<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Twitter

Selasa, 23 Februari 2010

Gumam Retak


Ratapan Luka, Bicaralah! Terkadang kita lupa bahwa di sekitar kita ada nafas yang mengerang gelisah. Dan aku merasakan basahnya air mata yang menetes sepanjang peristiwa. Entah dengan kalian! Masihkah mulut-mulut mengunyah makna kerinduan, kemuakan, kejijikan, bahkan cinta? Atau bagaimana benak dan bayang-bayang ‘hitam’ kita menghentikan tanya yang terbuncah dari tanya tanya?
Tiba-tiba aku tersentak oleh bentak sunyi yang menyorotiku dengan perih di setiap langkah. Haruskah aku menangisi kalian yang terus berteriak memanggilku. Dan aku memilih ‘memati’ di kamar yang penuh dengan jendela-jendela kejemuhan. Adalah di mana angin menyampaikan berita tentang semua. Adalah kepekatan. Adalah Air mata pikirku yang tak akan bisa kau hentikan.
Dan sekedar angkuhku meneguhkanku. Tanpa jari-jemari yang mengelus jiwaku. Biar pun awan di luar sana mengancam bencana bagi hidupku. Atau aku dan kamu, kalian, memang sama-sama angkuh untuk mengarungi samudra harapan buta.
Aku bukan takut menoleh, apalagi mampir menghitung mimpi-mimpi kalian, kamu, bahkan malamku tak tertambatkan. Jujur saja aku benci. Biarkanlah langkahku untukku. Jangan kau usik dengan beribu aroma yang tak pernah membuatku tertarik. Apa yang kau tawarkan di malamku telah membusuk di tahun-tahun yang lalu. Adalah di mana aku harus memuntahkan segalanya. Kini aku tak percaya dengan dongeng-dongenmu.
Entah, seberapa dahsyat kata-kata busuk ini. Kalau saja bintang-bintang menyapa luka-luka yang terus merintih di dinding-dinding cinta, cita, pikiran dan rasa. Jika langit hujan huruf-furuf yang tak usah kita eja. Di sini ada sekarung doa yang terus bergelayut mencari makna. Menjadi kidung-kidung yang terus menafsir semesta. Adalah pertanyaan, tanyaku.
Biar aku hitung berdasarkan abjad-abjad. Atau aku memang menentang matamu yang biru. Sudah cukup jauh aku bercanda dengan imaji, intuisi dan pikiran yang kau suguhkan dikala matahari terbit. Dan sudahlah lama aku menerima cerita busuk malam yang terus menodongku dengan pekat.
Adalah puisi. Adalah sajakmu. Adalah cintaku. Adalah kemuakanku. Adalah kecemburuanku yang terus mengajari aku tentang air mata, luka, dan ringkih jiwa yang tak tertautkan. Terserah bagaimana kau menilai. Atau jika aku mati kau baru tertawa. Teruslah…
Kini aku tak bisa mengakhiri. Apalagi sekuntum bunga menjadi duri di setiap jejakku. Dan aku membuangnya tapi tak melupakannya. Biarlah yang menjijikkan ini menjadi jalan setapak menuju samudranya sendiri.
Aku tahu kehidupan tak ada kesimpulannya. Salahkah bila mata air memancar tanpa kita harapkan. Biar dahagaku mencium tangismu. Atau apakah setiap sesuatu pasti ada sebabnya?
Jalan MU…
Di tapak malam, mengugunkan luka
Senja di ujung kemuakanku
Membuncah,
Menjadi sungai yang menuju pada samudranya
Jalanku, jalanku, … aaah aku.

Tidak ada komentar: