<< Humanis - Kritis - Transformatif - Praxis >>

  • RSS
  • Delicious
  • Facebook
  • Twitter

Twitter

Sabtu, 12 Juni 2010

terjebak dalam angin kembara


entah harus kumulai dari perjalanan kisah cerita ini, dari mana harus kurangkai kata-kata terindah yang ingin kuungkap dan kucurahkan sebagai jawaban atas segala tanyamu, sebagai penenang untuk semua resah dan gelisahmu, sebagai air tuk puaskan dahagamu, sebagai obat untuk kerinduanmu... semuanya membingungkan dan tak jelas... sebingung hatiku yang tak tentu arah tujuan, terseret terjatuh dalam angin kembara
terjebak dalam angin kembara.

mengurai makna,
melanglang buana keujung dimensi,
dehidrasi kalam...
air hanyalah fatamorgana...
hakikat diri itu ghoib.
batu, dan semuanya itu ghoib
semuanya hilang, nol.......


berawal dari sebuah pertanyaanmu, kau berharap aku menilai semua tentang dirimu menurut pandangan diriku..walau ku masih tak mengerti arah dan tujuan pertanyaan mu. “kaka pengen mendapat gambaran yang utuh tentang sosok diri kaka dalam persepektif dinda?“

aku tergagap sungguh, pertanyaan yang membuatku bungkam, aku hanya bisa membisu. seandainya dia tahu, aku merasa seperti berada dipersimpangan tanpa arah petunjuk, hanya berdiri kebingungan. aku tak tahu harus menjawab apa.

“dinda, andai dinda tahu, tidak mudah bagi kaka untuk mencintai seseorang yang tidak pernah ada di samping kaka, tidak pernah dapat melihat perkembangan hidup kaka, tidak pernah melihat saat kaka tertawa karena gembira, saat kaka menangis karena sedih, dan tidak pernah ada disisiku ketika kaka mendapat cobaan terberat dalam hidup”.

akhirnya kau pun berucap, pilu dan sayu, seperti remuk redam nya hatimu...
“namun kaka tidak dapat membunuh dan mengubur dalam-dalam rasa yang tumbuh subur dalam hatiku... rasa yang selalu bergelora untuk dinda, saat ini, detik ini, ntah esok hari atau lusa... mungkin dulu kaka sempat mencoba untuk melupakan dan membungkus rapi rasa itu tanpa pernah kaka membunuhnya... tapi pada akhirnya... rasa dalam hati kaka terus memberontak bahkan "dia" dapat menghancurkan bungkusan yang rapi itu.... dan sekarang rasa itu hidup dengan bebas dalam hati kaka. tahu kah dinda pada siapa rasa itu kaka curahkan?”

aku hanya diam mematung seperti arca tanpa nyawa, seperti lukisan hilang sukma... “aku tau ka.. aku tau jawabanya..kurasakan kepiluan hatimu dan aku pun meringkih menahan pedih”

“semua yang kaka lakukan bukan tanpa refleksi, dan bukan berangkat dari ruang yang kosong. tapi semuanya telah melalui pergulatan hati yang cukup lama.... itu saja dindaku! kalaupun sekarang dinda mau pamit, pergilah. selamat malam...”

kau mencium keningku dengan penuh kasih dan sayang...

duuh..kata-katamu, begitu menusuk relung jantungku, sedalam itukah “rasa“ yang kau miliki pada dinda? adakah... adakah rasa yang sama seperti yang kau miliki untuku?.
kucoba mencari dan memaknai “seberapa tajam geletar itu dan seberapa dahsyat rasa itu?”. seperti juga yang kaka katakan pada dinda. duuh aku tak menemukanya sebegitu besar rasa sayangmu sebegitu dalam cinta yang kau miliki, aku hanya bisa berguman dilubuk hati,

“maafkan dinda, maafkan dinda, ka...! sungguh aku tak bisa membalas kasih yang kau berikan dan cinta yang kau miliku untuk dinda seorang... walau inginku, inginku... sangat, membalasnya!”

dalam hati aku meratap. “ya, hanya bisa dalam hati ku berucap... terlalu pengecut aku untuk jujur, terlalu lemah ku untuk bicara..., aku takut ucap dan jawabku menjadi pedang yang menusuk jantungmu sementara bibirku tersungging senyum.... karena, terkadang jujur itu sangat menyakitkan ka..., maafkan aku.. karena aku tak mau kehilanganmu…”

aku kembali mengenang pertanyaanmu, “jujurlah dinda, apa dinda juga merasakan hal yang sama...rasa dari lima huruf yang selalu kaka cari dari matamu dan dari setiap desah suara dan nafasmu..?”

lagi-lagi aku terpaku, diam dan hanya membisu, jika diam adalah emas dan jika emas berati adalah isyarat seorang gadis, maka kupilih diam itu, walaupun akhirnya kau bertanya ”apakah ‘diam’nya dinda berarti ‘iya“?

aku cuma bisa menjawab dengan membisu, walau bisuku antara ‘iya dan tidak’ biarlah kusimpan rapat-rapat dan kukubur kuburan rahasia terdalam ku, agara kau tetap menyimpan rasa penasaran itu, dan aku tak merasa jengah jika harus menatap tajam mata sihirmu. akhirnya kau memaklumi walau harus menyimpan sejuta tanda tanya untuk ku dan menyimpan sejuta harap jawaban dariku. sungguh, aku merasa menjadi orang yang munafik kali ini.... aku hanya meyakinkan diri dan sebenarnya malu tuk mengakui...
biarlah kusimpan rapat-rapat dan kukubur kuburan rahasia terdalam ku, agara kau tetap menyimpan rasa penasaran itu, dan aku tak merasa jengah jika harus menatap tajam mata sihirmu...

cinta?
hmm.. terasa indah bila dirasa..
namun, kadang juga sakit menyapa
kenapa?
karena cinta itu meminta......
meminta apa?
timbal -balik..
jika tiada, maka sakit dirasa...



diawal kisah kita sudah berkomitmen untuk menjaga persahabatan ini, dan komitmen itu yang aku pegang sampai sekarang.

“bagi kaka komunikasi yang dijalin atas dasar silaturahmi begitu juga persahabatan yang didirikan atas dasar kejujuran adalah harga mati!”

begitu juga dinda ka... “mencintaimu karena allah. saling mencintai karena allah...”
itu yang selalu dinda pegang komitemn diawal, walau pada akhirnya kenyataan tak sesuai yang diharapkan dan ada hal yang tak wajar kita rasakan, dinda kan mengarahkannya kedalam rasa persaudaraan.. sebagai adik kaka.. selain itu kuniatkan dalam diri, jika pun melenceng maka kucoba luruskan kembali. “maafkan dinda ka..lagi-lagi aku memohon meminta maafmu...”

jadi jika kemudian ada sesuatu yang salah, dinda tak pernah berharap itu terjadi. dinda sudah meyakini diri bahwa ditengah rasa hausku yang mencapai titik kulminasi akan kasih sayang seorang kaka, maka kau adalah embun itu, kau adalah tetes mata air itu....oase yang memberi aku kehidupan...

jika hatimu terpaut padaku
dalam rasa yang begitu besar
dan sungguh aku tak sanggup membalasnya
aku hanya bisa menerima kasih mu dan menitipkan diri....
aku tau kau pasti kecewa,sedih dan terluka menganga..
aku merasa berdosa.........
ingin kupenuhi harapmu jika aku mampu...


aku ingin berbagi dipundak mu agar lelahku kulepaskan, dan aku bersedia memberikan bahuku untuk menjadi sandaran mu agar beban mu terhilangkan. maka, kupaksa aku tuk merasakannya. kucoba maknai seberapa dahsyat rasa itu,

cinta , hanyalah permainan hati
hormon-hormon kimia tubuh yang aktif
mungkin suatu hari kelak
jika saatnya tiba.......
saat tubuh mulai mengkerut
dan kecantikan tlah pudar....
dunia hanyalah godaan
wanita cantik juga kan menjadi tua
kulit nan indah bercahaya.
pudar suram makna
berkerut dalam kikisan usia
dipenghujung waktu penghabisan
cinta pun hilang lenyap dalam kekang zaman


seberapa besar hormon itu bergolak dalam diriku, seberapa pengaruh body chemistry saling menyesuaikan, seberapa sama frekwensi itu. frekwensi kita ternyata memang sama, saling menerima, namun aku drop, tak ada supply energy dari mu...tak ada aura yang saling bertukar, yang ada hanya gelombang alfa dan beta ,energy pikiran kita saling mempengaruhi... menembus kedalaman ruang dan waktu didunia maya...hilang sekat diantara kita.

duuh....
inikah cinta terlarang?
inikah rindu yang tak semestinya
rinduku terlarang....
rinduku bukan haknya...
rinduku salah tempat dan berpijak


* * *

by: 3.4.5.
02 Juni 2010, jam 15:34

Tidak ada komentar: