<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Twitter

Senin, 21 Februari 2011

Mengenai Kita Suci Ahmadiyyah


Banyak orang yang (sok) tahu, bahwa Ahmadiyyah memiliki kitab suci lain selain Al-Qur'an yang disebut Kitab Takzirah. Hal ini sama dgn tuduhan segelinitr oknum yang fanatis dan pandir yang menuduh Syi'ah memiliki kitab lain selain Al-Quran yg disebut mushaf fathimah. Tentu saja bagi penganut Ahmadiyyah atau pun Syi'ah yg dituduh demikian hanya bisa tertawa terbahak-bahak sambil mengelus dada dan geleng-geleng kepala. Merasa kagum atas ke sok tahuan si penuduh.

JIka anda sekalian menuduh bahwa mereka memiliki kitab selain al-quran, berarti secara langsung anda sekalian sudah mengakui bahwa al-quran memiliki tandingan atau bisa dipalsukan atau mengalami perubahan. Dan itu berarti anda sudah menyalahi apa yg termaktub dalam Al-Quran.

"Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah kitab yang mulia dan tidak akan terjamah kebatilan dari awal sampai akhir. Ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji." (QS. Fushilat:41-42).

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur'an, dan Kami tentu menjaganya." (QS Al Hijr:9).


KITAB TADZKIRAH

Kitab Tadzkirah yang disebut-sebut sebagai kitab suci, baru muncul sekitar tahun 1992, ketika salah seorang penulis buku yang terbit di Indonesia yaitu M. Amin Djamaluddin mengarang buku berjudul Ahmadiyah & Pembajakan Al-Qur'an . Jadi, istilah kitab suci yang melekat pada buku Tadzkirah diciptakan oleh M. Amin Djamaluddin, bukan oleh Jemaat Ahmadiyah.

Di dalam literatur-literatur Ahmadiyah apa pun, sejak masa hidup Hz.Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) sampai dengan hari ini, tidak pernah ditemukan istilah kitab suci untuk Tadzkirah.

Demikian pula dengan Hz. Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa kitab sucinya adalah Al-Qur'an, sbb:

"Tidak ada kitab kami selain Qur'an Syarif. Dan tidak ada Rasul kami kecuali Muhammad Musthafa shallallaahu `alaihi wasallam. Dan tidak ada agama kami kecuali Islam. Dan kita mengimani bahwa Nabi kita s.a.w. adalah Khaatamul Anbiya', dan Qur'an Syarif adalah Khaatamul Kutub. Jadi, janganlah menjadikan agama sebagai permainan anak-anak.

Dan hendaknya diingat, kami tidak mempunyai pendakwaan lain kecuali sebagai khadim Islam. Dan siapa saja yang mempertautkan hal [yang bertentangan dengan] itu pada kami, dia melakukan dusta atas kami. Kami mendapatkan karunia berupa berkat-berkat melalui Nabi Karim s.a.w.

Dan kami memperoleh karunia berupa makrifat-makrifat melalui Qur'an Karim. Jadi, adalah tepat agar setiap orang tidak menyimpan di dalam kalbunya apa pun yang bertentangan dengan petunjuk ini. Jika tidak, dia akan mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah Ta'ala. Jika kami bukan khadim Islam, maka segala upaya kami akan
sia-sia dan ditolak, serta akan diperkarakan" (Maktubaat-e-Ahmadiyyah, jld. 5, no. 4)


SEJARAH KITAB TADZKIRAH

Tadzkirah bukanlah kitab suci bagi Jemaat dan gerakan Ahmadiyah. Kitab suci Ahmadiyah adalah Al-Qur'an Karim yang diturunkan kepada junjungannya Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya, yaitu Nabi Besar Muhammad s.a.w.

Tadzkirah adalah sebuah buku yang berisi kumpulan wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi-mimpi yang diterima oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad dalam hidupnya selama lebih dari 30 tahun. Selama Hz. Mirza Ghulam Ahmad hidup, tidak ada buku yang bernama Tadzkirah dalam lingkungan Jemaat Ahmadiyah dan Hz. Mirza Ghulam Ahmad tidak pernah menulis buku yang berjudul Tadzkirah.

Buku Tadzkirah ini dibuat kemudian atas prakarsa Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad Pada sekitar tahun 1935, beliau menginstruksikan kepada Nazarat Ta'lif wa Tashnif, sebuah biro penerangan dan penerbitan Jemaat Ahmadiyah pada waktu itu untuk menghimpun wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf serta mimpi-mimpi yang diterima Hz. Mirza Ghulam Ahmad sebagaimana terdapat dalam berbagai macam terbitan (buku-buku, jurnal-jurnal [selebaran, majalah] dan surat kabar-surat kabar) yang mana materi terbitan itu telah disebarkan kepada umum pada saat itu.

Selain itu, dari catatan-catatan harian Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. juga ditemukan keterangan mengenai pengalaman ruhani beliau. Dan juga adanya kesaksian dari para Sahabat, anggota keluarga, kerabat dan lainnya, di mana mereka diberitahu oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad mengenai wahyu, kasyaf, mimpi yang beliau terima dari Allah Ta'ala.

Untuk maksud ini dibentuklah sebuah panitia yang terdiri dari Maulana Muhammad Ismail, Syekh Abdul Qadir dan Maulvi Abdul Rasyid. Panitia tersebut menyusun buku Tadzkirah secara sistematis dan kronologis. Setelah pekerjaan tersebut selesai, maka buku tersebut diberi nama Tadzkirah. Nama Tadzkirah sendiri mempunyai arti kenangan atau peringatan. Buku ini dicetak dalam jumlah yang terbatas. Di Indonesia pun jumlahnya sangat terbatas dan hanya dimiliki oleh mereka yang mengerti bahasa Urdu.


ISI TADZKIRAH

Selanjutnya perlu untuk diketahui bahwa isi buku Tadzkirah ini terbagi menjadi dua bagian:

(i) Tadzkirah (Mimpi-mimpi [dreams], kasyaf-kasyaf [visions] dan wahyu dalam bentuk lisan [verbal revelations] yang diterima oleh Masih Mau'ud a.s.), di mana materi ini telah diterbitkan dan disebarluaskan kepada umum selama hidupnya Hz. Mirza Ghulam Ahmad.

(ii) Zameema Tadzkirah (Wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf dan mimpi-mimpi
yang tidak diterbitkan selama waktu hidupnya Masih Mau'ud. Materi ini dikumpulkan dari kesaksian para Sahabat, Ummul Mukminin, anggota keluarga, kerabat dan lainnya, di mana mereka diberitahu oleh Hz. Masih Mau'ud mengenai wahyu-wahyu, kasyaf-kasyaf dan mimpi-mimpi yang diterima oleh beliau.

Jadi, jika tuduhannya adalah membajak ayat-ayat suci Al-Qur'an adalah tidak ada dasarnya sama sekali, sebab kita dapat temukan juga `pembajakan' serta pengulangan-pengulangan ayat-ayat Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan dalam Al-Qur'an Karim dapat juga kita temukan kesamaan dengan kitab-kitab suci terdahulu sebelum lahirnya Al-Qur'an. Kalau begitu keadaannya, apakah kita punya keberanian untuk mengatakan bahwa Islam telah mengacak-acak dan membajak isi dari kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat dan Injil karena ada beberapa ayat dalam Al-Qur'an Karim merupakan pengulangan dari kedua kitab tersebut?

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku,…." (61: 6)

"Dan (ingatlah) ketika Isa Putera Maryam berkata: "Hai Bani Israil, …." (61: 7)

Apakah kita mau mengatakan bahwa, na'udzubillahii min dzalik, Rasululah Muhammad s.a.w. telah membajak perkataan Nabi-Nabi sebelumnya? Banyak juga kisah yang terdapat dalam Taurat juga ada di dalam Al-Qur'an, apakah kita juga mau mengatakan bahwa Al-Qur'an telah menyadur dan membajak isi Taurat?

Bahkan ahl-kitab (Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang diambil dari Alkitab (Bible). Dengan kata lain, dapat pula orang Islam dituduhkan telah membajak isi Alkitab mereka. Apakah kita sanggup menerima tuduhan ini dengan lapang dada? Tentu tidak.

Layak untuk dicatat bahwa bukan hanya Hz. Mirza Ghulam Ahmad saja yang menerima wahyu, ada beberapa orang waliullah setelah Nabi Muhammad s.a.w. yang menerima wahyu, yang mana redaksinya juga merupakan pengulangan dari ayat-ayat Al-Qur'an.

Sebagai contoh adalah Hz. Imam Muhyiddin Ibnu Arabi r.h., yang terkenal dengan gelar Khaatamul Auliya, beliau menerima wahyu sebagaimana terdapat dalam buku Futuuhatul Makiyyah, jld. 3, hlm. 367 yang diterjemahkan sebagai berikut:

"Katakanlah, "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (2:136) .

Demikian pula dengan Hz. Khawaja Mir Dard r.h., seorang waliullah dari Hindustan dalam bukunya Ilmul Kitab, hlm. 64 mengatakan bahwa ia telah menerima wahyu yang diterjemahkan sebagai berikut:

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
(26: 214)

"Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka, dan janganlah
merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan." (27:70)

"Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin orang-orang buta dari
kesesatan mereka." (27:81)

Dan masih banyak contoh wali-wali Islam lainnya yang telah dianugerahkan wahyu dari Allah Ta'ala. Bahkan di antara orang awam pun banyak yang mempunyai pengalaman mimpi mendapat ayat-–ayat Qur'an, namun karena tidak dipublikasikan maka orang lain tidak mendapatkan informasi yang memadai.

Jadi, dengan adanya wahyu yang berkesinambungan, semakin menunjukkan sifat mutakallim-Nya. Sebab, Tuhan kita bukanlah Tuhan yang mengakhiri hidupnya di atas tiang salib, sehingga tidak mampu berbicara lagi. Tuhan kita adalah Tuhan Yang Maha Hidup, Yang Maha Berbicara, Yang Maha Perkasa, dan itu kekal adanya.

-------
Sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1277509&page=47

Tidak ada komentar: