Tampilkan postingan dengan label MELODI RASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MELODI RASA. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Mei 2010
Pintu Malam
Lagu ini diciptakan oleh Titiek Puspa, sebagai lagu untuk menina-bobokan anaknya, Petty Tunjung Sari. Dalam perkembangan, lagu ini menjadi lagu yang sangat romantis untuk semua insan yang sedang bercinta.
Iwan Fals punya pengalaman pribadi yang mendalam terhadap lagu ini, dimana beliau telah kehilangan seorang anak laki-lakinya, Galang Rambu Anarki. Kiranya lagu ini beliau dedikasikan untuk anaknya yang telah pergi lebih hulu. Bagiku, bila tiap malam menjelang tidur tak mendengerkan lagu ini, rasanya seperti ada yang hilang. Nggak syah. Nggak romantis banget…
engkau yang menatap ku di ketinggian waktu.
sejenak berhenti hanya untuk memeluk.
bergetarlah rimba raya, diiringi ribuan embun.
di sinilah aku berada, telah menanti mu
ketika senja terurai di waktu yang tak menentu.
senja merah di balut pelangi hitam.
aku berjalan menapaki rumput yang bisu.
tiada yang tahu kenapa malam selalu mencekam.
sisakanlah setetes air.
buat bekal mengarungi sunyi.
kemudian berlalu begitu saja
hanya satu helaan nafas, bergantilah kisahnya.
duka, bahagia, kiasan belaka.
mungkin saja kita perlu sedikit tertawa.
untuk memandang bintang yang suram,.
dan bukalah pintu dimalam hari.
sebab waktu semakin menjerit
untuk bertutur kata.
maka kelak kita bisa bangun di saat fajar ti
rengkuhlah pada wasiat alam.mur.
memudarkan mimpi-mimpi kelam.
Jumat, 28 Mei 2010
Jumat, 21 Mei 2010
Lagu [stempel] Komunis
Enak juga ini musik hehehe... Sebagai gambaran sederhana atas realita kehidupan manusia. Ini lagu berasal dari daerah Banyuwangi, sama halnya dengan “Bubuy Bulan” dari daerah Sunda, atau “Gundul-Gundul Pacul” dari Jawa Tengah. Lagunya bagus dan musiknya sederhana, tapi kanapa dilarang? Apa karena [dianggap] bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI)? Yayaya.....
Emang kalau ini ada unsur PKI-nya kenapa? Memang salahnya PKI apa? Apakah karena telah melakukan “pemberontakan” Gestok? Bukankah PKI hanya “korban dramatisasi politik” semata? Bukannya aksi “genocida” yang dilakukan kepada (orang yang diduga) PKI telah menumpahkan jutaan darah, mereka dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke Pulau Buru selama bertahun-tahun. Sementara keluarganya dibiarkan telantar dan didiskriminasi bertahun-tahun.
Sejarah bangsa Indonesia masih diselimuti kegelapan, terlebih dengan sejarah yang berkaitan dengan G30S/PKI tahun 1965. Apa sebenarnya yang terjadi saat itu masih kelam. Sementara “tokoh kunci” yang kita harapkan mampu mengungkap kasus tersebut sudah berpulang ke pangkuan Tuhan (Soeharto). Biarkan dia pulang dengan tenang, tapi kita selaku pewaris peradabannya, jangan bertingkah yang sama; memberangus sebuah karya sastra dan menutup akan fakta sejarah.
Terserah ada yang mau bilang lagu ini lagu PKI, tapi menurut hemat saya, lagu ini adalah Seni! Lagu yang asyik, lagu yang sederhana, bercerita tentang penderitaan orang desa yang bertahan hidup dari jurang kemiskinan! Polosnya mereka jauh dari rasa apatis, politis, ambisius dan rasa arogan.
Lagu “Genjer-Genjer” sebenernya tidak ada unsur PKI-nya. Soalnya lagu ini dibuat pada tahun 1942, untuk menceritakan penderitaan rakyat dibawah penjajahan Jepang, yang untuk bertahan hidup saja, rakyat sampai harus makan genjer yang waktu itu dianggap sebagai gulma (tanaman pengganggu). Tapi sayang, karena lagu ini [dianggap] dekat dengan kaum komunis, jadi ikut dianggap sebagai unsur PKI.
Lagu “Genjer-Genjer” digubah oleh M. Arief, pada masa pendudukan Jepang ketika masyarakat Banyuwangi mengalami krisis pangan hebat. Sebelum zaman Jepang masyarakat Banyuwangi mengenal genjer hanya sebagai pakan bebek. Nah, karena krisis pangan, genjer menjadi pangan alternatif. M. Arief mengenal sayur genjer dari istrinya yang bukan orang Banyuwangi. Jadi, tafsir Genjer-genjer yang berdarah-darah itu hanya rekayasa Orde Baru. Lagu-lagu M. Arief banyak yang merupakan kritik sosial seperti: “Sekolah atau Lurkung”
Inilah arti sebenarnya dari lagu Genjer-Genjer tersebut:
Genjer-genjer tumbuh liar di selokan/
Ibu datang mencabut genjer/
Dapat sekarung lebih tanpa ragu/
Genjer sekarang bisa dibawa pulang//
Genjer pagi-pagi dibawa ke pasar/
Dijajar dan dibeberkan di lantai/
Si Ibu beli genjer ditaruh di tas/
Genjer-genjer sekarang akan diolah//
Genjer-genjer dimasukkan ke panci air panas/
Setengah matang ditiriskan untuk lauk/
Nasi sepiring sambal di tempat tidur/
Genjer-genjer dimakan dengan nasi//
Manipol Usdek, Awal Negara Kita!
Manipol Usdek Awal Negara Kita
Karya Paduka yang agung serta mulia
Bait di atas merupakan penggalan lagu Oentoek Padoeka Jang Moelia Presiden Soekarno yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani. Lagu ini menjaga salah satu lagu yang paling sering di putar di era enam puluhan bersama Genjer-Genjer—juga dibawakan Lilis Suryani—sebelum Soekarno dan PKI dibredel oleh Soeharto.
Soekarno sampai pertengahan 60-an memang sosok sentral di republik Indonesia. Untuk menghormati Soekarno, maka diciptakanlah lagu ini.
"Darah Ra'jat"
Lagu perjuangan "Darah Ra'jat" sangat terkenal pada masa revolusi pembebasan nasional, dan selalu dinyanyikan para pejuang dalam medan pertempuran. Pernah dibagi-dibagikan dalam bentuk selebaran kepada ratusan ribu massa rakyat di lapangan Ikada (baca, lapangan Monas, sekarang) dan dinyanyikan bersama-sama. Pengarangnya konon bernama Legiono alias Ismail Bakrie, seorang pemudah buruh kereta api.
Tak Ingin Sendiri - Broery Marantika
[cinta] terlarang
Inikah cinta?
Yang melenyapkan segala batasan…
Lahir dari hati yang sama.
Cintaku terlarang…
Cintaku yang terindah…
Meski pada akhirnya…
Aku harus kembali…
Pada cinta yang sesungguhnya!
Setahuku, dasar dari cinta adalah kasih. Ventilasi bercelah yang disebut nurani. Esa sebuah rasa yang berkelindan tak henti. Dan yang selalu berasa disetiap malam. Itulah cinta…
Lewat catatan ini, kulantunkan nyanyian hati tanpa melodi. Untukmu, wanita dari semua kaum Hawa yang ku puja. Atas nama cinta, dari kecintaan yang tak lagi teraba...
Kau tahu, waktu pun kini angkat bicara. Akan gandrungku yang memuja raga. Akan rinduku pada sebuah pesona. Akan hanyutku yang disengaja memabukan jiwa. Dan terangsanglah daya pikirku untuk mengungkap rahasia hati. Yang terperas di kegelapan hampa, yang membumbung dikesunyian malam…
Kutebarkan aroma wangi yang memabukan jiwa, meski tanpa aneka bunga. Satu tahun aku menunggu, dua tahun aku menanti. Tiga bahkan telah menjadi empat dan lima. Tak berasa, kini dua belas tahun sudah terlewat.
Aku hanya ingin membuka sebuah tirai. Sebentuk kabut yang menutupi pandangan tiap insan. Tentang cinta dan keabadian rasa. Tentang bening kasih yang teralpa. Tentang raga yang mencintai jiwa yang sama...
Bukankah Tuhan telah menciptakan kita dari sesuatu yang sama? Dari buah cinta dan kenikmatan yang serupa? Dari degup jantung yang seirama? Dari perhiasan birahi yang indah? Lalu mengapa persamaan itu dianggap tak ada, saat perbedaan ada pada kita? Kenapa mesti berbuah kata “Terlarang”? Hmmm....
Bandung, 19 Mei 2010 Pukul 01.19 WIB
Jangan Ada Dusta Antara Kita - Broery/Dewi Yull
titip rindu buat ayah... ebiet g ade
Ayah... Ketika berjauhan... Masih ku rasa... Hangat kasihmu ayah... Betapa kurindukan ... Redup wajahmu ... Hadir menemani... Ayah, aku ingin pulang untuk menemanimu dipenghujung waktu...
Langganan:
Postingan (Atom)





