<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Twitter

Jumat, 11 Februari 2011

Bandung, begitu banyak berubah…


//1//

Aku terbujur lunglai merapatkan tubuh pada dingin. Hawa musim bulan Januari ini telah mengendapkan semua inginku. Tubuh yang beku, pun pikiran yang kelu. Segenap kesah berhamburan, menebari detik-detik diamku dengan pesona kesunyian. Adakah benar bahwa dalam ketidakjelasan, pudarnya segala arah, kita lebih memerlukan kesendirian? Entahlah . . .

Seringai kalut semakin merasuk. Meja-meja lapuk, buku-buku yang terserak, serta denting runut jam pada dinding seolah membawa isyarat yang jauh. Imajiku terus sumpek dengan jejalan kata, meski bibirku terkatup, rapat.

Ingatan masa kecil yang berkelindan dengan impian saat datang juga ikut menelikung perjalanan sunyi ini. Menggerai makna tertelan hampa dan... tersungkur.

Langkah ini selewat tempaan waktu, rupanya hanya menuai syak lesu takdir yang diperkeruh oleh pikirku sendiri. 30 tahun mengartikan jejak hanya berujung pada kenyataan: aku belum juga beranjak dari pulau ini. Aku tak pernah berlayar, melabuhkan derai, menuju rahim-rahim baru tualang keberadaanku. 30 tahun masih di raut yang sama…

Hei, di mana ayat-ayat ab aeterno yang dulu kuikrarkan? Apa yang menahan diri hingga sabda tak pernah mengusaikan?

Sesaat, angin tipis berhembus. Menulusuri lekuk jari yang terkepal. Mata yang kecut, desah yang ringsut; petanda kalut resapan usia yang melarut. Setiap detak disini adalah ziarah kerinduan akan batas.

//2//

Sore tadi gerimis tak henti-henti melahap kerontang bumi. Hawa ringan nan sejuk menyelinap santun diantara reranting delima yang lekah. Seakan restu atas doa-doa lembah, kemarau kembali berziarah. Menghilang di balik lantunan mimpi pagi dan daun melati. Segalanya kini adalah embun.

Mataku surut meski selewat kantuk. Rasanya aku ingin pergi, berjalan menuju ruang baru bagi gerakku. Mengusap rehat yang terlalu lama telah merangkum lelahku. Entah mesti kemana... mungkin ke sudut lain usangnya kota kecil ini. Yap, sebuah kota yang selalu memendarkan melankolia tembang-tembang kenangan.

12 tahun silam aku pernah berdiri disini. Bandung, begitu banyak berubah. Ganjil menikam ruang. Menghimpit desah meski tak perlu risau. Inilah lengking purba sejarah. Datang, bimbang dan menghilang. Merontokkan litani hati di tepian makna tak tersentuh kata.

Sungguh, helatan sejarah kadangkala memaksa serapah benak, walu ia juga sering menyadarkan diri akan begitu sungsangnya masa. Sebongkah keabadian yang terus bungkam, sebab kita selalu mengenalinya dalam keriput yang mengasing. Dalam gumam yang timpang.

Lagi, sebuah dongeng digelar; meta tragika mengurai apa yang terlupa. Manusia di beranda retak kehidupan adalah sketsa lupa yang tak kunjung usai. Rahasia takdir seakan menguap. Setelah larutan peristiwa yang merapuhkan keangkuhan ia menerka semua. Manusia pecah benak. Menuliskan detik dalam puisi-puisi yang kering. Melukis nasib dalam figura percaya yang sesak.

Manusia, untaian kata-kata berjarak. Kelana jejak terbungkam wafat. Menunggu, dan terus menunggu... menjemput arti pada rimba seraknya bahasa. Namun selalu saja terjerat…
***

Nana Suryana
Cijagra; Kamis, 27 Januari 2011 M.

Tidak ada komentar: