<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • "....ada kisah yang belum usai...."

    Akhirnya langkah ini tiba pada sebuah sketsa. Dalam kecamuk, amuk dan peluk. Ada yang terkunci saat ingin membuka segala. Meski cuma lewat kata. Satu hal yang kuyakin; adalah jengahku pasti hadir dalam lembaran ini. Hanya, bacalah! Simaklah! Lalu silahkan saja sinismu terngiang dan kan ada rutuk yang melenggang. Atau paling tidak, pandanglah! Dan jauhkan ia pelan, kelak tak ada perihal yang membayang. Hingga entah kapan kan terhiba kata yang dikurung naifnya keangkuhan...

  • Kuwariskan semua ini hanya untukmu...

    Mahakarya inilah salah satu warisan yang akan kuberikan. Maka kutulis sabda ini untukmu, Anakku. Meski Ayah sendiri sebenarnya tak mengerti di mana bermula maksud ini. Tapi ayah tidak memiliki kemampuan menuliskan isyarat hati. Ayah juga berharap dirimu damai adanya. Sebab doaku telah kurangkumkan pada mega. Ia kan menaungimu dari durja dunia. Dan bagi ayah, beritamu adalah segalanya. Apa yang ayah jalani tidak lagi berarti bila kamu, anakku, tak lagi mengilhami! Kamu adalah anakku, dan anak dari ingatan yang kuwariskan padamu...

  • Merayakan Keberagaman Keberagamaan...

    Setidaknya ada tiga hal yang ingin disampaikan tafsir emansipatoris; Islam Emansipatoris ingin memberikan perspektif baru terhadap teks, Menempatkan manusia sebagai subyek penafsiran keagamaan, Memiliki konsern kepada persoalan kemanusiaan ketimbang pada persoalan teologis. Islam Emansipatoris ingin mengalihkan perhatian agama dari persoalan langit (teosentrisme) menuju persoalan riil yang dihadapi manusia (antroposentrisme). Penekanannya pada aspek praksis, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai ritualisme melainkan pembebasan masyarakat dari segala penindasan!

Twitter
Tampilkan postingan dengan label GELORA AKTIVIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GELORA AKTIVIS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2011


Idealisme. Apakah itu gerangan? Kata nya abstrak. Tidak bisa dilihat, hanya dapat dinikmati. Sulit untuk ditebak, apalagi jika ingin ditempel dalam spanduk. Bagaimana sih rasa nya idealisme itu? Apa serasa kita makan nasi goreng pete, atau kah serasa kita makan bebek panggang? Apa sepedas kita menikmati dabu-dabu atau sepahit kita mengunyah empedu?

Benarkah yang nama nya idealisme tidak akan pernah hilang dalam kehidupan manusia? Benarkah idealisme itu hanya akan mengalami pemudaran dalam sebuah kehidupan? Dan menarik juga untuk diungkap benarkah yang nama nya idealisme akan sangat tergantung pada tingkatan usia seseorang?

Seorang sahabat pernah berceloteh bahwa dalam konteks kekinian, idealisme itu tak ubahnya dengan sebuah komoditas alias barang dagangan. Idealisme gampang dijual-belikan. Idealisme sangat memungkinkan untuk digadaikan. Bahkan ada juga yang mengolahnya menjadi sebuah alat untuk tawar menawar kepentingan.

Suasana ini sangat berbeda, ketika bangsa kita sedang dalam "dunia penjajahan". Bila saat itu ditanyakan apa sebetul nya yang menjadi idealisme bangsa, maka jawabannya tegas yakni memerdekakan bangsa. Atau membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan.

Lalu bagaimana sebaik nya kita memberi jawaban sekiranya ada yang bertanya apa sebetulnya idealisme bangsa di alam kemerdekaan sekarang? Jawabannya tegas adalah "pembangunan". Yang namanya pembangunan, tentu sudah sama-sama kita kenali. Sebagai proses perubahan menuju ke sebuah kehidupan, baik lahir mau pun batin ke arah yang lebih baik, maju, tangguh, dinamis, mandiri dan sejahtera, pembangunan wajib hukum nya untuk kita ikuti bersama.

Lewat pembangunan inilah kita ditantang agar mampu menyembuhkan borok-borok kehidupan. Bersama pembangunan inilah kita harus mampu menghapus kemiskinan, memerangi pengangguran, membebaskan bangsa dari kebodohan, dan tentu saja harus mampu mewujudkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Sudah 65 tahun bangsa kita merasakan alam kemerdekaan nya. Selama kurun waktu itu, tentu sudah banyak proses yang kita lalui. Ada yang membahagiakan, namun tidak sedikit yang memilukan. Ada yang cukup membuat bangsa ini terkagum-kagum, tapi banyak juga yang membuat kening kita bekerut. Ada yang membuat kita pantas untuk tampil tegar selaku bangsa, tapi kadangkala kita harus merengek-rengek untuk mendapatkan bantuan luar negeri. Bahkan tidak sedikit ada juga yang membuat kita nelangsa, dikarenakan masih terekam nya warga bangsa yang terpaksa harus makan "nasi aking" mengingat diri nya termasuk anak bangsa yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Idealisme sering dipersepsikan sebagai sebuah "daya dorong" atau kekuatan yang muncul dari nurani yang terdalam. Sifat nya tentu alamiah dan inheren dalam diri seseorang. Idealisme tidak akan pernah hilang dari jiwa seseorang. Idealisme akan selalu mendampingi diri seseorang seirama dengan perjalanan waktu.

Oleh karena itu, sangatlah keliru jika ada orang yang berpandangan bahwa idealisme itu akan hilang, ketika seseorang sudah menempati suatu posisi jabatan. Hilang sih tidak, tapi kalau luntur ya bisa-bisa saja. Namun begitu, penting juga untuk dicatat.

Sebagai sebuah "nilai", idealisme mesti nya akan tetap tumbuh di dalam setiap diri manusia. Tidak ada satu pun kekuatan yang bisa mematikan idealisme seseorang. Itulah sebab nya, kita sering terbengong-bengong jika ada yang menanyakan: mana idealisme nya? Atau ketika ada hujatan terhadap mantan aktivis yang kini menjadi pejabat publik. "Kok beda nya dia sekarang. Kalau dulu kentara benar idealisme nya. Tapi sekarang kok lebih realistik tuh pandangan-pandangan nya". Bahkan kita pun tidak perlu bingung jika ada yang berpendapat: "kasihan tuh teman kita. Dia seperti kehilangan idealisme nya setelah dilantik jadi anggota DPR. Padahal ketika mahasiswa nya, dia itu dikenal sebagai anti kemapanan".

Andai idealisme "identik" dengan sebuah keyakinan, tentu tidak boleh hilang atau tergadaikan dalam kehidupan seseorang. Kalau pun idealisme dimaknai sebagai sebuah cita-cita, tentu menjadi sangat memalukan bila kita sampai menggadaikan nya. Idealisme tetap idealisme. Nilai nya akan tetap tertanam dalam jiwa dan nurani seseorang. Nilai nya tidak akan pernah bergeser.

Oleh karena itu, mari kita perkokoh keyakinan, asah kemampuan dan perkuat jati diri. Insya Allah kita akan tetap tegak berdiri, tegar dalam berperilaku dan tidak akan dinilai sebagai anak bangsa yang hipokrit.

Merdeka....!!

Selasa, 08 Maret 2011

KAMPUS BUKAN KERAJAAN

Kampus bukanlah kerajaan
dan rektor bukanlah raja
dan mahasiswa bukanlah kawula
dan kampus bukanlah milik sang rektor
seperti raja yang memiliki kerajaan seisinya
bisa buat bertaruh ambisi angkara-murka

Jika kampus seperti kerajaan
rektor boleh bicara sendiri
dari pagi sampai sore hari
rektor boleh bikin tetek-bengek aturan
untuk dilanggarnya sendiri
rektor boleh nganggkut buku perpustakaan
untuk dipajang di rumah
juka ada tamu setidaknya ia boleh berbangga
agar dikira intelektual sejati
rektor bisa bikin keputusan 10%
untuk tiap tender dan proyek kampus

Kampus bukanlah kerajaan
dan rektor bukanlah raja
dan mahasiswa bukanlah kawula
Jika kampus kerajaan
birokrat kampus boleh semau-gue
birokrat kampus menghimpun kroni-kroni
dan rektor adalah sang raja
yang memusatkan seluruh kekuasaan
di bawah duli tangannya

Jika kampus kerajaan
maka tak ada diskusi
tidak ada daya kritis,
tidak ada kreativitas
dan suara-suara kebenaran dituding provokasi

Jika kampus kerajaan
maka bila sang rektor udzur
para putra mahkota kian kasak-kusuk
penuh intrik, mencari posisi

Jika kampus kerajaan
maka akan penuh kemenyan dan dupa

Kampus bukanlah kerajaan
dan rektor bukanlah raja
dan mahasiswa bukanlah kawula
kampus bukanlah kerajaan

Kampus adalah rumah kami
Kampus adalah kawah candradimuka kami
Kampus adalah sumbang rasa kami
Kampus adalah pikiran jernih kami
Kampus adalah suara hati nurani
Kampus adalah air kaldera
yang mengobati dahaga rakyat

Jika kampus adalah kerajaan
Masa depan anak bangsa menjadi mampat!

----

Sajak Abdul Wachid B.S.
Diambil dari majalah OBSESI majalah mahasiswa purwokerto

Jumat, 18 Februari 2011

PEWARISAN NILAI KADER


Suatu waktu saya diundang oleh warga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk menjadi fasilitator dalam diskusi rutin di sekretariat. Seorang kader dengan penuh nafsu bertanya dan menyatakan frustasinya kepada saya, "Apa yang harus kami perbuat selaku generasi muda, kader rayon, kalau kepada kami hanya diwariskan pengetahuan kuno, kemalasan akademik, kemandegan kaderisasi dan jebakan konflik?"

Terkesima saya mendengar gedoran ini. Soalnya lontaran ini saya hadapi setelah saya mengemukakan pandangan untuk 'menggembleng' dan memandirikan salah satu komunitas pergerakan agar menjadi barometer percontohan bagi kader lain.

Dalam konteks peristiwa itu, timbul rasa bersalah dalam diri saya. Tanpa saya ketahui, rupanya hasrat saya langsung dihubungkan dengan situasi yang didapati kader tersebut dalam pola kehidupan sehari-hari. Dalam penglihatannya, segala yang diberikan dan diwariskan 'senior' kepadanya tidak cukup, tidak sepadan dengan harapannya. Saya merasa, bahwa tanpa dikehendaki, saya telah membakar rasa tidak puas kader pada para pendahulunya.

Lalu apa yang dapat dilakukan oleh kader kalau terhadap masalah-masalah tadi belum diketahui cara penyelesainnya? Bukankah mereka itu kader pewaris bangsa, kelompok yang terlatih, yang mampu melanjutkan estafeta eksistensi bangsa dengan jalan melatih orang-orang lain lewat rekruitmen kader baru?

Saya kira, tugas kita selaku 'senior' ialah memperkenalkan masalah-masalah tersebut kepada kader, melatih mereka agar mengenali anatomi setiap persoalan sebaik mungkin, dan membawa mereka ke dalam proses pemikiran untuk mencari jawabannya. Mereka harus merasa terlibat dan turut bertanggung jawab akan terselesaikannya masalah yang dihadapi. Para kader harus dapat turut merasakan kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan yang juga dirasakan oleh senior-seniornya terdahulu.

Kalau sikap ini sudah terbentuk, maka mereka telah siap untuk mengajak orang lain mengikuti masa penerimaan anggota baru, siap terjun langsung ke masyarakat, tangguh untuk menangkal setiap ancaman dan memecahkan setiap hambatan. Hal ini mesti dilakukan dengan memberikan pengetahuan problematik yang substansif, kemampuan analisis yang tajam, dan kemampuan persuasi yang meyakinkan. Bukan dengan indoktrinasi, debat formalistik atau orasi semata.

Sayangnya, salah satu kelemahan kita, baik di dunia pergerakan maupun dalam kehidupan ilmiah, ialah tipisnya keinginan kita untuk melahirkan pengetahuan baru. Pada umumnya kita terlalu puas dengan pengetahuan yang sudah ada, warisan para leluhur. Kita menderita penyakit kemalasan akademik, kemalasan membaca dan keengganan melakukan analisa.

Makanya penyusunan kurikulum kaderisasi yang tepat, tentu akan menghasilkan kader yang betul-betul mampu mengajarkan hal yang relevan kepada masyarakat. Sebaliknya, program kaderisasi yang hanya terdiri dari kegiatan menghafal doktrin, belajar berdebat dan berorasi, bersikap anarkis dengan mengutamakan otot daripada otak, malah akan mengancam eksistensi dan menghambat perkembangan bangsa.

Hal semacam itulah yang saya jabarkan pada kader junior-ku itu. Tiba-tiba mukanya nampak berubah secara berangsur-angsur. Kemarahannya mereda, frustasinya mulai surut, dan rasa optimis mulai berkobar. Rupanya selama saya 'berkhutbah', telah terjadi perjumpaan batin antara dirinya dengan diri saya. Kami telah bertemu sebagai sesama warga pergerakan, yang sama-sama merasakan derap langkah yang sama.

Sekonyong-konyong rasa asing dan 'ewuh-pakewuh' antara kami berdua lenyap! Rasa keakraban mulai terasa, meski kami belum lama kenal karena terhalang oleh angkatan yang lumayan timpang. Intuisi saya mengatakan, bahwa saya telah terlibat dalam prosesi pewarisan nilai.

Hmmm… Rupanya proses pewarisan nilai memerlukan "rasa keterbukaan dan keikhlasan, keakraban dan perjumpaan yang bersifat personal!"


----
Nana Suryana
Cibiru, 04 November 2010.

+ Tulisan ini didedikasikan untuk sahabat-sahabat PMII. Semoga bisa menjadi jawaban atas segala masalah kaderisasi dalam organisasi kita...

Selasa, 23 Maret 2010

95 Hari Membongkar Hegemoni Kampus


Datanglah kepada rakyat! Hidup bersama rakyat! Belajar dari rakyat! Berencana bersama rakyat! Bekerja bersama rakyat! Mulailah dengan apa yang dimiliki rakyat! Ajarlah dengan contoh! Belajarlah dengan bekerja! Bulan pameran, melainkan suatu system! Bukan pendekatan cerai berai, melainkan mengubah! Bukan pertolongan, melainkan PEMBEBASAN!
(JAMES Y.C. YEN)

01 APRIL 2005; SEBUAH PROLOG!
Sidang Majelis Yang Terhormat…!!!
Tampaknya kabut tebal masih menyelimuti kawasan “Kampus Gersang”, pada semua level tingkatannya. Kilatan halilintar ikut mengiringi gelap dan suramnya suasana, seakan ingin mewarnai kekisruhan yang sedang terjadi. Tak lama berselang, hujan deraspun mengguyur kawasan IAIN SGD Bandung yang senantiasa jauh dari kesan sejuk dan bersih ini. Harapan untuk melihat secercah mentari, kini digantungkan dalam angan, sambil hati terus merancau, “Akankah mentari kembali terbit di kampus ini?”
Banyak sekali pertanyaan bernada harapan yang timbul dari sanubari ‘aktivis’ mahasiswa yang menjadikan IAIN SGD Bandung sebagai rumah tercintanya. Kekisruhan dihati bukanlah tanpa sebab. Realitas yang tampak bukanlah pembohong yang baik. Banyak sekali permasalahan yang muncul dan hinggap dalam benak setiap mahasiswa. Salah satunya adalah kontradiksi atas kemunculan Pjs Eksekutif Mahasiswa KBM IAIN SGD Bandung yang kian melebar, sebagai reaksi atas di”turunpaksa”kan Kabinet Intelectual Prophetic.
Segala daya dan upaya untuk segera melansirkan rekonsiliasi demi kembalinya KBM IAIN SGD Bandung pada ‘khittah’ sejatinya terus dilakukan. Mulai dari konsolidasi antar lembaga internal kampus, informal meeting antar “organ”, maupun penentuan sikap tegas terhadap “kader” yang duduk dalam struktural KBMI. Tidak sedikit yang menolak dan mempertanyakan kehadiran Pjs Eksekutif KBM IAIN SGD Bandung. Tapi, usaha dan tujuan untuk menghadang laju kehadiran Pjs dan menata alur konflik vertikal ini, pada akhirnya harus berakhir dengan tragis; GAGAL!!?
Suara-suara sumbang pro-kontra dalam kemelut kehadiran Pjs ini akhirnya memunculkan banyak pertanyaan. Bukan saja dari kalangan mahasiswa saja, tetapi dari birokrasi IAIN pun tutut “merecoki” kekisruhan tersebut. Ada apa dengan KBM IAIN SGD Bandung? Apakah IAIN SGD Bandung sudah melanggar ‘khittah’ perjuangannya?

REFLEKSI 95 HARI DI STRUKTURAL KAMPUS
Sidang Majelis Yang Terhormat…!!!
Pasca terpilih dan dilantiknya saya bersama 5 (lima) sahabat lainnya sebagai Pjs Eksekutif KBM IAIN SGD Bandung oleh Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), berbagai agenda kerja kami rancang sebagai panduan praxis selama kami menjalankan roda pemerintahan. Saya bersama Tuesty Septianty, melangsir beberapa agenda terkait dengan bidang garapan kami selaku Pjs Eksekutif Bidang Internal.
Adapun agenda kerja tersebut meliputi, (1) Sosialisasi dan konsolidasi antara Pjs kepada lembaga kemahasiswaan (HMJ & UKM) dan birokrat kampus demi sebuah "eksistensi", (2) Pembenahan sekretariat BEM sebagai Sentral Kegiatan kemahasiswaan KBM IAIN SGD Bandung, (3) Penyikapan terhadap proses Transformasi IAIN menjadi UIN, (4) Menghadiri setiap undangan yang datang ke Pjs Eksekutif sesuai dengan pembagian wilayah kerja, dan (5) Menyelenggarakan Pemilu Raya Mahasiswa secara Luber dan Jurdil, demi terciptanya pemerintahan mahasiswa yang bersih (good student governance).
Sidang Majelis Yang Terhormat…!!!
Inilah kaidah dasar untuk mendapatkan keberhasilan. Goreskanlah didalam pikiran dan ingatlah!!? “Sukses bergantung pada dukungan orang lain, berfikir benar tentang orang lain dan mereka akan suka dan mendukung kita!”. Rajutan kebersamaan adalah hal yang harus diutamakan. Ketika menyadari perbedaan yang ditemukan terkadang kekecewaan besar menggores hati, tapi berkali-kali seorang guru menganjurkan “Sekarang cari kesamaan! Jangan banyak berkomentar tapi banyaklah belajar untuk kebersamaan!”. Ketika kita mencoba memaklumi kepahitan, mungkin hal itu bisa lebih baik menganggap belum tentu orang berbuat salah, mempunyai niat berbuat salah, banyak maklum banyak tenang, Achh… cari saja 1001 alasan untuk memaklumi!
Pun dengan apa yang menimpa diri kami, selaku pengemban atau mandataris mahasiswa untuk melakukan roda pemerintahan di lingkungan KBM IAIN SGD Bandung. Keterbatasan tenaga, pikiran dan personalia bukanlah halangan untuk memberikan yang tertbaik bagi kampus ini. Harapan dan cita-cita untuk membawa kampus ini menuju kampus yang lebih baik dalam format perubahan sistemik yang sesuai dengan idealisme yang diusung, pada akhirnya membuahkan hasil juga, kendati tidak maksimal.
Agenda kami jalankan dalam sebuah gerakan praxis untuk mernghasilkan hasta karya nyata. Pembenahan gedung SEGI dilakukan dengan pembersihan ruangan, membeli karpet dan mendatangi pihak terkait (UKM Mahapeka dan BEM Intelectual Prophetic) yang diduga telah "menggelapkan" barang dan arsip milik BEM. Undangan untuk melantik atau hanya sekedar memberikan sambutan pada acara yang diselenggarakan oleh HMJ dan UKM kami lakukan, antara lain: Pelantikan HMJ Humas (14/04/05), Pelantikan HMJ SPI (14/04/05), Kongres HIMA MD (21/04/05), Musyag UKM UPTQ (23/04/05), Pelantikan UKM LSLK (06/05/05), Musyag UKM Teater Awal (25/06/05) dan lainnya.
Transformasi IAIN menjadi UIN yang penuh kemelut, tidak lepas dari sorotan kami. Setelah melakukan diskusi bareng dengan POKJA DPM (20/04/05), pada akhirnya tanggal 25 April 2005 menjadi saksi sejarah bagi segenap civitas academika IAIN SGD Bandung, Pjs Eksekutif bersama DPM menolak dengan tegas proses konversi IAIN menjadi UIN dalam acara "Seminar & Mimbar Bebas Mahasiswa", karena (dalam pandangan kami) sangat sarat dengan muatan politis, daripada untuk melakukan pemberdayaan dan perbaikan kualitas kampus.
Sementara strategi merealisasikan Pemilu Raya Mahasiswa demi mengantarkan pada kepemimpinan Eksekutif yang definitive, diawali dengan melakukan study comparative ke kampus UIN Sunan Kalijaga dan UGM Yogyakarta bersama DPM, MPM dan LPM. Imbas dari agenda tersebut, maka UU Nomor 01 Tahun 2005 tentang Partai Politik Mahasiswa, UU Nomor 05 tentang Pemilihan anggota DPM, dan UU Nomor 06 Tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa pun lahir sebagai media awal untuk melangsungkan Pemilu Raya Mahasiswa dengan menggunakan mekanisme kepartaian.

TANTANGAN DAN RASIONALITAS
Sidang Majelis Yang Terhormat…!!!
Disamping program kerja tersebut, banyak agenda lain yang perlu penanganan serius dari lembaga kemahasiswaan. Karena kalau saja kita (berani) jujur, kultur akademik kampus IAIN SGD Bandung kurang mendukung terciptanya tradisi intelektual-kritis atau kreatifitas-intelektual yang ulet dan "modis". Kalau boleh dibilang, fenomena hari ini dilingkungan pendidikan IAIN SGD Bandung menunjukan kurang sehatnya 'fisik intelektualitas'. Semangat akademik hanya ada dalam ruang-ruang perkantoran. Diluar tidak. Diskusi, seminar, dan mimbar bebas hanya syah dan tepat kalau berlangsung didalam kelas. Ditempat terbuka (DPR, misalnya) dianggap tidak sopan. Tidak etis. Inilah manifestasi "formalisme" yang masih dijajakan dan di-cekokin terhadap mahasiswa.
Formalisme kaku seperti ini menutup ruang wacana. Meniadakan kesempatan "negasi ilmiah" antara mahasiswa dan dosen, sebagai masyarakat akademik. Itulah bentuk riil cultural obscurantism dalam wilayah kesadaran intelektual. Dan disini kebebasan berfikir (thinking liberalization) mengalami pengekangan yang ekstrim. Tidak akan pernah ada kritisisme dan kreatifitas berfikir bila kebebasan berfikir dibrondol dengan peluru hegemonik dan eksploitatif. Tradisi yang akan lahir bukan yang bervisi intelektual-akademik, melainkan insipid tradition for intellectualism; tradisi kehambaran, ketidakbermutuan dalam konteks intelektualitas. Sebagai konsekuensi fatal dari menjalarnya tradisi pengekangan ini melahirkan sifat otoritarianik, eksklusif dan menjauhkan mahasiswa dari pengambilan kebijakan akademik. Sehingga wajar saja bila kemunculan Tata Tertib Mahasiswa dan Kode Etik Mahasiswa ditentang secara tegas oleh Pjs Eksekutif karena mengkerangkeng kebebasan mimbar akademik mahasiswa.
Tidak berhenti sampai disitu, metode dan proses recruitment tenaga pengajarpun bukan didasarkan atas kecakapan intelektual. Political lobbying, politik pendekatan menjadi "walinya". Siapa yang dekat dengan saya dia-lah yang pasti diangkat dan diberi kursi. Siapa yang kritis dan tidak manut disingkirkan dipojok kegelapan. Tradisi ini mendahulukan kepentingan politik kekuasaan ketimbang pemberdayaan dan proforsionalitas-intelektualisme. Hampir semua perangkat dipolitisir, termasuk "aktivis" mahasiswa yang tega menjual idealismenya untuk "mengabdi" dan menjadi "budak" birokrat kampus. Na'udzubillah!
Akibatnya, tradisi intelektual mahasiswa tidak pernah tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita idealnya. Kreatifitas mahasiswa dalam aspek intelektualitasnya tetap hanya sebatas impian. Sebagai bukti, sedikitnya kelompok diskusi ditingkat lembaga kemahasiswaan. Minimnya minat baca dan penelitian akademik-ilmiah dalam kerangka pengembangan daya intelektualitas karena kekurangan fasilitas (laboratorium dan perpustakaan). Kapabilitas dan kapasitas pejabat ditingkat rektoratpun samar-samar ikut melegitimasi realitas tersebut. Kualitas tetap saja buruk, sementara biaya kuliah (SPP & Praktikum) semakin melambung, karena kesepakatan senator untuk menaikan SPP yang mencapai 100%. Itulah yang menyebabkan kami merasa terpanggil turun aksi memimpin massa untuk menolak kenaikan SPP dan Uang Praktikum.
Sidang Majelis Yang Terhormat…!!!
Wacana konflik internal, vertikal dan horizontal antara Pjs Eksekutif KBM IAIN SGD Bandung dengan lembaga kemahasiswaan lain dan birokrat kampus tampaknya akan terus berkibar dibawah panji kampus ini. Segala problematika yang menghantuinya telah menjadi sorotan publik, baik internal maupun eksternal. Hal ini bisa dilihat dari berbagai tanggapan yang sempat dilontarkan oleh masyarakat, media, maupun cendikiawan.
Sungguh tidak lucu dan ironis bila jalan hidup "aktivis" mahasiswa ditentukan oleh jabatan dan kekuasaan!?!. Apakah kita pernah berfikir akan hal itu? Entahlah ...!!? tapi yang pasti, belum ada solusi konkrit dalam menghadapi kebobrokan sistem KBM IAIN SGD Bandung yang dihuni oleh ribuan mahasiswa ini. Adakah diantara kita yang berani turun kejalan, memimpin ribuan aksi massa tanpa "gelar" tersandang di dada demi terciptanya perubahan di kampus tercinta ini? Akankah semuanya berjalan baik mana kala kami tidak duduk lagi di satruktural kampus?

WACANA UNTUK REKOMENDASI
Sidang Majelis yang kami hormati …!!!
Kepemimpinan mahasiswa baik dalam konteks intelektual dan politik, pada dasarnya tak jauh berbeda dengan apa yang berlangsung di elite birokrat. Ini kan menjadi sesuatu yang absah bila dilihat dari "struktural-geografis"nya, kultur lokal yang masih mendominasi dan seringkali menyisihkan sikap-sikap interventif bagi kelangsungan kultur politik yang ada. Jika ditingkat elite, sistem dan karakteristik kekuasaannya cenderung mendominasi, "menguasai" dan memanfaatkan, selama itu pula dinamika tradisi politik mahasiswa tidak akan pernah jernih dan menyejukkan. Mahasiswa sering dijadikan alat memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan elite.
Cara satu-satunya meretas semua itu ialah menciptakan jarak dan tradisi loyal opposition bagi elite birokrat. Mahasiswa mesti selalu vis a vis dengan rektorat maupun pemerintah. Disamping itu, mahasiswa harus memiliki sikap tegas untuk melakukan social control kapan dan dalam wilayah sosial akademik apapun. Tak kurang efektif dari itu, mahasiswa harus senantiasa aktif-liberatif dalam pengasahan skill intelektual dan pendewasaan politik yang berjiwa komitmen akademik.
Kepemimpinan mahasiswa hendaknya tetap konsisten pada kepemimpinan intelektual. Tentu saja yang tidak a-politis. Jika Ali Syariati mengecam kaum intelektual mengambil alih kepemimpinan politik, itukan dulu. Semangat zaman mempunyai perbedaan ruang dan masa tersendiri. Dan bukankah, meminjam bahasanya Foucault, “Tidak ada kekuasaan tanpa intelektualitas (pengetahuan), dan tiada intelektualitas tanpa kuasa”. Jadi, kecaman Ali Syariati atas kaum intelektual yang mengambil alih kepemimpinan politik akan menemukan relevansinya bila kerkuasaan hanya dipahami dalam perspektif politik, bukan memakai logika intelektual. Oleh karenanya, tradisi intelektual ditingkat mahasiswa menjadi penentu tegaknya tradisi politik yang menyejukkan. Bicara tradisi politik yang tidak dibarengi semangat intelektual akan melahirkan kepemimpinan politik yang hedonis dan pragmatis. Tidak demikian bila komitmen intelektualisme menjadi "make up" tradisi dan praktik politik itu sendiri.
Mahasiswa dalam kepemimpinannya tidak berposisi sebagai “menara gading” yang jauh dari kepentingan rakyat yang power oriented. Lantas, persoalannya adalah apakah kepemipinan intelektual mahasiswa dijalankan secara mekanik atau kritis? Mekanik dalam arti hanya sebagai afiliatif terhadap status-quo dan kritis (vis a vis) dalam arti mahasiswa dalam kepemimpinannya melakukan pengorganisasian masyarakat dengan penyadaran intelektual untuk mewujudkan –meminjam bahasa Antonio Gramsci– “masyarakat organik” yang sadar akan politik. Secara proaktif-partisifatif melakukan refleksi dan aksi perubahan terhadap realitas kepemimpinan yang tidak akomodatif, demi terwujud tatanan masyarakat yang kritis dan berkeadilan sosial.
Konkritnya, memberdayakan forum-forum diskusi yang mengedepankan bangunan rasionalitas dan inklusifitas wacana, kapan dan dimanapun, akan memberikan warna lain bagi proses maupun kesadaran politik. Demi berkembangnya tradisi intelektual yang transparan, elegan dan yang senantiasa mengarah pada pencerdasan, semangat kritisisme dan kreativisme intelektual merupakan keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Tradisi politik mahasiswa tidak sama dengan tradisi politik elite partai. Politik mahasiswa tetap dalam koridor perspektif dan semangat akademik. Bukan syahwat berkuasa. Tradisi intelektual dan politik mahasiswa harus berorientasi untuk melahirkan pribadi-pribadi "agung", yang memiliki semangat sensitive atas aspirasi sosial masyarakat.
Sidang Majelis Yang Terhormat…!!!
Hanya Tuhan yang mengetahui akhir dari sebuah ceita panjang ini. Dan hanya harapan serta do’a yang mengiringi segenap mahasiswa, “Semoga rintisan air hujan tidak menjadi banjir yang akan menggenangi organisasi KBMI ini. Semoga mentari diiringi pelangi yang bertabur warna akan segera menghiasi cakrawala ilmu dikawasan kampus gersang ...” Semoga ...!!?
“Tangan Terkepal dan Maju Kemuka!!!”. Wallahu a'lam.

* * * *

* M. Nana Suryana As, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Prodi Ilmu Jurnalistik,
Pjs Eksekutif Bidang Internal KBM IAIN SGD Bandung.

POTRET GERAKAN MAHASISWA INDONESIA


“Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia, Mengaku bertanah air satu, Tanah air tanpa penindasan. Kami mahasiswa mahasiswi Indonesia, Mengku berbangsa satu, Bangsa yang gandrung akan keadilan. Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia, mengaku berbahasa satu bahasa kebenaran”. (Sumpah Mahasiswa Indonesia)


“STUDENT TODAY, LEADER TOMORROW” adalah kalimat yang terkenal dikalangan mahasiswa pada dekade ’60-an. Untuk menjadi pemimpin dimasa depan, mereka banyak belajar dan berorganisasi. Biasanya mereka berangkat dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) atau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Yang menonjol diantara mereka, bisa juga aktif di Dewan Mahasiswa (DEMA). DEMA atau Badan Eksekutif Mahasiswa intra kampus mempunyai perhimpunan ditingkat nasional, yaitu Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI). Perkembangan selanjutnya mahasiswa memiliki badan legislatif. Mereka tergabung dalam Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) ditingkat Fakultas dan Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) ditingkat universitas.
Diluar kampus, tempat mahasiswa menempa dirinya cukup banyak. Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus diantaranya PMII, HMI, GMNI, CGMI, Somal dan lain-lain. Ditingkat nasional mereka berhimpun kedalam PMMI. Mereka sering mengadakan latihan kepemimpinan yang materinya berisi ideologi dan semangat perjuangan.
Jadi tempat berlatih para aktivis mahasiswa untuk menjadi pemimpin cukup banyak. Posisi pengurus inti di DEMA, PMMI dan MMI menjadi rebutan. Nama-nama mereka menonjol dan sering menjadi sumber pemberitaan pers.
Namun tatanan itu runtuh begitu peristiwa G 30 S/PKI meletus. Dewan mahasiswa masih berperan, tapi MMI tidak ada lagi. Tidak ada lagi CGMI, Perhimi, GMNI-Kiri dan organisasi lain yang berbau kiri (komunis). Karenanya PPMI pun juga hilang. Dibentuklah KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) pada tanggal 25 Oktober 1965 yang bergelut dalam gerakan aksi ekstra parlementer.
* * *
DEMONSTRASI MAHASISWA tahun 1966 tercatat sebagai aksi pelajar dan mahasiswa paling heroik yang pernah terjadi di Indonesia. Aksi KAPPI dan KAMI memiliki warna tersendiri yang jauh dari rekayasa. Pada awal pergerakannya, tak seorangpun dapat memprediksikan jalannya peristiwa yang akan terjadi. Sulit membayangkan bagaimana presiden Soekarno akan jatuh.
Inti pesan mahasiswa yang utama pada saat itu sebenarnya hanya menuntut penurunan harga dan pembubaran PKI (komunis). Selain itu ada satu butir tambahan yang tercakup dalam TRITURA (Tiga Tuntutan Rakyat) yakni; me-reshuflle kabinet 100 yang dinilai tidak efektif dan efisien. Gema perjuangan mahasiswa akhirnya “digenapkan” oleh petualang politik dengan menjatuhkan Soekarno yang dicap condong kekiri-kirian. Dengan begitu gerakan mahasiswa telah ternodai dan telah dijadikan “kambing hitam” bagi pergantian rezim; dari orde lama menuju orde baru. Situasi tersebut berimbas pula pada kondisi di seluruh perguruan tinggi. Kampus menjadi runyam, karena terjadi skorsing terhadap dosen dan mahasiswa yang dianggap berbau komunis. Mekanisme pengajaran menjadi terabaikan selama beberapa saat. Kelompok yang memperjuangkan langgengnya Pancasila sudah tentu memandang “libur sekolah” sebagai konsekuensi logis dari suatu perjuangan besar.
Pada saat itu, mahasiswa memang menjadi sesuatu kekuatan alternatif setelah ABRI. Mereka mewakili kelompok intelektual yang sedang berkiblat pada model orang-orang terdidik dari Eropa Barat dan Amerika. Maka munculah tokoh-tokoh mahasiswa seperti Cosmas Batubara, Fahmi Idris, Mari’e Muhammad, Akbar Tanjung, Sofyan Wanadi, Rahman Tolleng dan lainnya. Kehadiran mereka secara kebetulan tersubordinat dari Senat atau Dewan Mahasiswa. Mereka maju nyaris tanpa jaminan perlindungan fisik. Dan untuk itu taruhannya adalah nyawa. Itulah pesona kehidupan kemahasiswaan pada era 1960-an, yang pada akhirnya melahirkan angkatan ’66.

* * *
PESONA MAHASISWA era 1970-an beda lagi ceritanya. Politik praksis yang dilakukan oleh mahasiswa tahun 1971 lewat demonstrasi anti korupsi, anti pembangunan TMII dan anti SPP. Hal itu kemudian diikuti oleh peristiwa Malari 1974 (Peristiwa Tanaka) dan kemudian peristiwa NKK tahun 1978.
Kehadiran mahasiswa pada peristiwa Malari, 15 Januari 1974, tidak lebih dari sekedar “kambing hitam kekuning-kuningan”. Sebab unjuk rasa yang murni dari mahasiswa adalah unjuk rasa yang terfokus pada kontra Japanisasi; suatu gerakan untuk menghambat haluan kita yang Jepang-sentris. Peristiwa Malari merupakan buah dari persaingan pengaruh dua jendral; Soemitro selaku Pangkomkamtib dan Ali Moertopo dengan kelompok CSIS-nya. Pada peristiwa Malari, konspirasi tokoh GOLKAR Ali Moertopo telah berhasil menumbangkan Jendral Soemitro, serta menetralisir pengaruh Yoga Soegama, Sutopo Yuwono, Kharis Suhud dan Alamsyah dibalik ambisi Ali Moertopo yang tak terkendali untuk menjadi presiden. Maka peristiwa Malari tidak lepas dari “magic kuningisasi”.
Imbas dari peristiwa malari ’74 dan huru hara mahasiswa ’78, pada masa Mendikbud Daud Yusuf diterapkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) yang menjadi back ground politik nasional. Karena keduanya membawa konsekuensi penghapusan lembaga Dewan Mahasiswa (DEMA) di kampus, pelarangan masuknya ormas kemahasiswaan (ekstra universiter) ke kampus, mahasiswa tidak bisa lagi mengatasnamakan seluruh Perguruan Tinggi, serta memberikan kewenangan besar kepada fihak rektorat dalam mengawasai kegiatan ekstra kulikuler mahasiswa. Tujuan dari diterapkannya NKK/BKK tersebut yaitu untuk menciptakan insan yang pure akademis dan steril dari muatan politis. Dari kondisi seperti itu, mahasiswa dipaksa beraktivitas tanpa mengenakan baju ormas.
Bersamaan dengan itu, sistem belajar mengajar mahasiswa pun diubah dengan Sistem Kredit Semester (SKS). Sebelumnya dikenal istilah “mahasiswa abadi”, tetapi dengan penerapan sistem SKS, mahasiswa yang “malas” atau sejenisnya diancam droup-out (DO). Mereka tidak mempunyai kesempatan yang leluasa untuk bersentuhan dengan masyarakat berikut persoalannya. Tiap hari mereka dikejar dengan tugas-tugas makalah, penelitian dan lain sebagainya. Mereka yang menjadi aktivis kampus rata-rata harus mengorbankan studinya satu atau dua semester.
Sentuhan mahasiswa dengan masyarakat diperlukan. Itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya konsep Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mempunyai nilai kredit. Menjalankan KKN dengan serius, mahasiswa akan bisa mengetahui denyut nadi masyarakat. Mereka bisa menjadi peka.
Pesona mahasiswa era tahun ’70-an ini, menghendaki terjadinya proses perubahan, pergantian suatu ide atau konsep/kebijakan atau orang-orang yang dianggap melanggar visi demokrasi sebagai acuan dasar gerakan mahasiswa.
* * *
SEMENTARA mahasiswa tahun 1980-an sampai awal 1990-an lebih terfokus pada ekses dari pelaksanaan pemilu. Ini terbukti dengan digelarnya aksi ekstra parlementer didepan gedung DPR/MPR pada tahun 1993.
Pada periode ini, konsep kemahasiswaan berubah. Badan Koordinasi Kampus (BKK) diubah menjadi Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) dan Senat Mahasiswa Fakultas (SMF). Selain itu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) pun masih ada. Namun waktu yang dimiliki mahasiswa tetap terampas oleh kegiatan kuliahnya.

* * *
LALU APA yang kita saksikan dari pesona mahasiswa angkatan ’98? Gerakan mahasiswa yang dilatar belakangi oleh parahnya tingkat ketidakberdayaan ekonomi nasional karena ulah oknum birokrat yang korup (baca : KKN) ditambah mandulnya peranan DPR berhasil menumbangkan rezim otoriternya Orde Baru yang selama 32 tahun dipimpin oleh Soeharto. Gong ditabuh oleh seluruh civitas akademika disetiap tempat dengan menggelar mimbar bebas dan unjuk rasa. Ribuan mahasiswa turun aksi dan mimbar bebas pun digelar dengan tuntutan sama, yang pada intinya menebarkan pesan, maklumat, tuntutan dan saran yakni: pemberantasan KKN, turunkan harga, reformasi ekonomi dan politik, bersihkan kabinet dan menolak intervensi Amerika dengan IMF-nya.
Gerakan mahasiswa yang menyuarakan hati nurani rakyat membawa pesona tersendiri bagi mahasiswa angkatan ’98 ini, karena dinamika yang terjadi dibentuk oleh lingkungan strategis yang serba global-informasi. Kekhasannya ialah mereka sangat peka dalam merespon ketidak berdayaan ekonomi nasional dan mampu menberikan wahana pendidikan politik bagi masyarakat leweat aksi jalanannya.
Tumbangnya rezim Soeharto pada tanggal 22 mei 1998, membawa perubahan baru pada konsep dunia kemahasiswaan. SMPT diubah menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). SMF raib entah kemana. Dan HMJ pun mengalami kegamangan dalam menghadapi realitas yang ada. Sementara itu BEM SI dan BEMI yang mirip dengan MMI di waktu dulu, terpaksa harus kehilangan gaungnya karena lebih banyak berkutat pada permasalahan internal.
Akhirnya, mahasiswapun kembali melangkah lebih praksis. Mereka rajin kuliah agar cepat selesai. Kalau mereka ingin berorganisasi di luar saja, di organisasi ekstra kampus. Imbasnya, gerakan mahasiswa pun terpecah belah yang pada akhirnya tenggelam dilibas zaman
* * *
BILA SEKARANG kita renungkan kembali kilas balik gerakan mahasiswa “tempo doeloe”, mungkin kita akan turut merasa bangga dengan menyandang titel mahasiswa. Karena pesona perjuangan yang dilakukan kawan-kawan kita dulu memiliki nilai heroisme yang begitu tinggi, walaupun sering kali nilai-nilai heroisme tersebut sering ternodai dan bahkan dijadikan ‘kambing hitam’ oleh para elite politik bangsa ini.
Lalu pesona apa yang diumiliki oleh kita, mahasiswa angkatan sekarang? Bila generasi 1908 hadir dengan konsep gerakan sosialnya; generasi 1928 dengan semangat kebangsaan yang dikristalkan dalam sumpah pemuda; generasi 1945 dengan proklamasi kemerdekaan berikut dasar-dasar negara; generasi 1966 dengan Tritura-nya; generasi 1974 dengan ide pemerataan pembangunan; generasi 1998 dengan reformasi totalnya; lalu generasi kita disebut generasi apa?
Sadar atau tidak, gerakan aksi mahasiswa pasca reformasi, tak lebih dari sekedar mord force yang nilai applaus-nya relatif rendah. Namun gerakan tersebut menandakan bahwa kepedulian mahasiswa terhadap problem demokrasi masih tetap dipelihara. Hal ini terbukti saat Abdurahman wahid (Gus Dur) diturunkan dari kursi kepresidenannya oleh kekuatan poros tengah, gerakan mahasiswa masih tetap konsisten dengan gerakan ‘moral’nya untuk menciptakan iklim demokrasi dinegeri ini, walaupun pada akhirnya gerakan tersebut terpecah menjadi dua kubu. Kubu mahasiswa yang pro kepemimpinan Gus Dur dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia (BEMI), sementara yang kontra Gus Dur dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)
Dunia pergerakan mahasiswa, pasca tumbangnya Orde Baru mengalami keguncangan citra diri. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa mengalami jalan buntu. Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan aktivis-aktivis mahasiswa dalam mengorganisir massanya menjadi satu kekuatan. Mahasiswa kembali terpecah belah. Tidak adanya tokoh sentral yang mampu dijadikan panutan bersama oleh mahasiswa dan tidak adanya musuh bersama untuk dihadapinya, semakin memperparah kesatuan mahasiswa sekarang ini.
* * *
MAHASISWA sebagai bagian dari dunia kaum muda, sepantasnya peka dan tanggap terhadap berbagai peristiwa sosial dan nasional. Tidak mengherankan bila kebobrokan birokrat, ketimpangan sosial dan lainnya merupakan lahan basah bagi terjadinya gerakan mahasiswa. Dan justru akan terasa aneh kalau dunia mahasiswa bersikap apatis dan acuh terhadap realitas yang berkembang disekelilingnya. Aktivisme dalam dunia mahasiswa harus kita sambut sebagai syarat betapa tingginya sumbang rasa mereka bagi masyarakat.
Dan setelah sekian lama kita terkurung dalam kungkungan tembok almamater, oleh dosen-dosen dan fungsionaris kampus yang sok birokrat, sebagaimana tercermin dari baju safarinya yang tersetrika licin, isi pembicaraannya yang monoton dan membosankan. Saatnya mahasiswa untuk kembali berteriak dan menyeruak dengan otak yang menyembul galak meneriakan satu kata “LAWAN”. Melawan siapa saja (tak peduli itu rektorat, dosen, organisasi intra/ekstra kampus dll) yang akan menghambat kreatifitas dan sikap kritis mahasiswa. Sebuah perlawanan yang harus dilakukan secara universal dengan media yang beragam.
Diskusi bisa dilakukan dimana dan kapan saja, tanpa harus bernuansa formal seperti didalam kelas. Kritisisme harus tetap dijaga demi menjaga idealisme mahasiswa. Pers mahasiswa harus jelas keberpihakannya, dengan tidak menghilangkan ‘citra diri’nya sebagai penyambung lidah mahasiswa yang independen. Keberpihakan yang berarti bahwa keberanian dalam mengungkap/ membongkar kecurangan dan ketidakadilan setiap peristiwa, tanpa rasa takut dibredel oleh rektorat sebagai pemilik modal dan pemerintah (kampus).
Organisasi ekstra kampus harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Pengasingan (alienasi) dirinya dari habitat asli (kampus dan mahasiswa) akibat hegemoni pemerintah melalui NKK/BKK harus dilawan. Organisasi ekstra kampus harus kembali ke kampus membawa perubahan baru lewat tawaran program kerja, atas dasar paradigma dan ideologi yang dibawanya, demi menghidupkan kembali dinamika politik mahasiswa. Saatnya organisasi ekstra kampus merebut stuktur kampus.
Sejarah berbicara, perubahan di kampus tidak pernah dilakukan oleh organ intra kampus yang pro status-quo. Lintas sejarahpun menyaksikan kalau perubahan yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh aktivis mahasiswa yang banyak bergelut di luar kampus. KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebagai aliansi aktivis mahasiswa ekstra universiter, lewat TRITURA-nya, berhasil menggulingkan Soekarno yang ‘dicap’ kekiri-kirian. Rezim Orde Baru pun tumbang oleh gerakan reformasi yang dimotori mahasiswa dari beberapa organ (FORKOT, FORBES, FAMRED dll). Hal tersebut bukan berarti mengecilkan peran serta mahasiswa yang tergabung dalam organisai intra kampus, seperti Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) dalam penggulingan Soeharto. Namun bila di investigasi lebih dalam, mayoritas penggerak FKSMJ (sekarang BEM) tersebut adalah aktivis mahasiswa yang juga aktif di organisasi ekstra kampus. Mereka bukan hanya menjadi pendesain rutinitas kampus, namun mereka mencoba menempatkan diri sebagai agen perubahan (agent of social change) dengan tetap berpegang teguh pada sikap kritis dan kreatif, seperti yang disinyalir oleh Al-Ghazali, "Sesungguhnya tanpa kaum intelektual, sejarah peradaban Muslim tidak akan dapat dibayangkan dan tidak akan ada peradaban Muslim masa depan yang tetap hidup, dinamis dan terus berkembang tanpa lembaga kaum intelektual yang kritis dan kreatif".
"Kritis dan Kreatif", itulah yang perlu di-stabilo oleh kita dari statemennya Al-Ghazali. Tradisi kritisisme dan kreatifisme dalam lalu lintas sosial pengetahuan dan keilmuan umat menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Rekonstruksi pemikiran kritis dan etos kerja kreatif bagi umat adalah “iuran wajib” yang tidak dapat diacak lagi dasar hukumnya. Bila mengandaikan terwujudnya srtuktur sosial kehidupan masyarakat yang gandrung keadilan dan cinta "kesederajatan" dalam semangat humanisme. Krtitis dalam bahasanya Karl Marx, menjadi kunci segala kehidupan kita menembus fakta-fakta sosial kehidupan. Hidup tanpa bekal kritisisme dimanapun hanya akan jadi korban dehumanisasi, eksploitasi dan hegemonisasi system sosial yang ada. Sama halnya bila kita tidak kreatif dalam hidup. Kita akan selalu menjadi "manusia kedua". Tidak kreatif sama artinya dengan menyerahkan kepala sendiri untuk disembelih oleh realitas kehidupan sosial. Manusia tidak kreatif itulah yang disebut man of analisys; manusia yang selalu dianalisis system. Ia akan dijadikan robot oleh system sosial. Manusia macam ini sampai kapanpun akan ditindas dan tertindas. Dan manusia semcam ini telah menyalahi fitrahnya sebagai manusia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk dan dibekali "burger" kreatifitas.
Fenomena "material" diatas, yakni tidak adanya tradisi kritisisme dan kreatifisme, juga masih berlangsung dilingkungan IAIN SGD hingga saat ini. Dialogical sphere dan critical sphere sengaja disumbat dengan metode pengajaran pedagogik. Mahasiswa dilarang mendebat Dosen, dalam kondisi apapun. Alih-alih disadari bahwa sikap pendidikan semacam itu salah. Berani mengkritik terlalu tajam berarti mahasiswa tersebut telah memilih namanya di-list dan nilainya "digilas" tanpa perhitungan rasional. Konsekuensi dari "budaya eksklusif-egois" ini adalah mampet-nya transformasi semangat maupun nilai-nilai intelektualisme. Mahasiswa tidak kreatif. Mahasiswa menjadi "pasien" pengetahuan yang tidak mencerdaskan. Mereka terkerangkeng kreatifitas dan fakultas kritisnya.
Believe or not, kenyataan diatas sangat mempengaruhi kualitas intelektualitas dan kreatifitas sosial-akademik mahasiswa. Tentu juga berefek pada mutu output; sarjana yang ada. Dipenggalnya srtukturalisasi kritisisme dan kreatifisme dikalangan mahasiswa hanya akan mendapat jurang kehancuran bagi masa depannya. Output dari lembaga IAIN SGD ini akan berlarian dengan skill impotent. Menyumbat semangat dan tradisi intelektual-kritis akan membuat mahasiswa tidak produktif, baik dalam konteks penciptaan "mesin-mesin sosial" maupun cultural ideas yang langsung berkait dengan pengembangan dan pemberdayaan academical society.
Jujur saja, kultur akademik di IAIN SGD ini kurang mendukung terciptanya tradisi intelektual-kritis atau kreatifitas-intelektual yang ulet dan "modis". Kalau boleh dibilang, fenomena hari ini dilingkungan IAIN SGD menunjukan intellectual morbid; tidak sehatnya 'fisik intelektualitas'. Semangat akademik hanya ada dalam ruang-ruang perkantoran. Diluar tidak. Diskusi hanya sah dan tepat kalau berlangsung didalam kelas. Ditempat terbuka dianggap tidak sopan. Tidak etis. Inilah manifestasi "formalisme" yang masih dijajakan dan di-cekokin terhadap mahasiswa. Formalisme kaku seperti ini menutup ruang wacana. Meniadakan kesempatan "negasi ilmiah" antara mahasiswa dan dosen, sebagai masyarakat akademik. Itulah bentuk riil cultural obscurantism dalam wilayah kesadaran intelektual. Dan disini kebebasan berfikir (thinking liberalization) mengalami pengekangan yang ekstrim. Tidak akan pernah ada kritisisme dan kreatifitas berfikir bila kebebasan berfikir dibrondol dengan peluru hegemonik dan eksploitatif. Tradisi yang akan lahir bukan yang bervisi intelektual-akademik, melainkan insipid tradition for intellectualism; tradisi kehambaran, ketidakbermutuan dalam konteks intelektualitas.
Sebagai konsekuensi fatal dari menjalarnya tradisi pengekangan ini melahirkan sifat otoritarianik, eksklusif dan menjauhkan mahasiswa dari pengambilan kebijakan akademik. Tidak berhenti sampai disitu, metode dan proses recruitment tenaga pengajarpun bukan didasarkan atas kecakapan intelektual. Political lobbying, politik pendekatan menjadi "walinya". Siapa yang dekat dengan saya dialang yang pasti diangkat dan diberi kursi. Siapa yang kritis dan tidak manut disingkirkan dipojok kegelapan. Tradisi ini mendahulukan kepentingan politik kekuasaan ketimbang pemberdayaan dan proporsionalitas intelektualisme. Hampir semua perangkat dipolitisir. Manipulasi penafsiran terjadi.
Akibatnya, tradisi intelektual mahasiswa tidak pernah tumbuh dan berkembang sesuai dengan cita-cita idealnya. Kreatifitas mahasiswa dalam aspek intelektualitasnya tetap hanya sebatas impian. Sebagai bukti; sedikitnya kelompok diskusi ditingkat lembaga kemahasiswaan (UKM, HMJ, BEM dll). Minimnya minat baca dan penelitian akademik-ilmiah dalam kerangka pengembangan daya intelektualitas. Kapabilitas dan kapasitas pejabat ditingkat rektorat samara-samar ikut melegitimasi realitas tersebut.
Begitupun dengan tradisi politiknya. Kepemimpinan mahasiswa baik dalam konteks intelektual dan politik tak jauh berbeda dengan apa yang berlangsung di elite birokrat. Ini kan menjadi sesuatu yang absah bila dilihat dari "struktural-geografis"nya, kultur lokal yang masih mendominasi dan seringkali menyisihkan sikap-sikap interventif bagi kelangsungan kultur politik yang ada. Jika ditingkat elite, sistem dan karakteristik kekuasaannya cenderung mendominasi, "menguasai" dan memanfaatkan, selama itu pula dinamika tradisi politik mahasiswa tidak akan pernah jernih dan menyejukkan. Mahasiswa sering dijadikan alat memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan elite. Cara satu-satunya meretas semua itu ialah menciptakan jarak dan tradisi loyal opposition bagi elite birokrat. Mahasiswa mesti selalu vis a vis dengan rektorat. Disamping itu, mahasiswa harus memiliki sikap tegas untuk melakukan sosial control kapan dan dalam wilayah sosial akademik apapun. Tak kurang efektif dari itu, mahasiswa harus senantiasa aktif-liberatif dalam pengasahan skill intelektual dan pendewasaan politik yang berjiwa komitmen akademik.
Kepemimpinan mahasiswa hendaknya tetap konsisten pada kepemimpinan intelektual. Tentu saja yang tidak a-politis. Jika Ali Syariati mengecam kaum intelektual mengambil alih kepemimpinan politik, itu kan dulu. Semangat zaman mempunyai perbedaan ruang dan masa tersendiri. Dan bukankah, meminjam bahasanya Foucoult; tidak ada kekuasaan tanpa "intelektualitas; pengetahuan", dan tiada intelektualitas tanpa kuasa. Jadi, kecaman Ali Syariati atas kaum intelektual yang mengambil alih kepemimpinan politik akan menemukan relevansinya bila kerkuasaan hanya dipahami dalam perspektif politik, bukan memakai logika intelektual.
Oleh karenanya, tradisi intelektual ditingkat mahasiswa menjadi penentu tegaknya tradisi politik yang menyejukkan. Bicara tradisi politik yang tidak dibarengi semangat intelektual akan melahirkan kepemimpinan politik yang hedonis dan pragmatis. Tidak demikian bila komitmen intelektualisme menjadi "make up" tradisi dan praktik politik itu sendiri. Konkritnya, memberdayakan forum-forum diskusi yang mengedepankan bangunan rasionalitas dan inklusifitas wacana, kapan dan dimanapun, akan memberikan warna lain bagi proses maupun kesadaran politik. Demi berkembangnya tradisi intelektual yang transparan, elegan dan yang senantiasa mengarah pada pencerdasan, semangat kritisisme dan kreativisme intelektual merupakan keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Dan Political Moratorium; penangguhan kepentingan politik mesti senantiasa diperhatikan. Tradisi politik mahasiswa tidak sama dengan tradisi politik elite partai. Politik mahasiswa tetap dalam koridor perspektif dan semangat akademik. Bukan syahwat berkuasa. Tradisi intelektual dan politik mahasiswa harus berorientasi untuk melahirkan pribadi-pribadi "agung", yang memiliki semangat sensitive atas aspirasi sosial masyarakat. Wallahu a'lam ?!? (15/05/2005)