<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter
  • "....ada kisah yang belum usai...."

    Akhirnya langkah ini tiba pada sebuah sketsa. Dalam kecamuk, amuk dan peluk. Ada yang terkunci saat ingin membuka segala. Meski cuma lewat kata. Satu hal yang kuyakin; adalah jengahku pasti hadir dalam lembaran ini. Hanya, bacalah! Simaklah! Lalu silahkan saja sinismu terngiang dan kan ada rutuk yang melenggang. Atau paling tidak, pandanglah! Dan jauhkan ia pelan, kelak tak ada perihal yang membayang. Hingga entah kapan kan terhiba kata yang dikurung naifnya keangkuhan...

  • Kuwariskan semua ini hanya untukmu...

    Mahakarya inilah salah satu warisan yang akan kuberikan. Maka kutulis sabda ini untukmu, Anakku. Meski Ayah sendiri sebenarnya tak mengerti di mana bermula maksud ini. Tapi ayah tidak memiliki kemampuan menuliskan isyarat hati. Ayah juga berharap dirimu damai adanya. Sebab doaku telah kurangkumkan pada mega. Ia kan menaungimu dari durja dunia. Dan bagi ayah, beritamu adalah segalanya. Apa yang ayah jalani tidak lagi berarti bila kamu, anakku, tak lagi mengilhami! Kamu adalah anakku, dan anak dari ingatan yang kuwariskan padamu...

  • Merayakan Keberagaman Keberagamaan...

    Setidaknya ada tiga hal yang ingin disampaikan tafsir emansipatoris; Islam Emansipatoris ingin memberikan perspektif baru terhadap teks, Menempatkan manusia sebagai subyek penafsiran keagamaan, Memiliki konsern kepada persoalan kemanusiaan ketimbang pada persoalan teologis. Islam Emansipatoris ingin mengalihkan perhatian agama dari persoalan langit (teosentrisme) menuju persoalan riil yang dihadapi manusia (antroposentrisme). Penekanannya pada aspek praksis, sehingga agama tidak hanya dipahami sebagai ritualisme melainkan pembebasan masyarakat dari segala penindasan!

Twitter

Senin, 31 Mei 2010

Pintu Malam



Lagu ini diciptakan oleh Titiek Puspa, sebagai lagu untuk menina-bobokan anaknya, Petty Tunjung Sari. Dalam perkembangan, lagu ini menjadi lagu yang sangat romantis untuk semua insan yang sedang bercinta.

Iwan Fals punya pengalaman pribadi yang mendalam terhadap lagu ini, dimana beliau telah kehilangan seorang anak laki-lakinya, Galang Rambu Anarki. Kiranya lagu ini beliau dedikasikan untuk anaknya yang telah pergi lebih hulu. Bagiku, bila tiap malam menjelang tidur tak mendengerkan lagu ini, rasanya seperti ada yang hilang. Nggak syah. Nggak romantis banget…

engkau yang menatap ku di ketinggian waktu.
sejenak berhenti hanya untuk memeluk.
bergetarlah rimba raya, diiringi ribuan embun.
di sinilah aku berada, telah menanti mu
ketika senja terurai di waktu yang tak menentu.
senja merah di balut pelangi hitam.
aku berjalan menapaki rumput yang bisu.
tiada yang tahu kenapa malam selalu mencekam.
sisakanlah setetes air.
buat bekal mengarungi sunyi.
kemudian berlalu begitu saja
hanya satu helaan nafas, bergantilah kisahnya.
duka, bahagia, kiasan belaka.
mungkin saja kita perlu sedikit tertawa.
untuk memandang bintang yang suram,.
dan bukalah pintu dimalam hari.
sebab waktu semakin menjerit
untuk bertutur kata.
maka kelak kita bisa bangun di saat fajar ti
rengkuhlah pada wasiat alam.mur.
memudarkan mimpi-mimpi kelam.

Jumat, 28 Mei 2010

kegelisahan yang tak terjawab...



dinda, andai dinda tahu, tidak mudah bagi kaka untuk mencintai seseorang yang tidak pernah ada di samping kaka, tidak pernah dapat melihat perkembangan hidup kaka, tidak pernah melihat saat kaka tertawa karena gembira, saat kaka menangis karena sedih, dan tidak pernah ada disisiku ketika kaka mendapat cobaan terberat dalam hidup.

namun kaka tidak dapat membunuh dan mengubur dalam-dalam rasa yang tumbuh subur dalam hatiku... rasa yang selalu bergelora untukmu, dinda, saat ini, detik ini, entah esok hari atau lusa...

mungkin dulu kaka sempat mencoba untuk melupakan dan membungkus rapi rasa itu tanpa pernah kaka membunuhnya... tapi pada akhirnya, rasa dalam hati kaka terus memberontak bahkan rasa itu dapat menghancurkan bungkusan yang rapi. dan sekarang rasa itu hidup dengan bebas dalam hati kaka. tahu kah dinda pada siapa rasa itu kaka curahkan?

Dinda, semua yg kaka lakukan bukan tanpa refleksi, dan bukan berangkat dari ruang yang kosong. tapi semuanya telah melalui pergulatan hati yang cukup lama. itu saja dindaku, kalaupun sekarang dinda mau pamit, pergilah...

jika dinda memang tidak siap dengan semuanya itu sangat wajar dan manusiawi, dan itu adalah pilihan yang harus di pilih.... bagi kaka, ketika berani mencintai seseorang dengan tulus maka harus berani dan ikhlas untuk merasa kehilangan...

dinda, terima kasih telah memberikan banyak arti dalam hidup kaka, walaupun dinda tidak bisa menemani kaka dalam sisa waktu perjalanan hidupku. terima kasih dinda telah banyak memberikan warna dalam hidup kaka sehingga kaka mampu berdiri ditengah kerasnya perjuangan hidup ini...

dinda, kaka sudah menerima dengan ikhlas semua keputusanmu, dan yang terpenting jangan pernah mencoba memutuskan tali silaturahmi yang telah kita bangun. jika itu terjadi maka kaka akan kehilangan satu adik dan saudara. juga orang yang sekarang ini kaka sayangi & cintai...

terakhir... dinda, andai saja jarak tidak memisahkan kita, andai saja waktu dapat berjalan mundur, mungkin saat ini kaka akan mengulang kejadian yang menurutku telah kaka lewatkan dengan sia-sia. dan pasti kaka akan memilih untuk bisa dekat dengan dinda. namun itu semua tidak dapat kaka lalui, karena itu hanyalah harapan yang mustahil, dan karena semua adalah "semu"....

pesan kaka disela menjelang tidur dinda, "ingat tetap semangat... dan kejarlah terus cita-citamu tanpa pernah lupa menyembah-Nya...

* * *

Bandung, 29 Mei 2010, Pukul 04.00 WIB

Titip Cintaku

Kamis, 27 Mei 2010

komposisi kau dan aku


kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap


[nokturno - sapardi djoko damono]

[1]

malam yang berbeda. kutulis sabda hati ini dari air mata dan kata. adalah sajak tentang kita yang tertambat di dinding sejarah. kita adalah kisah yang tidak akan bisa terhapuskan. kita adalah “tinta tuhan” yang tumpah sebelum saatnya, yang tidak tercucikan walau dengan air raksa. karena kita sebelumnya telah melahirkannya dengan kasih cinta. tapi, entah seberapa tajam geletar itu. seberapa runcing jejak yang melepuh di kesunyian hati. seberapa lama kisah ini kan abadi. sebab sebelum pagi, kita tak mampu menggenggam mimpi. kicau burung begitu cepat menjamah nyenyak kita di perapian kasih.

[2]

kukenang percakapan kita. di riuh-rendah ruang maya, sms panjang, jauh tengah malam. ada yang tiba-tiba tanggal, ingatanku tentang peta yang kita pegang. tentang komitment yang kita bentuk di awal kisah. maklum, kau datang ke pikiranku lewat puisi dan catatan yang indah.

“dinda, ku ingin dengar suara mesramu yang kau dendangkan sebagai pengantar tidurku!”

kau pun diam. entah seribu benak apa yang kau bayangkan atas pintaku. inilah percakapan yang menjadi awal air mata. dimana seluruh tubuhku menjadi lebur tak berdaya. dimana semua harapan menjadi hampa. terkadang kata berubah “pisau”. terkadang berubah rintih yang meringkih di kesunyian malam. namun aku tetap tidak bisa melupakannya. bahkan luka, perih dan nyeri menjadi satu amuk yang semakin menyemangat hendakku untuk tetap memujanya. mungkin karena perempuan itu -adikku, saudaraku, dan juga sahabatku - memang sempurna bagiku.

“jangan, ka...”. pada akhirnya kau pun bicara. cuma itu. satu kata yang tanpa dinyana telah menggetarkan ruang kalbuku.

“kenapa? apa karena kita bertemu di separuh jalan?”

“bukan. bukan karena itu, ka. dinda bingung karena tak tahu harus mengatakan apa. soalnya dinda terkadang berdebar kalau lagi bicara sama kaka. apalagi masalah serius seperti saat ini. sementara dalam hati, dinda tetap yakin bahwa dinda cuma sayang pada kaka sebagai kaka semata. tapi dinda juga tak mau kehilangan kaka. dinda sedih dan merasa kehilangan saat kaka tiada”


kau pun kembali diam. ada getar perih yang kurasa pada ucapmu itu, dindaku. namun ku coba tegarkan hati untuk terus mendampingimu. disela waktu kau jelang pamit ke peraduan. pada akhirnya kutemani kau melangkah, menembus mimpi-mimpi dalam tawa dan tangis, berharap ujung jalan ini tak ada. kita mencoba tak mengingatnya ada. tapi, sungguhkah pikiran bisa dibersihkan dari kenyataan? dan mata dari kepedihan? barangkali memang hidup harus dijalani. “…dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya”.

sementara diluar, kota bandung dirundung hujan. lagu “hujan bulan juni” –kenapa tidak gerimis saja– memberi aksentuasi nyeri pada ujung waktu di bulan mei ini, dengan “dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu“. akankah jejakku terhapuskan juga dari halaman hatimu, dindaku?

[3]

aku tak tahu selanjutnya harus mulai lagi dari serak atau luka yang mana. apalagi ini bukan hanya sekedar mimpi lagi. bukan tentang canda yang harus kita bumbui dengan tawa dan air mata. bukan tentang sajak yang lahir dari bercak cinta. bukan tentang tangisku dan dirimu. bukan pula tentang mata yang lain. tapi, ini bukan hanya tapi! bukan hanya...!

setidaknya, aku dan dirimu
memang tak punyasemacam alasan
untuk tanggalkan senyum!
mari bersama membuang murung!
mari melata menata desah
dalam amuk cinta!


dinda, kuyakin nasib kita berjalan dalam komposisi "broery - dewi yull". bukankah pernah kukatakan padamu tentang "rinduku terlarang? kau pun tersenyum waktu itu. kini ku tahu, memapasmu di separuh jalan, adalah menikmati kebersaatan yang menjadi abadi. ahh, jadi ingin kuberikan lagi pada telingamu lagu ini:

“sekian lama sudah kita telah berpisah/
kurasa kini engkau tak sendiri lagi/
akupun kini juga seperti dirimu/
satu hati telah mengisi hidupku//
tak perlu engkau tahu rasa rindu ini/
dan lagi mungkin kini kau telah bahagia/
namun andai kau dengar syair lagu ini/
jujur saja aku sangat merindukanmu//
memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu/
sebab kau tak lagi seperti yang dulu/
kendati berat rasa rinduku padamu/
biarkan kuhadang rinduku terlarang//
biar kusimpan saja/
biar kupendam sudah/
terlarang sudah rinduku padamu“.


ahh, itulah kisah kita, dinda. cintaku terindah, cintaku yang terlarang. tapi entahlah kalau menurut dinda, karena seberapa dahsyat bait kata ini menyentuhmu. aku tak tahu!

[4]

kalau saja bintang-bintang menyapa luka-luka yang terus merintih di dinding-dinding cinta, cita, pikiran dan rasa. jika langit hujan huruf-huruf yang tak usah kita eja lagi. di sini ada setumpuk do’a yang terus bergelayut mencari makna. menjadi kidung-kidung cinta yang terus menafsir semesta. adalah pertanyaan, tanyaku. “dinda, adakah "lima huruf" tanda cinta dalam hatimu?”

“ntahlah ka... dinda tak mau terjebak dan terjerembab dalam romantika ini. tapi mungkin juga iya, karena dinda pikir tidak ada persahabatan yang abadi antara laki-laki dan perempuan. tidak akan pernah ada, ka...! jadi tetap saja yang namanya ketertarikan antara lelaki dan perempuan itu pasti ada, termasuk kisah kita”.

dinda, kita sama-sama tahu, bahwa di balik selokan kerling yang kita suakan, ada luka sejarah yang menganga, membaluri perjalanan kita. begitu serut, getir dalam bayang, dan aku tak jua kunjung bisa membalutnya. bagiku keyakinan, dan bagimu ketabahan. aku sayang padamu di ‘teras nurani’ yang terbening. dinda, aku akan mencari "lima huruf" itu, dalam sesaat. setiap pagi, siang, senja dan malam, seperti yang telah kita lakukan selama ini. jadi, tolong buang saja ragumu itu…

“ka... dinda rasa ini salah. makanya dinda tak mau menikmatinya. tapi tak mau juga kehilangan. ntahlah, ka. dinda tak mau men’tuhan’kan cinta. bukankah kaka pernah berdendang akan hal itu?”

aku tergagap. mencoba menyelusuri bait perbait puisi “bilaku jatuh hati” yang pernah kulantunkan diujung waktu.

“allahu rabbi aku minta izin,
bila aku jatuh cinta pada seorang hambamu
jangan biarkan cinta untuk-mu berkurang
hingga membuat lalai akan adanya engkau

allahu rabbi..
izinkan bila sekarang aku jatuh hati
pilihkan untukku seseorang yang
hatinya penuh dengan kasih-mu
dan membuatku semakin mengangumi-mu

allahu rabbi…
seandainya kutetap jatuh hati juga
jangan pernah kau palingkan wajah-mu dariku
anugrahkan aku cinta-mu
cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
cinta yang tak mengenal ras dan suku
cinta yang akan menambah kekagumanku
hanya pada-mu.


kucoba memaknai ulang desahan nafas dari puisi itu. cukup lama. adalah puisi. adalah sajak untukmu. adalah cintaku. adalah kemuakanku. adalah kecemburuanku yang terus mengajari aku tentang air mata, luka, dan ringkih jiwa yang tak tertautkan. terserah bagaimana kau menilai.

“tapi ka, dinda tidak pernah menyesal telah mencintai kaka. dinda sayang sama kaka. bahkan sutu hari kelak... jika tuhan mengizinkan, dinda berharap bisa bertemu dengan kaka. tanpa berharap apapun dan tanpa menuntut apapun. karena yang terbaik adalah cinta sejati kita”.

lalu kau terdiam dan diam. suasana malam jadi sunyi dan mencekam. sesekali aku hisap rokok dan meneguk kopi yang masih hangat. "dinda, sebenarnya aku merasa sakit saat kau lontarkan kata-kata itu. karena aku juga memiliki dan menyimpan kisah dan harapan yang sama. walau tidak seutuhnya sama. hanya aku belum berani menceritakan harapanku itu pada siapapun. kecuali kepada diriku sendiri".

dan aku hanya bergumam sendiri dalam diri. "dinda, kita memiliki harapan yang sama. tak usah menyesal dan meratapi, kita tidak berhak untuk itu. bolehlah kita tersesat dalam pengembaraan ini, itu lebih baik, daripada kita tersesat tanpa sebuah pengembaraan. muara luka kita ini, yakinlah, suatu saat akan menjadi taman bermain yang indah. dan seharusnya kita belajar tersenyum. yakinlah bahwa kuasa tuhan kan mempertemukan kita”.

kau pun membisu dengan penuh ragu. “maafkan dinda, ka. dinda tak bermaksud menggurui kaka... adikmu pamit dengan membawa rasa sayangnya untuk kaka, dan mungkin cintanya”.

dinda, kau mungkin tak akan kudapat. ya, tak akan kudapat. aku hanya mengantarmu, sampai ke ujung waktu itu. tapi, aku akan terus ‘merebut’ hatimu, meski “entah kapan kau bisa kutangkap“. yang penting, aku telah melakukannya, dan itu bukan sesuatu yang sia-sia. karena aku tahu, “…cinta kita mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah“.

“dinda bahagia bisa mengenal kaka. merasakan keindahan itu. walaupun pada akhirnya harus kusimpan rapat-rapat rasa itu. biarlah kita saling memendam, kita tak berhak meluapkannya, karena “memang tak pantas mengkhayal tentang dirimu/ sebab kau tak lagi seperti yang dulu/ kendati berat rasa rinduku padamu/ biarkan kuhadang rinduku terlarang// biar kusimpan saja/ biar kupendam sudah/ terlarang sudah rinduku padamu”

[5]

“ka... kadang terbersit sekilas angan. kita bertemu tanpa sengaja dan... ahh... aku tak sanggup meneruskanya, ka! tak pantas dinda mengucapkannya. mengangankan sesuatu yang bukan haknya. walaupun hanya sekedar khayalan. tak ada nafsu disini, yang ada hanya kasih sayang, belai mesra yang dibalut oleh suasana yang romantis semata. pada akhirnya imajinasi dinda pun melayang...”

dinda, kaulah perempuan yang menjelma “bunga” di pagi hari, atau terkadang menjelma daun kering yang baru jatuh dari tangkai. dan mengeja ucapmu ini, aku merasa sedikit gila. barangkali memang sudah gila. entah... apakah hidup hanya sebatas harapan, kenangan dan permainan imajiner? akhir-akhir ini aku menjadi pemujamu. mem”berhala”kanmu siang dan malam. bahkan dalam tidur pun terimpikan. barangkali aku mencintaimu. tapi entah. karena aku sampai sekarang tidak mengetahui kenapa aku samapai memberhalakanmu dalam hidupku. yang pasti, ada segetar dalam jiwaku yang terus mendorongku untuk itu. sehingga aku tidak lagi peduli dengan rasionalitas. yang ada hanya bagaimana aku mengutuhkan diri!

dinda, setiap saat kau datang dan merasuk ke dalam benakku. menghiburku, merayuku, mengejekku, memarahiku, memanjaku, menciumiku, memelukku dan bahkan “menyetubuhi”ku. aku tidak bisa lagi menghindarinya, seperti burung yang terperangkap ke dalam sangkar. seakan kata-katamu itu serupa “sabda suci” yang harus dipatuhi. dan kaulah yang mengubahku menjadi seorang seniman, yang pandai melukis di dinding-dinding jalanan, yang pintar menyulam kata menjadi seuntai puisi, yang lihai membaca puisi dengan indah, dan yang mampu tersenyum dalam setiap tetesan air mata. ahhh....

[6]

“ka... dinda akan pergi. pergi dengan membawa cinta dan sayang ini di hati. biarkanlah rasa ini menjadi kenangan indah yang abadi. untuk kita, ka. semoga kita mendapatkan kembali kebahagiaan kita. namun sebelum langkah ini kian menjauh, ingin rasanya dinda mengulang kembali kata yang dulu sempat terlontar pada kaka;
“mungkin sayangku tak sebesar sayangnya, mungkin cintaku tak sebesar cintanya, mungkin rinduku tak segelora rindunya, tapi aku merasa bahagia ada yang memberikan rasa cinta yang begitu besar. lebih baik dicintai daripada mencintai”.


dinda… rasanya aku menjadi manusia terbodoh saat menilasi semua ungkap kepergianmu itu. aku insyaf, kau telah meng”hipnotis”ku. dalam ketaksadaran atas pesonamu itulah aku berani mendekatkan garis takdirku, menjajarimu. kumimpikan, suatu waktu, garis itu akan menyilang, bersinggungan, nasib kita bertemu. nyatanya, kamu bergerak lebih lekas, terlepas. jadi, jika memang kau harus pergi, pergilah…. karena aku tak akan mampu menahanmu. percuma, jangan paksa aku melupakanmu. karena dengan mengingatmulah aku merasa, ada satu fase dalam hidupku yang demikian bermutu. pergi, pergilah, debaran hatiku... maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu. "karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu".

kau cium tanganku dengan tak'zim. aku pun mengecup kening dan kelopak matamu. tanda kasih abadi yang tak luntur terhempas zaman. kau pun hanya tersenyum simpul dan menunduk. debar jantungku, telah kuikhlaskan engkau pergi. pergilah… tapi, sebelum langkahmu menjauh, tolong maafkan kesalahanku.

“iya ka! pada akhirnya kusadari... kita harus kembali ke dunia nyata, cinta suci kita, keluarga kita. aku tak mau ini terus berlanjut. akhiri sudah kisah ini. dinda hanya ingin bertemu kaka. dan kaka menyayangi dinda sebagai adik semata. itu aja!”

dinda, akan hal itu maafkan aku juga. aku yang sering menghubungimu tiba-tiba, hanya untuk mengatakan, “aku kangen kamu, kangen kamu…” percayalah, sebelum mengatakan itu, telah habis tenagaku untuk menahan gempurannya. tapi aku kalah. jadilah, di saat-saat yang barangkali tidak kamu sangka, aku mengucapkannya. kini kusadari, betapa hal itu pasti membuatmu jengah, malu pada sekitarmu. sehingga, selalu kamu berbisik, “aku tahu, ka. aku tahu…” ucapan yang pasti membuat semua gemuruh di dadaku punah. gempa yang kehilangan tenaga.

[7]

“ka, seandainya kita dipertemukan lebih awal, mungkin kita memang diberi jalan untuk dipersatukan. ya, andai saja kita masih sendiri, rasa cinta ini mungkin kan terbalaskan dan tersatukan dalam jalinan kasih sayang. dalam ikatan mahligai pernikahan”.

hmmm... itu pula yang aku dambakan darimu, dinda. membangun bahtera pernikahan. menjadikan pernikahan kita sebagai titian untuk belajar sabar dalam meniti ridho-Nya. dan bilamana akhirnya kita berdua bertemu, niscaya aku kan berucap “betapa maha besarnya Engkau, ya Alloh, karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna. aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat. dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah engkau tentukan".

namun dinda, itu hanya sebatas khayalan. karena pada akhirnya aku pun menyadari bahwa kita harus kembali ke dunia nyata, dunia yang menjadi pijakan langkah kita. aku sadar kalau semua itu hanyalah mimpi sesaat, mimpi di siang bolong, yang tersapu awan dan tertiup angin dengan cepat. kesadaran itu muncul atas pijakan bahwa “bunga mawar tak mungkin mekar dalam semalam, namun bisa layu dalam sedetik. kota baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap. perkawinan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat, namun bisa saja terberai dalam sesaat. pernikahan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, tapi awal dari sebuah langkah".

dindaku, pada akhirnya aku hanya bisa memandangi punggungmu yang berjalan kian menjauhiku. sampai kau menghilang dalam jangkauan mataku yang terbatas. aku hanya bisa menitikan air mata, dengan kepiluan. sakit yang merayap rembesan darahku, terasa sesak dan tercekat. hati seakan ingin berontak dan teriak, “jangan pergiii...”

dindaku, aku kan senantiasa berdo’a untukmu, semoga cita dan harapan yang selama ini diidamkan kan terkabul. termasuk pertemuan “nyata” kita. dengan penuh haru nan syahdu, kugagap melepas kepergianmu. tanpa air mata kulepas semuanya. tanpa mendesah ku berusaha tegar dibuatnya, namun kau pun tahu, apa yg ada dalam hatiku. perih rasanya mengurai pilu. lapat-lapat kudengar kau berucap;

“ka, simpanlah rapat-rapat rasa cinta kita...”

[8]

kulupakan hari-hari yang lewat
agar aku dapat hidup kembali di hari ini
kubuang puing waktu ke kuburannya yang paling rahasia
barangkali serahasia mimpi
yang ada kemudian hanyalah kesamaran
semakin samar
dan… hilang.


tapi dia tidak sepenuhnya hilang. gerimis yang tiba-tiba merintih pagi ini, yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku untuk selalu mengingatnya. kepedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk tetap bertandang.

“ka, aku senang kok sempat jadi hujanmu. makasih juga telah dibuatkan tulisan ini.”

ahhh, dinda... aku hanya bisa menulis, tak bisa berpuisi seperti pinta terakhirmu. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang “sempat” bisa jadi abadi, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu, tulisanku dapat membuat hujan mau tercurah selamanya.

“hujan akan selalu ada, ka. meski bukan dinda lagi. bukan dinda lagi… tapi kaka bisa ikhlas kan?”

bukan bisa. tapi harus. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. jika yang memintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan…

setiap sahabat adalah rahmat. setiap rahmat adalah harap, dan setiap harap pasti berjawab, kan? dan harapan itu adalah cintaku, tidak bicara tentang keabadian, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan. mensyukuri dengan meyakini, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahmu yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku harus mampu berterimakasih dengan meski….

[9]

alam memang contoh terbaik dari keajaiban. jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar air mata. pelan-pelan, aku patrikan hal itu di benakku. aku ikhlaskan dia pergi, tanpa sesal, tanpa pedih. aku kenang semuanya dengan tawa, ucap syukur, dan rasa lega, seperti keleluasaan rasa yang hinggap saat pertama kali ku sapa dirinya di alam maya.

berjalanlah, kasihku, dindaku. aku tak memberatimu lagi. karena seperti katamu, engkau tetap akan pergi, kini atau nanti. bergeraklah, raihlah kegembiraanmu. yakinlah, dari tiap sujud sempurnaku, akan tetap lahir doa-doa terbaik tempaan ribuan tahun, yang memanteraimu, menjagamu, agar tetap bahagia, seperti saat sebelum engkau denganku berjumpa....

* * * *

bandung, 27 mei 2010, pukul 5.29 wib
kupersembahkan hanya untukmu...

Selasa, 25 Mei 2010

Sejati itu ada....




Aahhh… Dinda, aku menyayangimu lebih dari apa yang mampu terbayang dalam imajinasi. Sejuta bait yang kutuliskan pun tetap tak bisa menampung apa yang kurasa. Dan itu membuatku hidup, lalu mengasihinya. Kalaulah ada sikapku yang seolah mengingkarinya, tak lain hanyalah ketakutanku akan kehilangan anugerah ini... Toh bagaimanapun elak sadarku, cinta kan selalu bermuara di antara dua hal; “harapan dan kekuatiran”.

Harapan yang menjadikan aku memiliki gairah dalam menata setiap detail paraghraf hidupku, dan kekuatiran yang membuat egoku memuncak, sebab aku ingin dirimu tanpa pernah berbagi dengan yang lain. Tapi itu karena aku juga telah mengalirkan keberadaanku seperti itu. Peduliku telah kuasingkan dari yang semua, sebab ia hanya untukmu. Tak ada waktuku yang terlepas dari mengingat dirimu. Dan itu terus kuhayati dalam diam dan riuhku.

Dindaku.. pada akhirnya, aku mengerti.. bahwa inilah jalanku untuk menyayangimu. Jika masih tersisa labil di kenangmu, benamkanlah ia. Biarkan aku yang merangkumnya. Mungkin itu akan menjadikanku hidup dalam ingatmu. Adapun segala prasangka yang kadang mendera, lepaskanlah agar menjadi bunga.. Sebab, kelak, akan kita dapati, bahwa segala telah membuat kita percaya; cinta sejati itu ada dalam kita.

Jumat, 21 Mei 2010

Lagu [stempel] Komunis



Enak juga ini musik hehehe... Sebagai gambaran sederhana atas realita kehidupan manusia. Ini lagu berasal dari daerah Banyuwangi, sama halnya dengan “Bubuy Bulan” dari daerah Sunda, atau “Gundul-Gundul Pacul” dari Jawa Tengah. Lagunya bagus dan musiknya sederhana, tapi kanapa dilarang? Apa karena [dianggap] bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI)? Yayaya.....

Emang kalau ini ada unsur PKI-nya kenapa? Memang salahnya PKI apa? Apakah karena telah melakukan “pemberontakan” Gestok? Bukankah PKI hanya “korban dramatisasi politik” semata? Bukannya aksi “genocida” yang dilakukan kepada (orang yang diduga) PKI telah menumpahkan jutaan darah, mereka dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke Pulau Buru selama bertahun-tahun. Sementara keluarganya dibiarkan telantar dan didiskriminasi bertahun-tahun.

Sejarah bangsa Indonesia masih diselimuti kegelapan, terlebih dengan sejarah yang berkaitan dengan G30S/PKI tahun 1965. Apa sebenarnya yang terjadi saat itu masih kelam. Sementara “tokoh kunci” yang kita harapkan mampu mengungkap kasus tersebut sudah berpulang ke pangkuan Tuhan (Soeharto). Biarkan dia pulang dengan tenang, tapi kita selaku pewaris peradabannya, jangan bertingkah yang sama; memberangus sebuah karya sastra dan menutup akan fakta sejarah.

Terserah ada yang mau bilang lagu ini lagu PKI, tapi menurut hemat saya, lagu ini adalah Seni! Lagu yang asyik, lagu yang sederhana, bercerita tentang penderitaan orang desa yang bertahan hidup dari jurang kemiskinan! Polosnya mereka jauh dari rasa apatis, politis, ambisius dan rasa arogan.

Lagu “Genjer-Genjer” sebenernya tidak ada unsur PKI-nya. Soalnya lagu ini dibuat pada tahun 1942, untuk menceritakan penderitaan rakyat dibawah penjajahan Jepang, yang untuk bertahan hidup saja, rakyat sampai harus makan genjer yang waktu itu dianggap sebagai gulma (tanaman pengganggu). Tapi sayang, karena lagu ini [dianggap] dekat dengan kaum komunis, jadi ikut dianggap sebagai unsur PKI.

Lagu “Genjer-Genjer” digubah oleh M. Arief, pada masa pendudukan Jepang ketika masyarakat Banyuwangi mengalami krisis pangan hebat. Sebelum zaman Jepang masyarakat Banyuwangi mengenal genjer hanya sebagai pakan bebek. Nah, karena krisis pangan, genjer menjadi pangan alternatif. M. Arief mengenal sayur genjer dari istrinya yang bukan orang Banyuwangi. Jadi, tafsir Genjer-genjer yang berdarah-darah itu hanya rekayasa Orde Baru. Lagu-lagu M. Arief banyak yang merupakan kritik sosial seperti: “Sekolah atau Lurkung”

Inilah arti sebenarnya dari lagu Genjer-Genjer tersebut:
Genjer-genjer tumbuh liar di selokan/
Ibu datang mencabut genjer/
Dapat sekarung lebih tanpa ragu/
Genjer sekarang bisa dibawa pulang//
Genjer pagi-pagi dibawa ke pasar/
Dijajar dan dibeberkan di lantai/
Si Ibu beli genjer ditaruh di tas/
Genjer-genjer sekarang akan diolah//
Genjer-genjer dimasukkan ke panci air panas/
Setengah matang ditiriskan untuk lauk/
Nasi sepiring sambal di tempat tidur/
Genjer-genjer dimakan dengan nasi//

bukit berbunga