otoriter dan cenderung minus, kecuali dalam memuaskan aturan dan sistem logika ketat yang menuntut pengujian korelasional dan dapat diuji secara praktis.
Kecenderungan dominan positivisme dalam televisi memberikan hasil model-model meta naratif pada pengalaman sosial manusia. Meta narasi komunikasi yang bersifat universal mempunyai tantangan bahwa pola komunikasi sebenarnya sangat terikat dengan ruang dan waktu manusiawi. Padahal sifat keterikatan dengan ruang dan waktu ini bisa sangat bersifat tentatif dan relatif, mengingat sifat manusia yang bisa sangat kontekstual. Relasi komunikatif adalah kontekstual dalam arti bahwa relasi komunikatif tidak bisa begitu saja direduksi dalam pola kuantitatif yang bisa sangat rigid dengan keadaan yang sebenarnya. Pun dengan televisi!
Demikian tulisan singkat ini, semoga menjadi setitik sumbangan bagi perbendaharaan ilmu pengetahuan. Akhirul kalam, dunia telah berganti rupa, untuk peradaban kita! Demikianlah keyakinan penulis!
* * *
Penulis adalah pemerhati media, Koordinator Komunitas Islam Emansipatoris, Ketua I DPC PKB Kota Cimahi.