<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Twitter

Jumat, 01 Juli 2011

TUHAN TAK PERLU DI BELA!

Proses menemukan Tuhan, seperti aliran air, tidak berhenti, terus mengalir, bersama ritme kehidupan manusia yang senantiasa berubah,dan bergerak dinamis. Namun usaha ini dilumuri ego manusia yang seolah-olah lebih tahu dari Tuhan. Akhirnya, proses menemukan dan menghayati Tuhan berubah; memperdebatkan Tuhan, mengurusi Tuhan bahkan berdarah-darah karena Tuhan—meminjam ungkapan Karel Amstrong—The Batle for God?

Dengan logika yang sederhana sekali, fenomena di atas tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Tuhan yang menciptakan dan mengurusi manusia, dibalik menjadi; manusia mengurusi Tuhan? Jika kita yakin bahwa Tuhan Mahabesar, Mahakuat, Mahamengetahui, Mahamemaksa, Mahakuasa, dan maha-maha yang lain, dengan kesimpulan yang sederhana pula, Tuhan tidak perlu “diurusin”, “diributin”, atau—sabda Gus Dur—Tuhan tidak perlu dibela!

Kita tidak perlu mendifinisikan Tuhan dengan epistemologi yang “njilmet”, sampai kulit dahi berkerut dan berdenyit, atau berdebat, hingga seluruh urat leher menggelembung. Jangan-jangan Dia sekarang terkekeh-kekeh, karena—menurut Malin Kundera—Manusia berpikir Tuhan pun tertawa! Dan jangan-jangan Dia sekarang terkekeh-kekeh ketika ada yang berpendapat, “Tuhan Tidak Beragama”, lantas seseorang berusaha, “Mencari Agama Tuhan” dan yang lain berpendapat cukup menggelikan, “Tuhan telah Mempunyai Agama”. Lantas apa bedanya Tuhan dengan manusia jika masih dilihat memiliki dan tidak memiliki agama? Apakah nanti ada sebutan Tuhan yang atheis (tidak bertuhan), Tuhan theis (bertuhan), Tuhan musyrik (polytheis), Tuhan bertauhid (monotheis) dst? ckckck...



----------------------------------

09 Maret 2011 jam 23:45

Tidak ada komentar: